Awalnya saya mengira Gustavo hanya sedang bercanda. Malam itu, di sela-sela pertemuan para jurnalis peliput iklim dari Pulitzer Center di Belém, Brasil, akhir tahun lalu, ia menolak hidangan daging sapi yang menjadi menu utama makan malam. "Saya bisa mati kalau makan daging," katanya datar.
Sebagai orang Brasil, negara yang terkenal dengan budaya barbekyu atau churrasco, pengakuan itu terdengar janggal. Gustavo kemudian bercerita bahwa beberapa tahun lalu, ketika bertugas di Amerika Serikat, ia mengalami gigitan caplak. Tak lama kemudian dokter mendiagnosisnya menderita alpha-gal syndrome (AGS), alergi langka yang membuat tubuhnya bereaksi terhadap daging mamalia.
Dalam pertemuan bulan Juni 2026 lalu di Jakarta, Gustavo mengatakan masih belum bisa memakan daging merah. "Masih bisa kalau makan sate ayam," kata dia.
Saya baru benar-benar memahami cerita Gustavo setelah membaca laporan terbaru para ilmuwan. Mereka kini memastikan bahwa alergi yang dipicu gigitan caplak itu bukan lagi sekadar keanehan medis. Kasusnya meningkat di berbagai negara, bahkan telah dikonfirmasi menyebabkan kematian manusia.
Hal yang lebih mengkhawatirkan adalah, para peneliti menduga perubahan iklim ikut mempercepat penyebarannya.
Selama puluhan tahun, alergi makanan dipahami muncul karena tubuh bereaksi berlebihan terhadap protein tertentu, misalnya kacang, telur, atau makanan laut. Namun sindrom alpha-gal berbeda hampir dalam segala hal.
Pemicunya bukan makanan, melainkan gigitan caplak. Saat caplak tertentu menggigit manusia, air liurnya membawa molekul gula bernama galactose-α-1,3-galactose, atau disingkat alpha-gal. Molekul ini lazim ditemukan pada mamalia, tetapi tidak diproduksi tubuh manusia.
Bagi sebagian orang, paparan berulang akibat gigitan caplak membuat sistem imun membentuk antibodi imunoglobulin E (IgE). Akibatnya, setiap kali kemudian mengonsumsi daging sapi, kambing, babi, rusa, atau produk mamalia lainnya, tubuh menganggap molekul tersebut sebagai ancaman.
Hal yang membuat dokter sering terkecoh yakni reaksinya tidak muncul seketika. Ruam, muntah, diare, nyeri perut, hingga sesak napas baru muncul tiga hingga delapan jam setelah makan. Jarak waktu panjang ini membuat hubungan antara makan siang dan serangan alergi pada malam hari sering kali tidak disadari.
Bagi sebagian orang, paparan berulang akibat gigitan caplak membuat sistem imun membentuk antibodi imunoglobulin E (IgE). Akibatnya, setiap kali kemudian mengonsumsi daging sapi, kambing, babi, rusa, atau produk mamalia lainnya, tubuh menganggap molekul tersebut sebagai ancaman.
" Gejalanya sangat tidak biasa dibandingkan alergi makanan lainnya," kata Nanju Alice Lee, peneliti alergi dari University of New South Wales, Australia, sebagaimana dilaporkan Nature pada Jumat (31/7/2026).
Bahkan hingga kini ilmuwan masih berdebat mengapa reaksi tersebut muncul begitu lambat. Hipotesis paling banyak diterima menyebutkan molekul alpha-gal ikut terbawa dalam partikel lemak dari daging yang disebut kilomikron. Partikel ini butuh waktu beberapa jam sebelum cukup kecil untuk keluar dari aliran darah dan memicu reaksi imun.
Bahaya sindrom ini lama diduga dapat berujung pada anafilaksis, reaksi alergi ekstrem yang menyebabkan tekanan darah turun drastis, saluran napas menyempit, dan kematian. Namun dugaan itu baru benar-benar terbukti setelah sebuah kasus di Amerika Serikat.
Dalam laporan yang diterbitkan The Journal of Allergy and Clinical Immunology pada akhir 2025, tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Virginia mengonfirmasi kematian pertama akibat alergi alpha-gal. Korbannya pria berusia 47 tahun dari New Jersey.
Beberapa bulan sebelumnya ia pergi berkemah bersama keluarganya. Di awal musim panas ia mengalami belasan gigitan yang sangat gatal di sekitar pergelangan kaki. Keluarganya mengira itu hanya gigitan tungau biasa.
Padahal, menurut Thomas Platts-Mills, dokter yang kemudian menyelidiki kasus tersebut, gigitan itu kemungkinan berasal dari larva caplak Lone Star (Amblyomma americanum).
Suatu malam sang pasien makan steak. Empat jam kemudian ia terbangun dengan nyeri perut hebat, muntah, dan diare. Dua pekan setelahnya ia menghadiri pesta barbekyu dan makan hamburger.
