Dian Nugroho (28) kembali mengingat pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia pada beberapa tahun silam. Pada 2021, Dian baru saja lulus dari Pendidikan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret (UNS).
Kala itu, pandemi memaksa banyak perusahaan mem-PHK karyawannya. Lapangan pekerjaan semakin sempit.
Namun, segala keterbatasan saat itu jadi titik balik bagi Dian. Alih-alih meratapi sulitnya lapangan kerja, Dian memilih kembali pulang ke kampung halamannya di Desa Joho, Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Dian lalu memanfaatkan sisa uang beasiswa Bidikmisi sebesar Rp 1 juta untuk merintis usaha batik yang ia beri nama Batik Kalimasada. Dari sendirian, kini Dian sudah bisa mempekerjakan sebanyak tujuh orang.
"Nama Kalimasada itu kan diambil dari kalau di pewayangan itu kan Jamus Kalimasada, di pewayangan itu kan mengambil dari kalimat syahadat gitu," kata Dian melalui sambungan telepon, Minggu (2/8).
Nama itu, menurut Dian, sebagai penanda bahwa usaha batik ini memang diikhtiarkan dan dijalankan dengan sungguh-sungguh dengan harapan dapat memberikan kebermanfaatan yang luas.
Dimulai Seorang DiriBerbekal uang sisa beasiswa, Dian memulai usahanya seorang diri. Modal utamanya saat itu adalah kenekatan. Sejak dahulu dia memang ingin punya usaha batik, karena menilai batik asal Wonogiri memiliki kekhasan tersendiri.
"Selain alasan sulit mencari pekerjaan tadi itu, juga karena saya melihat di Wonogiri kan sebenarnya ada potensi batik, di daerah Wonogiri itu punya ciri khas sendiri. Menangkap hal itu untuk saya kembangkan," katanya.
Di sisi lain, Wonogiri menurut Dian bukan daerah pembatik seperti di Laweyan, Solo. Sehingga usaha ini benar-benar harus dirintis dari nol.
"Saya punya pikiran gimana caranya batik itu bisa dipakai anak muda, tidak momen-momen formal kaya njagong (kondangan), kayak acara-acara kayak gitu, tapi bisa dibuat daily. Saya ke-trigger-nya kayak gitu karena saya melihat marketnya pasarnya itu kayanya waktu itu belum, enggak ada kayak gitu loh di Wonogiri sendiri yang marketkan seperti itu," tuturnya.
Bermodal sebagai sarjana bidang seni, Dian mulai membatik sendiri. Usahanya memang sejak awal dimulai dari rumah untuk menghemat ongkos sewa tempat.
Pada 2021 itu, teman SMP Dian baru saja pulang dari merantau. Teman itu jadi orang pertama yang Dian ajak membatik. Dian mengajarinya dari nol hingga bisa membatik.
"Setelah saya ngajak temanku, temanku ngajak kenalannya juga, teman sekolah, teman nongkrong kayak gitu," katanya.
Pada 2021, banyak pemuda Wonogiri yang merantau kembali ke kampung halaman karena pandemi.
"Terus ya udah kita ya itu teman-teman tak ajak, terus tak latih sendiri, terus ngembangin usaha itu," katanya.
Manfaatkan Media SosialSadar dengan modal yang terbatas, Dian memutuskan memasarkan produknya melalui media sosial. Selain itu, lokasi rumah Dian berada jauh di perbatasan Wonogiri dengan Ponorogo, Jawa Timur.
"Saya menyadari juga daerahku kan jauh ya. Itu kan kalau ke kota itu kita hampir 1 jam, ke Wonogiri kota," katanya.
Tak disangka, pemasaran melalui media sosial ternyata justru bisa menjangkau lebih banyak pembeli. Penjualan jadi tidak terpaut dengan jarak.
"Kalau mau bikin ruko atau sewa ruko kan belum punya modal lebih kayak gitu," katanya.
Bisa Pesan MotifSelain batik luwes dipakai di berbagai acara, Dian mengatakan salah satu keunggulan produknya adalah pelanggan bisa pesan motif.
"Jadi kita customer itu mau request motif apa pun bisa tak layani kayak gitu," katanya.
Sehingga tidak ada cerita, batik pelanggannya sama dengan orang lain saat menghadiri suatu acara.
"Karena latar belakang dari seni rupa itu jadi kalau gambar ya insyaallah bisa gitu mau request motif apa gitu, yang penting jelas kayak gitu kan mau gambar gimana. Jadi kebanyakan itu sebenarnya customer kita kayak gitu, pesen-pesen request atau buat seragam atau buat pribadi kayak gitu," ujarnya.
Antarkan Dian Mendapat Beasiswa S2Selain memberikan keuntungan secara bisnis, Batik Kalimasada ini juga menorehkan banyak prestasi di berbagai lomba. Selain itu, ia juga rutin memberikan edukasi tentang batik kepada khalayak luas.
"Di Wonogiri itu kita berani untuk mengedukasi. Jadi kayak buat workshop kayak gitu loh," katanya.
Batik ini juga membawa Dian lanjut S2 dengan beasiswa jalur pelaku budaya.
"Terus kemarin tuh saya juga membawa batik itu kan buat daftar beasiswa," katanya.
Kini, Dian telah rampung menempuh pendidikan S2 Tata Kelola Seni di ISI Yogyakarta.
Ke depan, Dian berharap usahanya bisa dipasarkan semakin luas lagi. Dia akan mengoptimalkan pemasaran di media sosial. Pengaruh media sosial menurut Dian saat ini begitu besar.
"Bisa menarik wisatawan dari luar negeri sampai sini buat belajar batik itu kan juga dari sosial media," katanya.
"Ya harapanku bisa ngembangin ini ke depan terus berkembang terus semakin berdampak juga kayak, terus banyak orang itu mengenal batik. Maksudnya selain saya menjual produk, tapi juga saya itu mengedukasi itu," katanya.
"Ya semakin orang semakin tahu (batik) sih biar mengenal budaya kita gitu," pungkasnya.






Komentar (0)