Jangan Abaikan Pemicu Serangan Jantung, Pembunuh Senyap Mendadak

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: ENGIN AKYURT
Daftar Isi
  • Dampak Gejala Ringan dan Pentingnya Bantuan Medis Cepat
  • Langkah Pertolongan Pertama pada Kondisi Henti Jantung
  • Faktor Risiko Utama Pemicu Serangan Jantung
  • Rekomendasi Pola Hidup Sehat untuk Menjaga Kesehatan Jantung

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan jantung menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia yang sering kali muncul secara mendadak tanpa peringatan awal. Kondisi ini dikategorikan sebagai *silent killer* karena mayoritas penderita tidak menyadari adanya masalah kesehatan pada jantung mereka hingga serangan fatal terjadi.

Penyakit ini berisiko merenggut nyawa korban hanya dalam hitungan menit apabila tidak mendapatkan penanganan medis secara cepat. Serangan jantung sendiri terjadi akibat tersumbatnya aliran darah menuju otot jantung oleh gumpalan darah atau penumpukan plak kolesterol pada dinding pembuluh darah.

Kondisi hilangnya aliran darah tersebut berisiko merusak hingga mematikan sebagian jaringan otot jantung secara permanen. Akibatnya, penderita akan mengalami gejala mendadak seperti nyeri dada, sesak napas, pusing, mual, hingga kehilangan kesadaran.


Tanda-tanda serangan jantung juga sangat bervariasi pada setiap individu dan bahkan bisa muncul tanpa gejala yang nyata. Kasus serangan jantung tanpa gejala khas ini paling sering ditemukan pada kelompok wanita serta penderita diabetes.

Kenali lebih lanjut dalam tulisan dikutip dari situs resmi IDI dan Dinas Kesehatan Pemprov Kalimantan Barat berikut.

Baca: Ini Tanda-tanda Kuning Kena Gangguan Ginjal
Dampak Gejala Ringan dan Pentingnya Bantuan Medis Cepat

Gejala awal serangan jantung yang tergolong ringan sering kali diabaikan karena dianggap sekadar kelelahan fisik atau gangguan pencernaan biasa. Padahal, rasa tidak nyaman di dada atau sesak napas tersebut dapat memburuk secara cepat menjadi kondisi darurat yang mengancam jiwa.

Dokter Fachrurrozy Basalamah mengimbau masyarakat untuk selalu mewaspadai tanda-tanda mencurigakan dan segera mencari bantuan medis. Dokter yang akrab disapa dr. Ozy ini menegaskan bahwa penerapan pola hidup sehat tetap merupakan hal esensial meski seseorang merasa sehat dan tidak memiliki riwayat penyakit jantung keluarga.

Langkah Pertolongan Pertama pada Kondisi Henti Jantung

Kondisi henti jantung terjadi saat organ jantung berhenti berdetak secara mendadak sehingga pasokan oksigen ke seluruh tubuh dan otak terputus total. Detak jantung korban harus segera dipulihkan melalui tindakan darurat demi menjaga peluang kelangsungan hidup.

Pemberian pertolongan pertama dapat dilakukan melalui teknik resusitasi jantung paru atau cardiopulmonary resuscitation (CPR) serta penggunaan alat automated external defibrillator (AED). Penekanan dada berulang pada teknik CPR berfungsi membantu memompa darah ke organ vital selama menunggu tim medis tiba di lokasi.

Akses pelatihan dasar CPR kini semakin luas di berbagai lembaga kesehatan guna mempersiapkan masyarakat menghadapi situasi darurat. Di samping itu, penyediaan fasilitas AED di tempat umum seperti pusat perbelanjaan dan bandara turut mempermudah pemberian bantuan keselamatan jiwa.

Baca: Hati-Hati! Gejala Seperti Ini Jadi Tanda Perlunya Alat Pacu Jantung
Faktor Risiko Utama Pemicu Serangan Jantung

Kemunculan serangan jantung dipicu oleh gabungan berbagai faktor risiko kesehatan dan pola hidup sehari-hari. Tekanan darah tinggi atau hipertensi menjadi pemicu utama yang merusak dinding pembuluh darah dan mempercepat pembentukan plak.

Kadar kolesterol tinggi juga memperparah risiko akibat penumpukan plak yang menyumbat arteri dan membatasi aliran darah ke jantung. Kebiasaan merokok serta paparan zat kimianya turut merusak pembuluh darah secara signifikan.

