Warga Poris Gaga Menumbuhkan Budaya Baru Mengelola Sampah

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Pagi itu, Sabtu (1/8/2026), halaman Kantor Kelurahan Poris Gaga, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang, Banten, terlihat sibuk dengan aktivitas warga. Sekitar 70 warga yang terbagi dalam beberapa kelompok sedang berlomba merakit komposter berbahan dua galon bekas air mineral. Sebagian peserta melubangi dinding galon untuk menciptakan sirkulasi udara, sebagian lain memasang keran di bagian bawah sebagai saluran pembuangan air lindi, sementara anggota kelompok lainnya mempercantik komposter dengan cat warna-warni. Pelatihan yang digelar itu bertujuan untuk mengubah cara masyarakat memperlakukan sampah rumah tangga.

Kegiatan itu merupakan bagian dari program edukasi pengelolaan sampah yang digagas Yayasan Veritas Edukasi Lingkungan bersama Yayasan Sahabat Multi Bintang, Wahu Waste Hubs, dan Iemahkai Industri Kreatif. Melalui pendekatan yang praktis dan menyenangkan, penyelenggara berharap warga tidak hanya memahami pentingnya memilah sampah, tetapi juga mampu mengolahnya langsung dari rumah.

”Inilah langkah awal agar sampah dari setiap rumah tidak berakhir di sungai. Kampanye kami sederhana, yaitu menjaga sungai tetap bersih dengan mengelola sampah sejak dari sumbernya,” ujar Cahyono Perdana, inovator lingkungan sekaligus pendiri Iemahkai Industri Kreatif.

Warga merakit galon air mineral untuk dijadikan komposter.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Warga melubangi galon air mineral untuk dijadikan komposter saat mengikuti pelatihan pemilahan sampah.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Warga menyiapkan tempat pemilah sampah.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Menurut dia, kesulitan dalam mengedukasi tentang pengelolaan sampah adalah mengubah kebiasaan di dalam masyarakat. ”Jadi melalui kampanye ini kami ingin menciptakan kebiasaan baru, dari yang awalnya hanya mampu membuang sampah pada tempatnya, sekarang mampu memilah dan mengelola sampah sesuai dengan klasifikasinya,” ujar Cahyono.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan memanfaatkan sampah organik rumah tangga menjadi kompos menggunakan komposter sederhana yang dibuat dari dua galon bekas air mineral. Cairan hasil pengomposan atau air lindi dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair, sedangkan kompos padat dapat digunakan sebagai campuran media tanam.

Sementara itu, sampah anorganik yang telah dipilah, seperti botol plastik, kantong plastik, kemasan sachet, hingga kaleng minuman, tidak lagi dianggap sebagai limbah yang harus dibuang. Sampah-sampah tersebut dapat dijual ke Wahu Waste Hubs sehingga memiliki nilai ekonomi.

Wahu Waste Hubs merupakan perusahaan yang berfokus mengedukasi warga untuk menukar sampah plastik rumah tangga menjadi saldo uang tunai instan digital (e-wallet). Menurut City Operational Lead Wahu William Reforman, dalam sebulan Wahu Hub yang berada di Superindo Cipondoh menerima sekitar 1 ton sampah terpilah dari warga sekitar termasuk Poris Gaga.

”Saat ini kami sedang membuat kampanye code referral, di mana kolektor (pelanggan) lama yang berhasil menggaet kolektor baru akan kami beri Rp 15.000, semacam teman bawa teman. Itu salah satu cara kami untuk menambah sampah plastik,” ujar William.

Wahu memberikan harga Rp 10.000 per kilogram (kg) untuk kaleng minuman, untuk kantong plastik dan saset sampo Rp 2.500 per kg, dan Rp 4.500 per kg untuk botol air mineral dan galon air minum sekali pakai.

Dalam kegiatan yang diikuti oleh sekitar 70 warga Kelurahan Poris Gaga itu, peserta diajari cara memilah sampah dan membuat alat komposter dari dua galon bekas air mineral. Peserta yang hadir merupakan perwakilan dari 4 RW di Poris Gaga, seperti kader PKK, pengurus posyandu, perwakilan RT dan pekerja sosial masyarakat (PSM) Poris Gaga.

Komariyah (53), pekerja sosial masyarakat asal RT 002/RW 005, mengaku pelatihan tersebut membuka wawasannya mengenai pentingnya memilah sampah. Ia bertekad menerapkannya di rumah meski mengakui masih menghadapi tantangan untuk mengolah sampah organik menjadi kompos karena kesibukannya mendampingi warga.

”Ke depannya saya akan mulai memilah sampah seperti yang diajarkan di sini. Untuk membuat kompos dari sampah dapur memang masih cukup sulit karena sebagian besar waktu saya habis membantu warga yang membutuhkan,” katanya.

Wilayah kelurahan Poris Gaga dipilih oleh Yayasan Veritas Edukasi Lingkungan sebagai target edukasi dan pelatihan karena sebelumnya di tempat ini kesadaran masyarakat masih rendah dan belum ada infrastruktur untuk memilah sampah. ”Kami pilih daerah ini dan memberi pelatihan tentang sistem pengolahan sampah yang lebih inovatif agar Poris Gaga lebih bersih,” kata Direktur Veritas Edukasi Lingkungan Benedict Wermter.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pernah Gagal Juara di Edisi 2021, Rizky Ridho Bertekad Bawa Timnas Indonesia Juara Piala AFF 2026
• 4 jam lalu
0
thumb
Perbedaan Wuling Aira ev Standard Range dan Long Range, Simak Perbandingannya!
• 26 menit lalu
0
thumb
Gaji Kepala Daerah Diusulkan Naik Setelah 26 Tahun Tak Mengalami Penyesuaian
• 20 jam lalu
0
thumb
Mahasiswa Bersih-bersih di Area CFD Bundaran HI, Ajak Warga Pilah Sampah
• 7 jam lalu
0
thumb
Mengenal Nama-Nama Profesi dalam Bahasa Mandarin- Xué Hàn Yu
• 16 menit lalu
0
Berhasil disimpan.