Dokter Huang Shih-wei dari Taiwan : Pengambilan Organ Secara Paksa adalah Skandal Terbesar Abad ke-21, Umat Manusia Sedang Menghadapi Sebuah Pilihan

erabaru.net
4 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Jika tindakan Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengambil organ tubuh manusia secara paksa tanpa persetujuan merupakan tindakan yang kejam dan mengancam seluruh umat manusia, mengapa masih begitu banyak orang memilih untuk menghindari persoalan ini, memilih untuk tetap “tidak mau tahu” dan “diam”?

Dalam sebuah episode terbaru program “Health 1+1”, dokter Taiwan Dr. Huang Shih-wei, yang telah meneliti dugaan pengambilan organ secara paksa di Tiongkok selama lebih dari 20 tahun, mengatakan bahwa seluruh masyarakat dunia seharusnya keluar dari ketidaktahuan mengenai PKT dan menolak untuk berdiam diri terhadap kejahatan. 

Menurutnya, pengambilan organ secara paksa merupakan skandal terbesar umat manusia pada abad ke-21, dan merupakan persoalan yang harus dihadapi secara serius oleh setiap orang.

Awal Penyelidikan

Kisah ini bermula pada tahun 2001. Saat itu, Dr. Huang memperhatikan bahwa sejumlah pasien di Taiwan pergi ke daratan Tiongkok untuk menjalani transplantasi organ. Pada awalnya ia tidak terlalu memikirkannya karena mendengar bahwa organ-organ tersebut berasal dari narapidana yang telah dihukum mati, sesuatu yang pada masa lalu juga pernah terjadi di Taiwan.

Namun, pada tahun 2006 terjadi sebuah peristiwa yang sangat mengejutkannya. Sejak saat itu ia mulai memperhatikan laporan mengenai dugaan pengambilan organ terhadap praktisi Falun Gong dan memulai penelitian yang berlangsung selama dua dekade.

Kesaksian “Annie” Membuka Tabir

Pada tahun 2006, seorang perempuan bernama Annie datang ke Amerika Serikat dan mengungkapkan bahwa mantan suaminya pernah mengambil kornea mata dari praktisi Falun Gong.

Annie sebelumnya bekerja sebagai staf akuntansi di sebuah rumah sakit di Tiongkok, sedangkan mantan suaminya adalah seorang ahli bedah saraf. Karena dihantui rasa bersalah, dokter tersebut menyesali keterlibatannya setelah dikatakan telah mengambil sekitar 2.000 kornea mata. Ketika ia ingin berhenti, ia diberi tahu bahwa setelah “naik ke kapal”, ia tidak mungkin turun lagi.

Keduanya akhirnya melarikan diri dari Tiongkok, dan setelah tiba di Amerika Serikat, Annie secara terbuka mengungkap dugaan praktik pengambilan organ terhadap praktisi Falun Gong.

Pada tahun yang sama, Dr. Huang yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Asosiasi Internasional Peduli Transplantasi Organ Taiwan mulai menaruh perhatian pada isu tersebut.

Sebagai seorang dokter, ia memiliki kesempatan bertemu dengan pasien-pasien Taiwan yang kembali setelah menjalani transplantasi organ di Tiongkok. Dari situlah ia mulai melakukan penelitiannya.

Mendengar Kisah Hampir Seratus Pasien

Dr. Huang mewawancarai hampir seratus orang yang pernah menjalani transplantasi di Tiongkok dan meminta mereka menceritakan pengalaman mereka.

Ia mengatakan:”Setelah mendengar semua kisah itu, Anda akan memiliki gambaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Anda akan mengetahui bahwa disana terdapat persediaan organ dalam jumlah yang sangat besar, dan orang-orang di dalam sistem tersebut dapat dikorbankan kapan saja untuk transplantasi. Yang lebih mengejutkan lagi, biaya memperoleh organ di tingkat penyedia hampir tidak ada.”

Sistem Pengambilan Organ yang Terorganisasi

Menurut Dr. Huang, berdasarkan berbagai kesaksian yang ia dengar, seorang dokter di Tiongkok dapat memperoleh organ seperti ginjal atau hati dengan biaya sekitar 5.000 yuan.

Rumah sakit kemudian mendorong para dokter untuk meningkatkan pendapatan. Dalam penyusunan anggaran tahunan, rumah sakit bahkan dapat memperoleh jatah ratusan ginjal melalui sistem tersebut untuk dijadikan sumber pemasukan.

Agar memperoleh keuntungan lebih besar, rumah sakit berusaha menjual organ kepada pasien asing yang mampu membayar mahal. Dengan demikian, baik rumah sakit maupun para dokter memperoleh keuntungan finansial.

Setelah mendengar berbagai cerita itu, Dr. Huang menyimpulkan bahwa dugaan praktik tersebut melibatkan operasi yang sangat terorganisasi.

Ia menjelaskan:”Organ tidak bisa begitu saja diambil dan langsung digunakan. Harus ada proses pengambilan, pengangkutan, penyimpanan, perantara internasional, hingga pengaturan seluruh perjalanan pasien. Semua itu merupakan layanan yang terintegrasi dalam satu sistem. Karena itulah saat itu Tiongkok mengklaim kualitas transplantasinya sangat baik.”

Menurutnya, sistem tersebut mencakup persediaan organ, jaringan transportasi dan penyimpanan organ, hingga ruang operasi yang lengkap.

Perubahan Kualitas Organ

Dr. Huang juga mendapat informasi dari seorang ahli ginjal di Taiwan bahwa sebelum tahun 1999, kualitas ginjal hasil transplantasi dari Tiongkok umumnya kurang baik.

