Sarasehan Kebudayaan MPR RI bertema 'Budaya dan Identitas Tau Samawa' menghadirkan diskusi mendalam mengenai identitas masyarakat Sumbawa terbentuk dan dipertahankan di tengah perubahan zaman.
Kegiatan yang difasilitasi Wakil Ketua Badan Penganggaran MPR RI, Johan Rosihan ini menghadirkan budayawan Iqbal Sanggo dan akademisi Rusli Cahyadi sebagai narasumber.
Johan menyampaikan MPR RI memandang kebudayaan sebagai bagian penting dari penguatan karakter bangsa. Karena itu, ruang-ruang dialog seperti sarasehan kebudayaan perlu terus dihadirkan agar nilai-nilai lokal dapat didokumentasikan, dikaji secara ilmiah, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
"Keberagaman budaya merupakan kekuatan bangsa Indonesia. MPR RI berkepentingan agar nilai-nilai lokal seperti yang dimiliki masyarakat Tau Samawa terus hidup dan menjadi bagian dari pembangunan karakter kebangsaan," ujar Johan dalam keterangannya, Minggu (2/8/2026).
Dalam paparannya, Rusli menjelaskan identitas Tau Samawa atau penduduk asli Suku Sumbawa, bukanlah identitas yang bersifat statis ataupun semata-mata diwariskan karena kelahiran.
Mengacu pada penelitian antropolog Peter R. Goethals mengenai Desa Rarak di Sumbawa, identitas dipahami sebagai proses sosial yang terus dibangun melalui keterlibatan seseorang dalam kehidupan masyarakat.
"Penelitian Goethals menemukan sedikitnya dua belas indikator yang menunjukkan seseorang benar-benar menjadi bagian dari komunitas, mulai dari hubungan kekerabatan, kepemilikan tanah, keterlibatan dalam pertanian, aktivitas keagamaan, hingga partisipasi dalam kewajiban sosial seperti ronda, pembayaran pajak, dan keterlibatan dalam kehidupan adat. Keseluruhan unsur tersebut menunjukkan bahwa identitas budaya lahir dari praktik hidup sehari-hari, bukan sekadar status administratif," jelasnya.
Rusli juga mengangkat konsep lokal 'Satama Djiwa dalam Karang Nyenan', yaitu ungkapan yang menggambarkan seseorang telah 'memasukkan jiwanya' ke dalam komunitas. Konsep ini menunjukkan penerimaan sebagai bagian dari masyarakat diperoleh melalui pengabdian, keterlibatan, dan pengakuan sosial, sehingga identitas budaya merupakan sesuatu yang terus dinegosiasikan dalam kehidupan bersama.
Sementara itu, Iqbal menyebut kebudayaan Tau Samawa tidak boleh dipandang hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk membangun masa depan.
Menurutnya, nilai gotong royong, penghormatan terhadap adat, religiusitas, dan solidaritas sosial merupakan modal budaya yang harus diwariskan kepada generasi muda agar tetap relevan menghadapi tantangan globalisasi.
"Modernisasi bukan alasan untuk meninggalkan identitas lokal. Sebaliknya, masyarakat perlu menjadikan kebudayaan sebagai fondasi dalam membangun karakter sekaligus memperkuat daya saing daerah di tengah perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat," paparnya.
Sebagai informasi, sarasehan tersebut diikuti oleh 150 peserta berasal tokoh masyarakat, akademisi, budayawan, mahasiswa, serta pegiat budaya, dan diharapkan menjadi titik awal lahirnya kajian-kajian lanjutan mengenai identitas budaya Tau Samawa sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan nasional.
(prf/ega)






Komentar (0)