Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) antara Amerika Serikat dan China semakin memanas. Di tengah semakin banyak perusahaan AS yang beralih menggunakan model AI buatan China, OpenAI justru memangkas harga sejumlah model andalannya hingga 80%.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya mempertahankan daya saing di tengah meningkatnya popularitas model AI China yang menawarkan biaya lebih murah. Pemangkasan harga berlaku untuk model entry-level dan menengah milik raksasa AI asal Amerika Serikat, OpenAI agar tetap menarik bagi kalangan bisnis.
OpenAI memastikan strategi banting harga ini tidak akan menggerus profit perusahaan. Menurut perusahaan, efisiensi teknologi terbaru membuat biaya operasional jauh lebih rendah sehingga harga dapat ditekan tanpa mengorbankan keuntungan.
- China Kasih Peringatan Keras ke Amerika, Ancam Pembalasan Penuh
- Perusahaan Bisa Bangkrut Kalau Pakai AI, CEO Microsoft Sudah Ingatkan
- AS-China Minggir, Muncul Calon Raja Baru AI-Mau Bangun 7 Gigafactory
Melansir Reuters, Minggu (2/8/2026), OpenAI memangkas biaya model GPT-5.6 Luna hingga mencapai 80%, sedangkan model Terra dipangkas sebesar 20%. Sementara itu, harga untuk model Sol tidak mengalami perubahan.
Kebijakan ini memungkinkan pengguna dari kalangan bisnis membayar biaya yang jauh lebih murah untuk setiap satu juta token saat menggunakan platform AI tersebut.
Menurut Reuters, biaya input pada model Luna kini turun menjadi US$0,20 per satu juta token dari sebelumnya US$1. Sementara itu, biaya input model Terra dipangkas dari US$2,50 menjadi US$2.
Pemotongan harga juga berlaku untuk biaya output. Luna kini dibanderol US$1,20 dari sebelumnya US$6 per satu juta token, sedangkan Terra turun dari US$15 menjadi US$12.
Meski demikian, OpenAI memastikan kebijakan ini tidak akan mengganggu kinerja keuangan perusahaan. Perusahaan mengeklaim tetap bisa meraih keuntungan karena model-model tersebut kini mampu menyelesaikan pekerjaan dengan biaya operasional yang jauh lebih rendah.
Penurunan harga dimungkinkan berkat peningkatan efisiensi GPT-5.6, terutama dalam kemampuan mengoptimalkan kode dan meningkatkan performa selama proses pengembangan internal.
Kebijakan OpenAI ini juga sejalan dengan pandangan para petinggi industri teknologi yang menilai harga terjangkau menjadi faktor penting untuk mempercepat adopsi AI secara luas. Langkah tersebut sekaligus menjadi respons atas semakin banyaknya perusahaan AS yang mulai menggunakan model AI buatan China, seperti Zai dan DeepSeek.
Rekan peneliti di John L. Thornton China Center dari lembaga think tank Brookings Institution, Kyle Chan mengatakan, model AI China kini semakin menarik bagi perusahaan-perusahaan AS karena menawarkan efisiensi biaya di tengah mahalnya penggunaan model buatan Amerika.
"Sebelumnya, perusahaan-perusahaan AS hanya memprioritaskan adopsi AI. Namun kini, mereka jauh lebih sadar akan biaya yang harus dikeluarkan," katanya, dikutip CNBC International.
Meski demikian, meningkatnya penggunaan model AI asal China oleh perusahaan-perusahaan AS menuai kekhawatiran di Washington. Bahkan, dua komite di DPR AS dikabarkan tengah menyelidiki fenomena tersebut.
"Maraknya penggunaan model AI China oleh perusahaan-perusahaan AS menimbulkan kekhawatiran serius," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS. "Model-model AI tersebut dirancang untuk memajukan narasi Beijing, menyensor perbedaan pendapat, serta mencerminkan ideologi dan nilai-nilai Partai Komunis China," ujarnya menambahkan.
(luc/luc)





Komentar (0)