Pembuatan Silase Jerami Padi, Inovasi Pemanfaatan Limbah dan Dukung Peternak

kumparan.com
14 jam lalu
Cover Berita

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh Tim Universitas Padjadjaran melalui program “Pemberdayaan Kelompok Tani dan Ternak Melalui Inovasi Pascapanen Padi dan Pemanfaatan Limbah Jerami di Desa Bumiwangi, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung” menghadirkan solusi inovatif dalam pemanfaatan limbah jerami padi (Gambar 1).

Salah satu fokus utama kegiatan ini adalah pengolahan jerami menjadi silase, yaitu pakan ternak hasil fermentasi yang memiliki nilai nutrisi lebih baik dan daya simpan lebih lama. Inovasi ini menjadi alternatif penting untuk mengurangi limbah pertanian sekaligus mendukung ketahanan pakan bagi peternak.

Materi pelatihan disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. Iman Hernaman, M.Si., IPU., ahli nutrisi ternak ruminansia dan teknologi pakan dari Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran. Dalam materi pelatihan, dijelaskan konsep dasar pembuatan silase dari jerami padi, mulai dari pemilihan dan penyiapan bahan, hingga proses fermentasi.

Jerami yang digunakan sebaiknya dalam kondisi segar atau cukup basah, kemudian dicacah agar ukuran lebih kecil dan mudah difermentasi. Proses pencacahan ini juga berperan dalam meningkatkan luas permukaan bahan sehingga mikroorganisme fermentasi dapat bekerja lebih optimal dalam menguraikan serat jerami. Proses pencacahan menggunakan mesin pencacah seperti terlihat pada Gambar 2.

Tahapan pembuatan silase dilanjutkan dengan penambahan bahan pendukung seperti molase atau sumber gula lainnya, serta inokulan mikroba jika diperlukan. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah kedap udara yaitu drum, lalu dipadatkan untuk memadatkan bahan dan menghilangkan celah yang akan diisi oleh oksigen.

Kondisi anaerob ini sangat penting agar proses fermentasi berjalan dengan baik dan menghasilkan silase berkualitas, yang ditandai dengan aroma asam segar dan tidak berjamur. Proses pembuatan silase disajikan pada Gambar 3.

Selain proses pembuatan, peserta juga diberikan pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kualitas silase, seperti kadar air, kepadatan bahan, dan lama fermentasi. Umumnya, proses fermentasi berlangsung selama 14 hingga 21 hari sebelum silase siap digunakan sebagai pakan ternak. Tim juga menekankan pentingnya kebersihan dan ketelitian selama proses agar tidak terjadi kontaminasi yang dapat menurunkan kualitas hasil akhir.

Melalui kegiatan ini, kelompok tani dan ternak di Desa Bumiwangi memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam mengolah jerami padi menjadi produk yang bernilai tambah.

Pembuatan silase tidak hanya membantu menyediakan pakan ternak sepanjang tahun, tetapi juga mengurangi praktik pembakaran jerami yang berdampak buruk bagi lingkungan. Dengan demikian, program pengabdian ini menjadi langkah strategis dalam mendorong pertanian berkelanjutan berbasis inovasi teknologi sederhana dan aplikatif.

Oleh: Asep Yusuf, Wahyu K. Sugandi, Iman Hernaman - Universitas Padjadjaran


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sekolah Kedinasan 2026 Segera Dibuka, Link Pendaftaran Pindah ke SSCASN BKN, Ini Persiapannya
• 8 jam lalu
0
thumb
Kapal KM Mutiara Sentosa 2 Terbakar, Basarnas Cari 41 Korban
• 1 menit lalu
0
thumb
Respons Kejari Mojokerto soal Jenazah Eks Pegawainya Diekshumasi
• 1 jam lalu
0
thumb
Dua Laporan Polisi Jerat Vicky Prasetyo, Penyidik Telusuri Dugaan Penipuan hingga TPPU
• 7 jam lalu
0
thumb
Pelindo Operasikan Terminal 2 Petikemas, Perkuat Produktivitas Pelabuhan Tanjung Priok
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.