Grid.ID - Seorang gadis ABG dibakar mantan pacar di Nabire. Pelaku ternyata masih di bawah umur dan takut hubungannya dibocorkan ke orang tua.
Gadis remaja berinisial CK (15) tewas dengan kondisi tragis di Nabire, Papua Tengah. Jasadnya ditemukan dalam kondisi mengalami luka bakar dari bagian kepala hingga badan di kawasan Jalan Waroki, dekat Pantai Naikere, Nabire pada Kamis (30/7/2026).
Berikut kronologi gadis ABG dibakar mantan pacar di Nabire. Pelaku ternyata masih di bawah umur dan takut hubungannya dibocorkan ke orang tua.
Dikutip dari Instagram @infojayapura_sentani, seorang remaja perempuan berinisial CK (15) yang ditemukan meninggal dunia dengan kondisi jasad terbakar di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, kini mulai menemukan titik terang.
Polres Nabire berhasil mengamankan seorang terduga pelaku berinisial A (14) kurang dari 1x24 jam setelah jasad korban ditemukan di kawasan Jalan Waroki, dekat Pantai Naikere, pada Kamis (30/7) sekitar pukul 20.00 WIT.
Dalam proses identifikasi, pihak kepolisian sempat mengalami kendala karena bagian wajah korban mengalami luka bakar. Identitas korban akhirnya dipastikan melalui sidik jari, koordinasi dengan Disdukcapil, serta keterangan dari pihak keluarga.
Penyidik juga mengungkap bahwa salah satu petunjuk penting diperoleh dari rekaman CCTV yang memperlihatkan korban bersama seorang remaja pria sebelum peristiwa tragis tersebut terjadi. Saat ini, kasus masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut untuk mengungkap motif dan kronologi kejadian.
Polisi berhasil mengungkap rangkaian peristiwa di balik kasus pembunuhan yang menewaskan CK setelah menangkap terduga pelaku.
Berdasarkan hasil penyelidikan, korban dan pelaku diketahui pernah menjalin hubungan asmara sejak Mei 2026. Selama berpacaran, keduanya disebut sempat melakukan hubungan layaknya pasangan suami istri sebanyak satu kali.
Hubungan tersebut kemudian berakhir setelah berjalan sekitar dua bulan. Pada Juni 2026, pelaku memutuskan untuk mengakhiri hubungan karena diketahui tengah menjalin kedekatan dengan perempuan lain.
Korban yang mengetahui alasan sebenarnya di balik keputusan tersebut merasa tidak terima. Ia kemudian mengancam akan memberitahukan perbuatan pelaku kepada orang tuanya.
Ancaman tersebut membuat pelaku merasa takut jika tindakannya diketahui oleh keluarga. Dari situlah muncul niat pelaku untuk menghilangkan nyawa korban.
Pelaku kemudian menghubungi korban melalui pesan WhatsApp dan mengajaknya bertemu pada Kamis malam, 30 Juli 2026.
Keduanya akhirnya bertemu di sekitar lokasi kejadian. Sebelum pertemuan itu, pelaku telah membawa sejumlah barang, yakni satu botol minyak tanah dan sebilah pisau dapur yang disimpan di jok sepeda motornya.
Saat berada di tempat yang sepi, pelaku sempat berusaha menyerang korban menggunakan pisau. Namun, korban berhasil melarikan diri dari upaya tersebut.
"Sebelum pembunuhan terjadi, A sempat berusaha menikam korban, namun korban berhasil melarikan diri," kata Kompol Piter dikutip dari Tribunpapua.
Pelaku kemudian kembali meyakinkan korban hingga akhirnya korban bersedia mengikuti ajakannya menuju kawasan Jalan Poros Waroki. Setibanya di lokasi yang minim aktivitas, pelaku mendorong korban dari arah belakang hingga korban terjatuh.
Setelah itu, pelaku melakukan tindakan kekerasan dengan mencekik leher korban hingga korban tidak berdaya. Ketika korban sudah dalam kondisi tidak bergerak, pelaku kemudian menyiramkan cairan minyak tanah yang sebelumnya dibawa menggunakan botol bekas air mineral, lalu membakar tubuh korban.
Usai melakukan aksinya, pelaku meninggalkan lokasi. Sementara itu, jasad korban ditemukan oleh warga pada Kamis pagi.
Kompol Piter menyampaikan bahwa Polres Nabire berkomitmen untuk mengusut secara menyeluruh kasus pembunuhan berencana tersebut yang dinilai sebagai tindakan kejahatan yang sangat serius. "Meski pelaku masih tergolong di bawah umur, proses hukum dipastikan berjalan tegas dan terbuka tanpa kompromi demi keadilan bagi korban dan keluarganya," ucapnya.
Keluarga korban bersama sejumlah kerabat mendatangi kantor Polres Nabire pada Jumat siang (31/7/2026). Mereka datang dengan membawa satu harapan utama, yakni meminta keadilan serta hukuman maksimal terhadap pelaku.
Baca Juga: Kronologi Pria di Surabaya Curi Motor Tetangga Kos, Dibawa ke Banyuwangi Lalu Dikembalikan Gegara Tak Bisa Dijual
Ibu kandung korban, Ria Tandi, terlihat tidak mampu membendung rasa kehilangan yang begitu mendalam. Dengan suara bergetar dan tangisan yang pecah, sang ibu menangis histeris mengenang kepergian putrinya yang meninggal dalam kondisi tragis.
"Saya punya anak yang mati. Jangan coba-coba bilang saya tenang," teriak Ria di tengah dekapan sanak saudaranya yang berusaha menenangkan di Halaman Polres Nabire.
Ia menuntut agar pihak kepolisian segera mempertemukan keluarga dengan pelaku.
"Cepat kasih lihat orang itu (pelaku) ada di mana. Jangan coba-coba kasih bebas nanti dia mati. Cepat kasih tunjuk dia," ucapnya histeris.
Kapolres Nabire, AKBP Samuel D Tatiratu menegaskan pihaknya untuk menegakkan keadilan tanpa ada hal disembunyikan.
"Yang memutuskan kasus ini terakhir adalah pengadilan, bukan kepolisian. Artinya, perbuatan pidana ini kita sesuaikan dengan prosedural untuk bagaimana penanganan awal, karena pelaku masih di bawah umur tapi bukan berarti kita berlindung di undang-undang," kata AKBP Samuel, Sabtu (1/7/2026).
Ia meminta keluarga korban dan seluruh warga untuk mengawal proses hukum ini dengan sabar, jujur, dan dewasa.
"Silakan nanti keluarga bisa menggunakan pengacara kalau memang kurang puas. Pada prinsipnya hukum itu akan mengalir sebagaimana mestinya."
"Saya tidak akan tutupi kasus ini. Sekali lagi saya mohon berikan kami kesempatan untuk melaksanakan penyidikan ini, dan kita berharap perkara ini dapat tertangani sebagaimana mestinya," ujarnya. (*)
Artikel Asli





Komentar (0)