Sekitar setengah jam kemudian keluarganya menemukannya pingsan di kamar mandi. Autopsi awal gagal menemukan penyebab kematian. Barulah setelah istrinya meminta pemeriksaan ulang, sampel darah korban diuji dan ditemukan kadar antibodi alpha-gal yang sangat tinggi, konsisten dengan anafilaksis fatal.
Kasus tersebut menjadi peringatan penting bahwa nyeri perut hebat beberapa jam setelah makan daging merah tidak selalu berarti keracunan makanan atau gangguan lambung.
Jika dulu alpha-gal dianggap penyakit langka, kini gambaran itu berubah. Australia menjadi negara dengan angka kejadian tertinggi di dunia. Di beberapa wilayah yang banyak dihuni caplak, prevalensinya lebih dari 700 penderita per 100.000 penduduk. Sejak tahun 2020, dugaan kasus meningkat sekitar 22 persen setiap tahun, terutama akibat gigitan caplak kelumpuhan Australia (Ixodes holocyclus).
Di Amerika Serikat, Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) memperkirakan sekitar 450.000 orang mungkin hidup dengan sindrom ini. Antara 2017 hingga 2022, rata-rata 15.000 kasus baru terdiagnosis setiap tahun. Angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi karena banyak penderita tidak pernah mengetahui penyebab alerginya.
Di Jepang, antara 2–4 persen populasi telah memiliki antibodi terhadap alpha-gal. Mereka belum tentu sakit, tetapi telah mengalami sensitisasi. Sementara di Denmark, prevalensi sensitisasi meningkat lebih dari dua kali lipat dalam seperempat abad.
Benjamin Casterline, peneliti imunologi Universitas Missouri, mengatakan para ilmuwan bahkan belum memahami berapa banyak subtipe penyakit ini. "Kami masih meraba-raba dalam kegelapan, tetapi merupakan tanggung jawab kami menemukan solusi yang efektif," katanya, dikutip Nature.
Timnya kini sedang membangun basis data pasien untuk memetakan variasi gejala dan mencari biomarker yang dapat mempercepat diagnosis.
Para peneliti ini menduga, peningkatan prevalensi penyakit ini karena caplak pembawa alergi diam-diam menyebar makin luas akibat pemanasan global.
Suhu bumi yang terus menghangat memperluas wilayah hidup berbagai spesies caplak. Musim dingin yang semakin pendek membuat lebih banyak caplak bertahan hidup hingga musim berikutnya.
Di Australia, habitat caplak yang dahulu hanya terbatas di sebagian kecil New South Wales kini telah meluas sepanjang pesisir timur hingga Queensland. Fenomena serupa juga terlihat di Amerika Serikat maupun Eropa.
Selain perubahan iklim, meningkatnya populasi rusa ikut memperbesar risiko. Rusa merupakan inang utama berbagai spesies caplak penyebab alpha-gal. Ketika populasi rusa meningkat dan habitatnya semakin dekat dengan permukiman manusia, peluang caplak berpindah ke manusia ikut bertambah.
Dengan kata lain, perubahan ekosistem sedang mempertemukan manusia dan vektor penyakit dalam cara yang sebelumnya jarang terjadi. Fenomena ini menjadi contoh bagaimana krisis iklim tidak hanya menghadirkan gelombang panas, banjir, atau kekeringan, tetapi juga mengubah pola penyebaran penyakit yang selama ini dianggap terbatas pada wilayah tertentu.
Sejauh ini belum ada laporan bahwa caplak Lone Star, vektor utama alpha-gal di Amerika Serikat, ditemukan di Indonesia. Namun bukan berarti ancamannya dapat diabaikan.
Di berbagai belahan dunia, alergi alpha-gal ternyata tidak hanya disebabkan satu jenis caplak. Australia memiliki Ixodes holocyclus, Eropa didominasi Ixodes ricinus, sedangkan Jepang juga melaporkan kasus akibat spesies caplak lokal.
Artinya, kemampuan memicu alergi dimiliki beberapa spesies caplak yang berbeda. Indonesia sendiri merupakan negara tropis dengan keragaman caplak tinggi, meski belum ada bukti bahwa spesies lokal menyebabkan sindrom alpha-gal. Hal itu membuka ruang riset baru, terutama ketika perubahan iklim mengubah distribusi berbagai vektor penyakit.
Bagi dokter, pesan terpenting justru adalah meningkatkan kewaspadaan klinis. Pasien yang mengalami nyeri perut hebat, ruam, atau muntah beberapa jam setelah makan daging, terutama bila memiliki riwayat gigitan caplak saat bepergian ke luar negeri, layak dipertimbangkan untuk menjalani pemeriksaan alpha-gal.






Komentar (0)