Gelar Nyantrik 9, Sanggar Seni Candra Mustika Tulungagung Hadirkan Maestro Tari Bali

beritajatim.com
6 jam lalu
Cover Berita

Tulungagung (beritajatim.com) – Puluhan penari di Tulungagung mengikuti kegiatan Nyantrik 9, yang digelar oleh Sanggar Seni Candra Mustika. Kegiatan ini berlangsung di Pendopo Taman Bina Bakat dan Kompetensi Siswa (TB2KS) Tulungagung. Pada edisi kesembilan ini, sanggar seni tersebut mengangkat materi Tari Bali dengan menghadirkan pengajar sekaligus koreografer dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Kadek Rai Dewi Astini.

Ketua Sanggar Seni Candra Mustika, Aulia Renata, menjelaskan bahwa esensi utama dari program Nyantrik adalah memberikan ruang bagi para penari untuk berguru langsung kepada maestro atau praktisi profesional di bidangnya.

“Nyantrik ini awalnya diinisiasi sebagai ruang belajar seni tari. Esensinya adalah berguru langsung pada maestro-maestro seni yang berpengalaman dan profesional di bidangnya,” ujarnya, Sabtu (1/8/2026).

Aulia mengungkapkan, pemilihan materi Tari Bali pada edisi kali ini bertujuan untuk memperluas wawasan para peserta yang mayoritas berlatar belakang kebudayaan Jawa. Tari Bali dinilai memiliki kompleksitas estetika yang berbeda dan menarik untuk dipelajari.

Dalam kegiatan tersebut para peserta diajarkan Tari Janger Abhinaya, sebuah karya koreografi ciptaan Kadek Rai Dewi Astini.

“Kenapa pilihannya Tari Janger? Karena Janger merupakan genre tari Bali yang dinamis dan cenderung lebih bisa diterima oleh masyarakat umum. Selain itu, ada perpaduan gaya garap kekinian sehingga lebih mudah dipahami oleh teman-teman peserta,” jelasnya.

Sementara itu, Kadek Rai Dewi Astini membeberkan makna filosofis di balik penulisan karya tarian Janger Abhinaya. Tarian ini dirancang sebagai bentuk respon emosional dan fisik terhadap situasi sulit saat pandemi Covid-19 melanda pada kurun 2020–2021.

Koreografer dan pengajar ISI Yogyakarta ini menjelaskan, meski berakar dari tradisi tari Janger Bali yang dinamis, Janger Abhinaya memiliki fungsi spesifik yang menekankan pada kesehatan mental dan imunitas penarinya.

“Spirit paling mendasar dari penulisan Tari Janger Abhinaya adalah bagaimana meningkatkan kesejahteraan diri agar tidak mudah sakit. Saat pandemi orang-orang merasa terkungkung, maka tarian ini diciptakan untuk membawa energi positif,” ungkapnya.

Kata Abhinaya sendiri mengandung makna perjuangan. Dalam konteks karya ini, tarian tersebut melambangkan semangat dan optimisme untuk terus berjuang menjaga kesehatan di tengah kondisi krisis.

Secara teknis gerak, Kadek mengolah gending dan patok tari Janger klasik menjadi gerakan yang lebih simultan, energik, namun relatif mudah dipelajari oleh banyak orang. Berbeda dari tari Janger pada umumnya yang murni sebagai seni pertunjukan (bebalihan), Janger Abhinaya difokuskan sebagai hiburan penenang bagi diri penari itu sendiri.

“Kalau biasanya hiburan untuk penonton, Janger Abhinaya ini hiburan untuk kebaikan diri sendiri. Ketika ditarikan, rasanya tenang dan senang. Tarian ini membantu membangun emosi dan rasa optimis,” pungkasnya. [nm/kun]


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
PLN EPI Perkuat Kesiapsiagaan Perempuan Pesisir Hadapi Ancaman Bencana di Cilacap
• 11 jam lalu
0
thumb
Rossa Akui Sengaja Baru Mempublikasikan Putrinya, Ternyata Ini Alasannya
• 11 jam lalu
0
thumb
I.League Matangkan Persiapan Super League 2026/27
• 17 jam lalu
0
thumb
KOI Tetapkan 432 Atlet Indonesia untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026
• 12 jam lalu
0
thumb
10 Keunggulan Aplikasi AI dalam Dunia Kerja, Dari Menyusun Strategi hingga Membantu Pengambilan Keputusan Lebih Cepat
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.