Kelebihan berat badan atau obesitas dapat mendongkrak tekanan darah, kadar kolesterol, hingga risiko diabetes yang memperburuk kinerja jantung. Selain itu, kurangnya aktivitas fisik dan tekanan stres berkepanjangan terbukti melemahkan fungsi organ kardiovaskular secara keseluruhan.

Rekomendasi Pola Hidup Sehat untuk Menjaga Kesehatan Jantung

Dokter Ozy menjabarkan beberapa langkah pencegahan sederhana namun efektif guna memelihara kesehatan organ jantung.

"Anda bisa mengecek tensi untuk bisa mengevaluasi tekanan darah yang ada dalam tubuh kita. Nah, kalau tekanan darah kita normal, kita jaga tekanan darahnya dengan selalu menjaga pola makan dan pola aktivitas sehari-hari," jelas dr. Ozy

Pemeriksaan tekanan darah secara berkala menjadi langkah awal pencegahan karena hipertensi memaksa jantung bekerja ekstra keras. Jika tekanan darah mulai tinggi, modifikasi gaya hidup seperti diet rendah garam dan peningkatan olahraga sangat disarankan, atau dibantu obat resep dokter.

Pola tidur yang cukup antara 7 hingga 9 jam per malam bagi orang dewasa juga menjadi faktor krusial bagi pemulihan organ jantung. Kebiasaan tidur terlalu malam dan tidak teratur dipastikan memberi dampak buruk pada stabilitas fungsi jantung.

Baca: Ilmuwan Bongkar Rahasia Umur Panjang Kakak Beradik Usia 316 Tahun

Penerapan kebiasaan tidur sehat dapat dibangun dengan membatasi penggunaan gawai sebelum tidur serta menciptakan suasana kamar yang nyaman. Pengaturan asupan makanan sehari-hari juga memegang peranan penting dalam melindungi sistem pembuluh darah.

"Sebaiknya kita lebih memperhatikan jenis atau kandungan makanan yang masuk ke tubuh, seperti jangan terlalu banyak konsumsi makanan kadar asin yang banyak, konsumsi makanan yang berlemak dan berminyak. Semua makanan sebenarnya baik untuk tubuh, tapi tetap harus diperhatikan asupannya agar tubuh tetap dalam kondisi yang baik, khususnya jantung. Jangan setiap hari apalagi pagi, siang, malam kita mengonsumsi makanan yang memberi dampak kurang baik bagi kesehatan," tutur dr. Ozy.

Konsumsi makanan tinggi serat seperti sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan kacang-kacangan sangat dianjurkan untuk membantu menekan kadar kolesterol. Asupan asam lemak omega-3 dari ikan salmon atau sarden juga baik untuk mencegah risiko gangguan irama jantung (aritmia).

Asupan garam harian sebaiknya dibatasi maksimal 5 gram per hari guna mengontrol tekanan darah tetap stabil. Makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans seperti gorengan, olahan cepat saji, serta makanan pabrikan harus dibatasi agar kadar kolesterol jahat (LDL) tidak melonjak.

Aktivitas fisik teratur seperti jalan kaki, berlari, bersepeda, atau berenang dengan durasi minimal 150 menit per minggu dapat memperlancar sirkulasi darah. Menjaga pola makan seimbang dan berolahraga rutin sekaligus membantu mempertahankan berat badan ideal guna mengurangi beban kerja jantung.

Baca: BPOM Temukan 4 Kopi Lokal Pemicu Serangan Jantung, Jangan Beli!


(dce)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Trump Puji Piala Dunia 2026 sebagai Salah Satu Acara Terbesar

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sambut HUT ke-81 RI, Pemprov Babel Bebaskan Denda Pajak Kendaraan
• 5 jam lalu
0
thumb
Lewat Little Explorers, KALLA Perkuat Kedekatan Keluarga dan Tumbuhkan Semangat Belajar Anak
• 15 jam lalu
0
thumb
Warga Puas dengan Fasilitas Zikir dan Doa Kebangsaan di Monas
• 50 menit lalu
0
thumb
Jelang HUT RI Ke-81, Ini 4 Ide Lomba 17 an yang Cocok untuk Ibu-ibu, Dijamin Seru dan Meriah!
• 13 jam lalu
0
thumb
Blak-Blakan! James Riady Minta ini ke Prabowo
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.