Harga Minyak Turun tapi BBM Tetap Mahal, Exxon & Chevron Ungkap Penyebabnya

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Harga bahan bakar minyak (BBM) dunia diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang meskipun harga minyak mentah mengalami penurunan. Terbatasnya kapasitas pengolahan minyak global menjadi penyebab utama kondisi tersebut.

ExxonMobil Holdings Corp dan Chevron Corp memperingatkan perang di Rusia dan Timur Tengah telah membuat kapasitas kilang minyak dunia berada dalam kondisi sangat terbatas.

Mengutip Bloomberg, Minggu (2/8), harga bensin, diesel, dan bahan bakar pesawat atau avtur biasanya bergerak mengikuti harga minyak mentah. Namun, hubungan tersebut mulai terputus karena banyak kapasitas kilang tidak dapat beroperasi atau tidak bisa memasok pasar global.

Chief Financial Officer (CFO) ExxonMobil Neil Hansen mengatakan hambatan terbesar dalam sistem energi saat ini justru berada di sektor pengolahan minyak.

"Titik kendala dalam sistem energi saat ini adalah pengolahan minyak," kata Hansen dalam sebuah wawancara.

Menurut dia, kondisi tersebut merupakan sesuatu yang mungkin belum sepenuhnya menjadi perhatian pasar.

Berdasarkan Melius Research, hampir 10 persen kemampuan dunia untuk mengolah minyak mentah secara efektif tidak dapat digunakan. Kondisi ini dipengaruhi Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup, berlanjutnya serangan Ukraina terhadap kilang-kilang Rusia, serta larangan ekspor China.

Akibatnya, kilang-kilang yang masih tersedia harus beroperasi dengan kapasitas sangat tinggi untuk memenuhi permintaan. Kondisi tersebut membuat produsen hampir tidak memiliki ruang untuk meningkatkan produksi BBM meskipun minyak mentah tersedia untuk diolah.

Situasi ini mendorong margin pengolahan BBM mencapai rekor tinggi. Kondisi tersebut menguntungkan pemilik kilang, tetapi pada saat yang sama meningkatkan biaya yang harus ditanggung konsumen.

Analis Goldman Sachs Neil Mehta mengatakan sektor pengolahan saat ini menjadi hambatan utama dalam rantai pasok minyak. "Pengolahan jelas menjadi hambatan dalam sistem perminyakan saat ini, dan marginnya sangat tinggi," ujar Mehta.

Harga Minyak Turun, BBM Masih Mahal

Fenomena tersebut terlihat di Amerika Serikat (AS). Harga rata-rata bensin telah naik hingga melampaui USD 4 per galon.

Harga bensin di tingkat konsumen saat ini hanya sekitar 10 persen di bawah level tertingginya pada Mei 2026. Padahal, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) telah merosot sekitar 26 persen dari level tertingginya sepanjang 2026.

Kondisi serupa terjadi pada diesel. Harga diesel di tingkat konsumen hanya turun sekitar 6 persen dari level tertinggi tahun ini, jauh lebih kecil dibandingkan penurunan harga WTI.

CEO Chevron Mike Wirth mengatakan tekanan paling besar saat ini terjadi pada kelompok bahan bakar distilat menengah atau middle distillates, yang mencakup diesel, bahan bakar pesawat, dan minyak pemanas.

Pasar bahkan berpotensi semakin ketat ketika negara-negara di belahan bumi utara mulai menambah persediaan minyak pemanas menjelang musim dingin.

"Saya kira kita akan melihat tekanan kenaikan pada harga produk memasuki kuartal III dan mungkin berlanjut setelahnya," kata Wirth.

Sementara itu, Senior Portfolio Manager Tortoise Capital Advisors Rob Thummel mengatakan pergerakan harga bensin mulai terlepas dari harga minyak mentah. Harga produk BBM kini semakin ditentukan oleh tingkat persediaan.

Kapasitas Kilang Dunia Makin Ketat

ExxonMobil memperkirakan tekanan tersebut masih akan berlangsung. Perusahaan yang mengoperasikan jaringan kilang terbesar di dunia di luar China itu memperkirakan sekitar 5 juta barel per hari kapasitas pengolahan minyak saat ini tidak dapat menjangkau pasar global.

CEO ExxonMobil Darren Woods mengatakan kesenjangan antara kapasitas kilang yang tersedia dan kebutuhan pasar belum pernah serendah saat ini.

Menurut dia, industri membutuhkan waktu untuk bisa keluar dari kondisi ini. Tingginya utilisasi kilang juga menunjukkan minimnya kapasitas cadangan. Kilang ExxonMobil di kawasan Gulf Coast AS beroperasi dengan tingkat utilisasi 95 persen pada kuartal II 2026.

Sementara fasilitas Chevron di AS beroperasi pada tingkat 97 persen. Shell bahkan mencatat tingkat operasi kilang sebesar 102 persen pada periode tersebut, meski perusahaan memperkirakan tingkat tersebut turun pada kuartal berikutnya karena pemeliharaan terjadwal.

CFO Chevron Eimear Bonner mengatakan ketidakpastian geopolitik semakin memperketat pasar energi dan menunjukkan pentingnya keandalan pasokan. Menurutnya, kapasitas cadangan yang selama ini mampu meredam volatilitas pasar juga semakin terkuras.

"Peredam guncangan yang sampai sekarang mampu mengurangi volatilitas terus terkikis," katanya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Leo/Daniel Juara Taipei Open 2026, Taklukkan Ganda Putra Malaysia Anak Didik Herry IP di Final
• 2 jam lalu
0
thumb
Vietnam Sampai di Cibinong untuk Hadapi Timnas Indonesia di Piala AFF 2026: Ada Doan Van Hau, Nguyen Xuan Son, hingga Nguyen Quang Hai
• 18 jam lalu
0
thumb
150 Unit Ambulance Diserahkan PT SB di Ajang GIIAS 2026
• 1 jam lalu
0
thumb
Akreditasi Perdana Langsung Raih Predikat Unggul, Prodi D-IV Manajemen Informasi Kesehatan Polimerz Torehkan Prestasi Gemilang di Usia Tiga Tahun
• 1 jam lalu
0
thumb
Setahun Berlalu Tragedi Pendopo Garut, Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Jabar Ungkap Harapan Mendalam
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.