Sisi Lain Spider-Man: Kita Semua Pernah Menjadi Peter Parker

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Hari ini saya baru saja keluar dari bioskop setelah menonton Spider-Man: Brand New Day. Awalnya, saya mengira akan pulang dengan membicarakan adegan aksi, kostum baru, atau musuh yang kali ini dihadapi Spider-Man. Namun, yang justru terus tinggal di kepala saya bukanlah pertarungan-pertarungan spektakuler yang memenuhi layar lebar. Yang saya bawa pulang adalah sosok Peter Parker. Mungkin karena semakin bertambah usia, cara kita menikmati sebuah film juga berubah. Dulu kita datang untuk mencari hiburan, sekarang kita datang tanpa sadar mencari jawaban. Kita mencari cermin yang memantulkan kehidupan kita sendiri. Dan entah mengapa, di balik topeng Spider-Man, saya justru melihat begitu banyak wajah orang-orang dewasa—termasuk diri saya sendiri.

Saya mulai menyadari bahwa film ini bukan sekadar kisah tentang seorang superhero yang menyelamatkan dunia. Film ini berbicara tentang sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan kita: bagaimana rasanya menjadi dewasa. Selama ini kita sering menganggap adulthood sebagai fase ketika seseorang sudah memiliki pekerjaan, penghasilan, rumah, atau keluarga. Padahal, menjadi dewasa ternyata bukan tentang apa yang kita miliki, melainkan tentang apa yang harus kita tanggung. Menjadi dewasa berarti belajar hidup berdampingan dengan hal-hal yang tidak pernah diajarkan ketika kita masih kecil: kesepian yang datang tanpa diundang, pengorbanan yang tidak selalu dihargai, dan rasa bersalah yang tidak pernah benar-benar hilang. Dalam diri Peter Parker, saya menemukan tiga hal itu: loneliness, sacrifice, dan guilt.

Kesepian adalah pelajaran pertama yang diam-diam diajarkan adulthood. Dulu saya berpikir kesepian berarti tidak memiliki teman. Ternyata bukan itu. Kesepian justru bisa hadir ketika kita masih dikelilingi banyak orang. Semakin bertambah usia, lingkaran pertemanan perlahan mengecil. Bukan karena kita bertengkar atau saling membenci, tetapi karena hidup membawa setiap orang menuju jalan yang berbeda. Ada yang sibuk mengejar karier, ada yang membangun keluarga, ada yang pindah ke kota lain, dan ada yang diam-diam sedang berjuang menghadapi persoalannya sendiri. Obrolan yang dulu berlangsung hingga larut malam berubah menjadi pesan singkat yang dibalas beberapa hari kemudian. Pertemuan yang dulu begitu mudah kini harus disesuaikan dengan kalender yang penuh. Tidak ada yang salah. Hidup memang sedang berjalan.

Di film itu, Peter Parker mengalami sesuatu yang bahkan lebih menyakitkan. Orang-orang yang paling ia cintai tidak lagi mengingat siapa dirinya. Memang itu terjadi karena mantra Doctor Strange. Namun, jika kita mengesampingkan unsur fantasinya, bukankah perasaan itu terasa begitu nyata? Ada saat-saat dalam hidup ketika kita masih mengingat seseorang dengan sangat jelas, tetapi kita sadar bahwa kita mungkin tidak lagi memiliki ruang yang sama dalam kehidupannya. Bukan karena hubungan itu gagal. Bukan pula karena ada kebencian. Waktu saja yang telah mengubah segalanya. Dan mungkin itulah bentuk kesepian yang paling sunyi: bukan ketika kita sendirian, melainkan ketika kita menyadari bahwa kenangan tetap tinggal, sementara manusia terus melanjutkan hidupnya.

Di titik itulah saya mulai memahami bahwa Spider-Man dan Peter Parker sebenarnya adalah dua sosok yang berbeda. Spider-Man adalah pahlawan yang dikenal dunia. Ia menyelamatkan orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya. Ia mendapat tepuk tangan, penghormatan, dan rasa terima kasih. Namun ketika semua itu selesai, Peter Parker tetap pulang ke apartemen kecilnya. Ia tetap makan sendirian. Ia tetap kehilangan orang-orang yang dicintainya. Ia tetap memikul beban yang tidak diketahui siapa pun. Spider-Man mendapat pengakuan, tetapi Peter Parker belajar hidup bersama kesunyian. Kontras itu terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang dewasa. Kita semua memiliki "Spider-Man" dan "Peter Parker" di dalam diri kita. Ada versi diri yang dilihat dunia—profesional, kuat, tenang, dan selalu mampu menyelesaikan masalah. Namun ada pula versi diri yang pulang ke rumah dalam keadaan lelah, mempertanyakan keputusan-keputusan hidup, menyimpan kehilangan, dan sesekali menangis tanpa ingin diketahui siapa pun. Orang mengenal pekerjaan kita, jabatan kita, pencapaian kita, tetapi belum tentu mengenal manusia di balik semua peran itu.

Selain kesepian, adulthood juga mengajarkan tentang pengorbanan. Ketika masih muda, saya pernah berpikir bahwa setiap pengorbanan akan dibalas dengan penghargaan. Nyatanya, banyak pengorbanan yang bahkan tidak pernah diketahui orang lain. Ada orang yang menunda mimpinya demi membiayai pendidikan adiknya. Ada yang menerima pekerjaan yang tidak dicintainya demi memastikan keluarganya tetap dapat hidup layak. Ada yang selalu terlihat baik-baik saja di kantor, padahal setiap malam ia harus berjuang menghadapi kecemasan atau kehilangan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Begitulah hidup. Tidak semua pengorbanan mendapat tepuk tangan. Sebagian besar hanya menjadi cerita yang kita simpan sendiri.

