Tanda Kiamat Muncul di Batang Pohon, Pakar Beri Peringatan

cnbcindonesia.com
10 jam lalu
Cover Berita
Foto: Batang kayu pohon Kamper. (Dok. lindungihutan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tanda-tanda kiamat karena pemanasan global semakin mengkhawatirkan. Para peneliti menemukan indikasi tersebut melalui analisis batang pohon yang menyimpan jejak perubahan suhu Bumi selama ribuan tahun.

Ulf Buntgen dari University of Cambridge bersama tim penelitinya meneliti perubahan suhu Bumi dalam kurun 2.000 tahun terakhir. Mereka menganalisis lingkaran pertumbuhan pada batang pohon, yakni pola cincin yang terlihat pada potongan batang, untuk merekonstruksi catatan suhu dari masa lalu

Hasilnya tahun 2023 lalu menjadi periode terpanas setidaknya dalam 2.000 tahun terakhir. Buntgen menjelaskan tren bakal terus berlanjut jika tidak ada tindak lanjut.


Pilihan Redaksi
  • Kiamat Driver Online Makin Dekat, Tandanya Muncul di AS
  • Jangan Kaget, Ternyata Burung Juga Masturbasi-Waspada Jika Terjadi Ini
  • Mitos vs Fakta Megathrust, Pakar Beri Jurus Selamat dari Gempa-Tsunami

"Melihat sejarah dengan sangat panjang, Anda bisa lihat betapa luar biasanya pemanasan global di periode sekarang. 2023 adalah tahun yang sangat panas, tren ini akan terus berlanjut jika gas rumah kaca tidak dikurangi secara besar-besaran," kata Buntgen, dikutip Minggu (2/8/2026).

IFL Science menuliskan besar lingkar pohon akan menggambarkan kondisi lingkungan yang dialami pohon pada periode tertentu. Misalnya pada area dengan sumber air berlimpah akan memperlihatkan perbedaan suhu satu tahun dengan tahun lainnya dengan lebih jelas.

Hasil analisa penelitian ini menunjukkan beberapa periode ekstrem dalam 2.000 terakhir. Misalnya cuaca paling dingin terjadi pada tahun 536, dengan suhu musim panas menunjukkan 3,93 derajat celcius lebih rendah dari tahun lalu.

Kenaikan temperatur awal revolusi industri juga jauh lebih rendah dari sekarang. Musim panas 2023 menunjukkan lebih panas 2,07 derajat celcius dibandingkan 1850 dan 1900.

Dari data tersebut membuat target kenaikan suhu yang ditetapkan Perjanjian Paris 2015 dan pengukuran keparahan menjadi tidak tepat. Perjanjian Paris menetapkan 2023 lebih panas 1,52 derajat celcius dari 1850-1900, namun Buntgen dan timnya menemukan jauh lebih tinggi mencapai 2,2 derajat celcius.

"Betul iklim selalu berubah, tetapi pemanasan pada 2023, yang disebabkan oleh gas rumah kaca dan diperparah oleh El Nino, menyebabkan gelombang panas dan periode kekeringan yang lebih panjang. Ini menunjukkan sangat penting untuk segera mengurangi emisi gas rumah kaca," kata Jan Esper dari Johannes Gutenberg University Mainz.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Intip Cara AI Bantu Bisnis Genjot Penjualan di e-Commerce

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jokowi: Kalau Ada Masalah di Antara Kader PSI yang Mentok, Silakan Datang Ke Solo
• 17 jam lalu
0
thumb
Sponsor Piala Presiden 2026 Tembus Rp70 Miliar, Hadiah Juara Dipastikan Naik
• 9 jam lalu
0
thumb
Kecelakaan Maut Minibus Tabrak Truk di Tol Cijago, 1 Orang Tewas
• 3 jam lalu
0
thumb
Respons Kejari Mojokerto soal Jenazah Eks Pegawainya Diekshumasi
• 31 menit lalu
0
thumb
Ada Diskon 50%+20%, Beli Kasur di Transmart Tidur Makin Nyenyak
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.