Akhir pekan ini, Kampung Yobeh yang berada di sebuah pulau kecil dan hanya sepelemparan batu pesisir Danau Sentani itu ramai dikunjungi wisatawan. Semua larut dalam sukacita pesta rakyat yang menjadi inisiatif masyarakat adat. Itulah saatnya menunjukkan potensi kampung serta berbagai budaya Sentani.
Kampung Yobeh masuk ke dalam wilayah Distrik Sentani yang merupakan ibu kota Kabupaten Jayapura, Papua. Pulau ini dihubungkan oleh jembatan kayu sekitar 120 meter dari daratan utama Sentani.
Sudah sejak dulu, kampung ini menjadi salah tempat menikmati matahari terbenam di sekitar Danau Sentani. Keelokan ini bersanding dengan Pegunungan Cycloop yang seakan memeluk danau purba ini.
Di sisi lain, ada cerita yang jarang diketahui publik. Yobeh yang merupakan kampung tua telah menyimpan berbagai kekayaan Sentani. Salah satunya adalah cerita tentang Tifa yang disebut terbuat dari kulit manusia. Alat musik perkusi tua itu dibuat oleh para leluhur masyarakat Sentani.
Namun, ini hanya sebagian kecil dari beragam kekayaan lain yang disuguhkan dalam pergelaran bertajuk “Pesta Rakyat Masyarakat Adat Kampung Yobeh”. Berturut-turut, Jumat-Sabtu (31/7/2026-1/8/2026), pesta ini menjadi sukacita bagi semua orang.
Layaknya pesta, berbagai kemeriahan disuguhkan. Pesta itu diawali dengan kemeriahan tarian Isolo (biasa juga disebut Isosolo atau Isoro).
Tarian ini menceritakan sukacita masyarakat Sentani dalam menyambut musim panen. Jumat sore itu, tarian di atas perahu ini juga menjadi sukacita bagi orang-orang yang berdatangan dan memeriahkan pesta rakyat di Yobeh.
Dari atas jembatan kampung, pengunjung menyaksikan dan mendokumentasikan keriuhan pementasan. Dari atas perahu, masyarakat adat terus menari sembari mengantar matahari tenggelam ke ufuk barat.
Ketika matahari terus jatuh ke sisi barat dan air danau air semakin jingga membawa ketenangan. Sementara itu, keagungan Pegunungan Cycloop mengawal keelokan yang terasa damai ini.
Bisa dibilang, itu suguhan yang terasa mahal. Kekayaan budaya Papua berpadu dengan keelokan alam Sentani.
“Akhir pekan setelah seminggu kerja dilepaskan di sini. Lokasinya dekat rumah, tidak perlu jauh-jauh,” kata Awaliah (24), pengunjung yang datang dari pusat kota Sentani.
Setelah disambut Isolo, kekayaan lain di dalam kampung sudah menanti. Melewati jembatan, ada beragam pameran foto-foto keindahan kampung dan alam Sentani lainhya. Foto-foto ini karya dari fotografer lokal Papua seperti Engel Wally hingga Gusti Tanati.
Masuk ke dalam lebih jauh, berbagai gerai yang didirikan di depan rumah untuk memamerkan kekayaan lain dari Sentani. Ada alat masak, makan, berburu, hingga hingga berbagai pernak-pernik yang juga bisa dibeli oleh pengunjung.
Tak ketinggalan ada demo masak dari juru masak kawakan Papua, Charles Toto atau chef Chato. Kepada masyarakat lokal dan pengunjung, Chef Chato menyajikan nasi goreng yang terbuat dari beras sagu dipadukan dengan ulat sagu.
Sementara itu, masyarakat adat juga menyuguhkan berbagai kudapan khas dari pangan lokal Sentani. Ada papeda, sagu bakar, hingga ulat sagu bakar.
“Menikmati alam sambil kulineran pangan lokal Papua. Sekalian bisa mengenalkan kuliner enak ini kepada yang lain,” ujar Ardiles (33) pengunjung datang dari Kota Jayapura.
Kemeriahan yang dinikmati pengunjung menjadi sukacita masyarakat adat. Bagi masyarakat adat, ini momentum untuk memanggungkan kekayaan alam dan budaya mereka.
Ondofolo Kampung Yobeh Bernard Felle (53) mengatakan, pesta rakyat telah dinantikan oleh masyarakat adat. Pemimpin adat tertinggi Yobeh ini merasa bangga semua orang larut dalam sukacita yang sama.
Sejak tiga bulan lalu, lanjut Bernard, masyarakat adat telah mempersiapkkan pesta adat yang pertama kali diadakan ini. Kendati tak mendapat dukungan dari pemerintah daerah, masyarakat terus bergerak.
“Masyarakat adat sangat semangat. Ada atau tidak bantuan dari pemerintah daerah kami tetap jalan. Ini semua berkat swadaya masyarakat dan ada beberapa sponsor dari luar yang mau bantu,” ucap Bernard.
Masyarakat adat sangat semangat. Ada atau tidak bantuan dari pemerintah daerah kami tetap jalan. Ini semua berkat swadaya masyarakat dan ada beberapa sponsor dari luar yang mau bantu.
Dari pesta rakyat ini, lanjut Bernard, masyarakat adat juga meyakini dampak ekonomi yang akan dirasakan. Hal ini membuat masyarakat semakin sadar dan percaya diri dengan potensi yang dimiliki di kampung.
Apalagi dalam beberapa tahun terakhir, turis mancanegara semakin rutin datang untuk melihat kekayaan ini. Dahulu, turis mancanegara hanya mendatangi kampung-kampung tertentu.
“Sekarang masyarakat mulai sadar dan percaya diri untuk mengenalkan potensi kami. Tahun ini, April lalu, ratusan turis asing sudah datang. September ini, akan ada lebih 100 turis asing lagi mau datang. Ini sukacita bagi kami,” katanya.
Sukacita ini pun menjadi kabar baik ketika masyarakat adat semakin berdaya dari alam dan budaya yang mereka jaga. Ini seharusnya menjadi pengingat bagi semua, pesta dari kampung perlu terus didukung agar semakin kekayaan alam dan budaya Papua yang menjadi sukacita bersama.






Komentar (0)