Peter Parker memahami itu lebih baik daripada siapa pun. Salah satu momen yang paling membekas bagi saya adalah ketika ia memilih untuk tidak memperkenalkan dirinya kembali kepada MJ dan Ned. Ia memiliki kesempatan untuk mengembalikan semuanya. Ia bisa saja berkata, "Aku Peter. Aku adalah orang yang pernah kalian kenal." Namun ketika melihat mereka menjalani kehidupan yang lebih baik, ia memilih untuk pergi. Bukan karena ia berhenti mencintai mereka. Justru karena ia masih mencintai mereka. Adegan itu menyadarkan saya bahwa pengorbanan terbesar sering kali bukan tentang kehilangan sesuatu yang kita miliki, tetapi tentang memilih melepaskan sesuatu yang paling kita inginkan demi kebaikan orang lain. Dan ternyata, menjadi dewasa sering kali berarti membuat pilihan-pilihan yang tidak pernah terasa adil bagi diri sendiri.

Lalu ada satu hal yang menurut saya paling manusiawi dari Peter Parker: rasa bersalah. Hampir setiap kehilangan dalam hidupnya selalu ia anggap sebagai akibat dari pilihannya sendiri. Ia hidup dengan pertanyaan yang mungkin juga pernah kita tanyakan kepada diri sendiri: Bagaimana kalau waktu itu aku mengambil keputusan yang berbeda? Bagaimana kalau aku datang lebih cepat? Bagaimana kalau aku melakukan sesuatu yang lain? Saya rasa hampir setiap orang dewasa pernah hidup bersama pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Ada penyesalan yang muncul karena tidak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang telah pergi. Ada rasa bersalah karena merasa belum memberikan yang terbaik kepada keluarga. Ada keputusan yang hingga hari ini masih kita pertanyakan. Yang menarik, Peter Parker tidak pernah benar-benar sembuh dari rasa bersalah itu. Ia hanya belajar berjalan sambil membawanya. Dan mungkin, itulah yang juga dilakukan oleh banyak dari kita. Kita tidak benar-benar sembuh dari semua luka. Kita hanya menjadi lebih pandai hidup berdampingan dengannya.

Di tengah semua itu, saya kembali teringat pada kalimat yang menjadi jiwa dari Spider-Man selama puluhan tahun: "With great power comes great responsibility." Dulu saya memahami kalimat itu secara sederhana: siapa yang memiliki kekuatan harus menggunakannya untuk menolong orang lain. Setelah menonton film ini, maknanya terasa jauh lebih dalam. Power ternyata bukan hanya tentang kemampuan super. Power adalah ilmu yang kita miliki, jabatan yang kita emban, kepercayaan yang diberikan kepada kita, atau bahkan kesempatan kecil untuk membuat hidup orang lain menjadi sedikit lebih baik. Dan setiap kali hidup memberi kita lebih banyak kemampuan, hidup juga meminta lebih banyak tanggung jawab. Semakin besar peran yang kita jalani, semakin banyak pula hal yang harus kita korbankan. Mungkin inilah mengapa menjadi dewasa sering terasa melelahkan. Bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena setiap tanggung jawab selalu datang bersama harga yang harus dibayar.

Saat berjalan keluar dari bioskop, saya akhirnya memahami mengapa Spider-Man selalu terasa berbeda dibandingkan superhero lainnya. Kita mungkin mengagumi Superman karena kekuatannya. Kita mungkin mengagumi Batman karena keberanian dan kecerdasannya. Namun kita mencintai Spider-Man karena di balik topeng itu ada Peter Parker—seorang manusia biasa yang juga merasa takut, merasa kesepian, harus berkorban, dan hidup bersama rasa bersalah. Spider-Man menyelamatkan dunia. Tetapi Peter Parker mengajarkan kita bagaimana bertahan ketika dunia tidak selalu berpihak kepada kita.

Dan bukankah, pada titik tertentu dalam hidup, kita semua pernah menjadi Peter Parker? Pernah merasa kesepian di tengah keramaian. Pernah harus melepaskan sesuatu yang sangat kita cintai. Pernah dihantui rasa bersalah atas keputusan yang sudah berlalu. Pernah pulang dalam keadaan lelah, lalu tetap bangun keesokan harinya untuk menjalani hidup seolah semuanya baik-baik saja. Mungkin itulah adulthood yang sesungguhnya. Bukan tentang menjadi semakin kuat atau semakin sukses. Melainkan tentang tetap memilih menjadi manusia yang baik ketika hidup berkali-kali menguji kita dengan kesepian, pengorbanan, dan rasa bersalah.

Pada akhirnya, hidup mungkin tidak pernah meminta kita menjadi Spider-Man. Hidup hanya meminta kita menjadi Peter Parker,menjadi manusia biasa yang tetap memilih melakukan hal yang benar, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang mengetahui perjuangan di baliknya. Dan mungkin, itulah bentuk kepahlawanan yang paling dekat dengan kehidupan kita.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Barcelona Kembali Gagal Beli Striker Baru, João Pedro Teken Kontrak Baru, Vlahovic Harapan Terakhir?
• 7 jam lalu
0
thumb
Febrie Adriansyah Potres Penahanan, Tak Nyaman di Ruang Tahanan?
• 19 jam lalu
0
thumb
Man City vs Inter Milan: Disaksikan Puluhan Ribu Penonton dan Beri Dampak Positif untuk Ekonomi Hong Kong
• 8 jam lalu
0
thumb
Krisis Migran Ceuta: 22 Negara Eropa Serukan Pertemuan Darurat Menteri UE
• 20 jam lalu
0
thumb
Lautan Putih di Monas Jakpus, Ribuan Warga Hadiri Zikir dan Doa Kebangsaan
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.