Yogyakarta: Briliant Auzee, siswa asal Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berhasil lolos sebagai peserta didik di Sekolah Rakyat. Bagi anak yang berasal dari keluarga sederhana itu, kesempatan tersebut menjadi harapan besar untuk terus menempuh pendidikan sekaligus mengejar cita-citanya menjadi seorang dokter.
Sehari-hari Briliant, yang akrab disapa Zeezee, membantu sang ibu menyiapkan ayam goreng untuk dijual di warung kecil milik keluarga di pinggir Jalan Nasional Yogyakarta. Di tengah keterbatasan ekonomi, ia memilih melanjutkan pendidikan di Sekolah Rakyat karena seluruh biaya sekolah ditanggung pemerintah, termasuk fasilitas asrama.
"Udah pengen dari dulu juga, udah lihat programnya. Terus kepengin masuk situ, alhamdulillah datanya udah di dalam, terus ya udah mau aja," kata Zeezee dalam tayangan Metro Siang Metro TV, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Zeezee mengaku tertarik masuk Sekolah Rakyat karena pendidikan diberikan secara gratis sekaligus membentuk karakter dan kedisiplinan para siswa.
"Gratis juga, terus kan jadi disiplin, rajin juga," ujarnya.
Meski harus tinggal berjauhan dari orang tua selama menjalani pendidikan, Briliant tetap mantap mengambil kesempatan tersebut demi mewujudkan impiannya menjadi dokter.
"Cita-citanya jadi dokter," ucapnya.
Baca Juga :
"Supaya dia disiplin, supaya dapat pendidikan yang lebih layak juga supaya bisa menggapai cita-cita mereka," kata Rini.
Dengan suara bergetar, Rini berharap putrinya bisa memperoleh pendidikan yang selama ini sulit dipenuhi oleh kondisi ekonomi keluarga.
"Kalau sama orang tuanya, apa iya pendidikan yang dia pengen ini bisa tercapai? Kali aja kan di situ rezekinya dia," ujarnya sambil menahan tangis.
Rini mengungkapkan, selama ini keluarga mereka mengandalkan penghasilan yang tidak menentu. Ia bekerja dengan berjualan ayam goreng, membuka jasa binatu, serta membuat tas, sedangkan suaminya berjualan es teh jumbo untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi keluarga Briliant, diterimanya sang putri di Sekolah Rakyat bukan sekadar kesempatan memperoleh pendidikan gratis, melainkan harapan baru agar keterbatasan ekonomi tidak menghalangi langkahnya menggapai cita-cita menjadi seorang dokter.





Komentar (0)