Namun, antara tahun 2000 hingga 2006, pasien-pasien Taiwan yang kembali dari transplantasi di Tiongkok hampir semuanya memperoleh ginjal dengan kualitas yang sangat baik.

Mengingat Kembali Tragedi Nazi

Setelah mendengar berbagai kisah pasien dan kolega-koleganya, Dr. Huang mengatakan ia teringat pada sejarah kejahatan medis pada masa Nazi Jerman.

Ia berkata:”Saat mengetahui semua ini, saya langsung teringat pada apa yang dilakukan Nazi. Saat itu para dokter ikut terlibat dalam eksperimen terhadap orang Yahudi. Setelah Perang Dunia II berlangsung Pengadilan Nürnberg, yang kemudian melahirkan Deklarasi Jenewa dan sumpah profesi dokter. Kami semua mempelajari sejarah itu dan mengira hal seperti itu tidak akan pernah terulang lagi. Namun ternyata penyebabnya tetap sama, yaitu ketidaktahuan dan sikap acuh tak acuh.”

Menurutnya, dugaan pengambilan organ secara paksa yang sedang terjadi merupakan pengulangan tragedi serupa, dan kembali diperparah oleh ketidaktahuan serta sikap diam masyarakat.

Reaksi Kalangan Medis

Dr. Huang mengatakan bahwa ketika ia menceritakan temuannya kepada rekan-rekan dokter, sebagian merasa marah dan bersimpati, tetapi menganggap diri mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

Sebagian lainnya bersikap acuh tak acuh. Mereka merasa persoalan tersebut bukan urusan mereka dan hanya ingin fokus pada pasien, pekerjaan, dan penghasilan mereka.

Ia juga menilai masih banyak orang yang belum memahami karakter PKT.

“Lebih Buruk daripada Kejahatan Nazi”

Menurut Dr. Huang, dugaan pengambilan organ secara paksa oleh PKT bahkan lebih mengerikan dibanding kejahatan Nazi.

Jika Nazi melakukan kekejaman dalam konteks perang, maka menurutnya praktik tersebut didorong oleh keuntungan ekonomi.

Ia mengatakan bahwa banyak orang akhirnya memilih mengabaikan persoalan tersebut demi kepentingan ekonomi.

Memahami PKT

Dr. Huang mengatakan bahwa ia kemudian berusaha mempelajari sejarah PKT lebih dalam.

Menurutnya, salah satu buku yang paling membantunya memahami PKT adalah “Sembilan Komentar Mengenai Partai Komunis”.

Ia mengatakan bahwa setelah memahami sejarah PKT, praktik tersebut tidak lagi terasa mengejutkan karena, menurut pandangannya, pengambilan organ hanyalah salah satu cara PKT memperlakukan orang-orang yang dianggap sebagai musuh.

“Skandal Terbesar Abad ke-21”

Dr. Huang berpendapat bahwa dugaan pengambilan organ secara paksa akan menjadi salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah kedokteran abad ke-21.

Ia mengatakan:”Ini adalah skandal terbesar umat manusia pada abad ke-21.”

Menurutnya, skala dugaan praktik tersebut sangat besar karena jumlah praktisi Falun Gong yang banyak serta besarnya populasi Tiongkok yang menyebabkan permintaan organ sangat tinggi.

Ia juga berpendapat bahwa persoalan tersebut pada akhirnya akan berdampak secara global karena banyak dokter dan ilmuwan Tiongkok belajar di luar negeri, perusahaan farmasi internasional berinvestasi di Tiongkok, dan kerja sama internasional terus berkembang.

“Karena itu, penganiayaan dan dugaan pengambilan organ ini pada akhirnya melibatkan seluruh dunia.”

“Ini Adalah Ujian bagi Setiap Orang”

Selama 20 tahun terakhir, Dr. Huang dan rekan-rekannya terus menyuarakan persoalan ini, namun menurutnya dugaan praktik tersebut belum berakhir.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak memilih diam dan percaya bahwa persoalan ini merupakan ujian moral bagi setiap manusia.

Dr. Huang juga menceritakan pernah bertemu seorang praktisi agama Buddha yang mengatakan kepadanya bahwa komunisme adalah “kejahatan”, dan bahwa: “Kejahatan tidak akan pernah berubah. Kejahatan tidak akan bertahan selamanya. Kejahatan hadir untuk menguji manusia.”

Dr. Huang mengatakan ia memperoleh pemahaman dari kalimat tersebut: “Kejahatan tidak akan berubah, dan tidak akan bertahan selamanya. Semua ini adalah ujian bagi manusia. Entah Anda menyebutnya Tuhan, Buddha, atau Langit, pada akhirnya setiap orang akan menghadapi ujian moralnya sendiri.”

Disusun oleh reporter Jin Hong / Editor: Xu Gengwen – NTDTV.com


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rumah Polisi di Karawang Dirusak OTK, Diduga Terkait Penyelidikan Obat Terlarang
• 7 jam lalu
0
thumb
Cara Membangun Base Aman di Minecraft Bedrock Edition, Strategi Bertahan Hidup dari Serangan Monster
• 16 jam lalu
0
thumb
Rekaman Detik-Detik Ledakan Gudang Petasan di Meksiko, Satu Orang Tewas | BERUT
• 18 jam lalu
0
thumb
Kurir Esktasi Jaringan Malaysia-Medan Baru Direkrut Sehari, Diupah Rp 700 Ribu
• 18 jam lalu
0
thumb
Bangun Soliditas Pranata Humas, Kemendagri Perkuat Konsolidasi dan Kompetensi
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.