Jakarta: Utusan Khusus Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Isu Air Retno Marsudi memperingatkan krisis air global terus memburuk di tengah meningkatnya kebutuhan air akibat pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, hingga perkembangan teknologi.
Retno mengatakan tantangan air saat ini tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan teknis semata. Menurutnya, air telah menjadi fondasi bagi ketahanan pangan, kesehatan, ekonomi, hingga pencapaian target emisi nol bersih (net zero emissions).
"Ketika kita berbicara mengenai net zero, kita sering kali fokus pada energi, transportasi, dan industri. Namun ada satu elemen yang sangat penting, yaitu air. Tidak ada net zero tanpa air," kata Retno dalam Indonesia Net-Zero Summit (INZS) di Jakarta, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Retno menjelaskan dunia memang mencatat kemajuan dalam satu dekade terakhir sejak disepakatinya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada 2015. Sebanyak 961 juta orang kini memperoleh akses terhadap air minum yang aman, 141 juta orang tidak lagi bergantung pada air yang tidak diolah, dan sekitar 1,2 miliar orang telah mendapatkan akses sanitasi.
Namun, menurutnya, capaian tersebut masih terlalu lambat dan belum mampu mengejar besarnya tantangan yang dihadapi dunia. Tantangan Kian Besar Retno mengungkapkan saat ini lebih dari 2,2 miliar penduduk dunia belum memiliki akses terhadap air minum yang aman, sekitar 3,5 miliar orang belum menikmati layanan sanitasi yang layak, sementara 4 miliar orang mengalami kelangkaan air.
Ia mengatakan tantangan tersebut akan semakin berat karena kebutuhan air terus meningkat seiring bertambahnya populasi dunia, kebutuhan pangan, dan aktivitas ekonomi.
"Perjalanan selama 10 tahun menunjukkan kemajuan, tetapi kemajuan itu terlalu lambat dan tidak merata," ujarnya.
Retno mencontohkan populasi dunia diperkirakan mencapai sekitar 9,7 miliar jiwa pada 2050. Kondisi tersebut diproyeksikan meningkatkan kebutuhan pangan global hingga 50 persen, yang pada akhirnya akan mendorong kebutuhan air lebih dari 25 persen.
Ia menambahkan sekitar 72 persen penggunaan air tawar dunia saat ini masih dialokasikan untuk sektor pertanian. Karena itu, gangguan terhadap ketersediaan air akan berdampak langsung terhadap ketahanan pangan, kesehatan, hingga pertumbuhan ekonomi.
"Kalau air terganggu, maka pangan akan terganggu. Ekonomi, kesehatan, bahkan pendidikan juga akan ikut terganggu," kata Retno.
Menghadapi kondisi tersebut, Retno menegaskan perlunya percepatan implementasi SDG 6 tentang air bersih dan sanitasi. Menurutnya, apabila laju pencapaian saat ini tidak berubah, target tersebut baru akan tercapai pada 2049 atau terlambat sekitar 23 tahun dari target yang ditetapkan.
Ia mengatakan dunia memerlukan peningkatan laju hingga delapan kali lipat untuk penyediaan air minum yang aman, enam kali lipat untuk layanan sanitasi, dan dua kali lipat untuk layanan kebersihan dasar agar target 2030 dapat dicapai.
"Kalau kita tidak melakukan ini, target SDG 6 baru akan tercapai pada 2049," kata Retno.
Retno juga menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, masyarakat sipil, dan seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, tantangan air dan perubahan iklim tidak dapat diatasi oleh satu negara maupun satu pihak saja.
Baca juga: Retno Marsudi Sebut 'Ledakan' AI Tingkatkan Kebutuhan Air Global hingga 129 Persen





Komentar (0)