Bumi Dikepung Satelit Aktif, Muncul Ancaman Mengerikan Ini

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita
Foto: Infografis/ 10 Penguasa Langit Dunia, Kekuasaannya Membentang dari Bumi ke Awan/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset Dan Inovasi Indonesia (BRIN) memaparkan data ESA Space Environment Report 2025, UCS Satellite Database, dan CelesTrak Active Satellites (Mei 2025) menunjukkan jumlah satelit aktif yang mengorbit di Low Earth Orbit (LEO) mencapai sekitar 14.500 unit pada 2026. Jumlah tersebut diproyeksikan meningkat drastis hingga sekitar 100.000 satelit pada 2030.

Seiring bertambahnya jumlah satelit, timbul pertanyaan apakah cara pengoperasian satelit saat ini masih efektif di tengah orbit yang semakin ramai.

Baca: Air di Danau Toba Tiap Tahun Hilang Misterius, Ada Apa?

Dalam Kolokium Series-7 yang diselenggarakan Pusat Riset Teknologi Satelit (PRTS) BRIN, pada Selasa (28/7/2026), peneliti PRTS BRIN, Ery Fitrianingsih, memaparkan alasan paradigma lama pengelolaan misi satelit perlu segera bergeser. Ery menjelaskan bahwa orbit LEO memiliki karakteristik yang jauh berbeda dari orbit geostasioner (GEO).


Jika satelit GEO beroperasi dalam slot yang diatur ketat oleh International Telecommunication Union (ITU) dengan toleransi pergeseran hanya sekitar 0,2 derajat, satelit di LEO justru bergerak bebas tanpa regulasi inklinasi maupun kepadatan orbit yang mengikat.

"Kondisi itulah yang membuat populasi objek di LEO tumbuh sangat cepat, terutama sejak kemunculan megakonstelasi seperti Starlink, OneWeb, dan proyek serupa dari Tiongkok. Kondisi tersebut menyebabkan jumlah satelit aktif di orbit terus meningkat. Hingga 2026, tercatat sekitar 14.500 satelit aktif, dan jumlah itu diproyeksikan mencapai sekitar 100.000 satelit pada 2030," ujar Ery, dikutip dari lama resmi BRIN, Sabtu (1/8/2026).

Roket Long March 2F yang membawa wahana antariksa Shenzhou-23 dengan astronot Zhu Yangzhu, Zhang Zhiyuan, dan Lai Ka-ying, yang merupakan astronot pertama dari Hong Kong, lepas landas menuju stasiun ruang angkasa Tiangong di Tiongkok dari landasan peluncuran di Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan, dekat Jiuquan, provinsi Gansu, Tiongkok, 24 Mei 2026. (REUTERS/Maxim Shemetov) Foto: Roket Long March 2F yang membawa wahana antariksa Shenzhou-23 dengan astronot Zhu Yangzhu, Zhang Zhiyuan, dan Lai Ka-ying, yang merupakan astronot pertama dari Hong Kong, lepas landas menuju stasiun ruang angkasa Tiangong di Tiongkok dari landasan peluncuran di Pusat Peluncuran Satelit Jiuquan, dekat Jiuquan, provinsi Gansu, Tiongkok, 24 Mei 2026. (REUTERS/Maxim Shemetov)

Ia menambahkan, radar berbasis darat hanya mampu melacak puluhan ribu objek berukuran lebih dari 10 sentimeter. Di sisi lain, jutaan serpihan debris yang berukuran lebih kecil masih luput dari pemantauan, padahal tetap berisiko membahayakan satelit yang melintas.

Ery mengingatkan potensi terjadinya Kessler Syndrome, yaitu efek domino ketika tabrakan antarsatelit atau debris memicu terbentuknya serpihan baru. Serpihan tersebut kemudian menabrak objek lain secara berantai hingga pada akhirnya suatu ketinggian lintasan orbit tidak lagi dapat menampung satelit baru. Menurut Ery, kondisi tersebut akan membuat wilayah orbit itu tidak lagi memungkinkan untuk peluncuran satelit baru.

"Kepadatan itu juga mengubah kalkulasi risiko antara operator megakonstelasi dan operator satelit tunggal. Kehilangan satu satelit bukan persoalan besar bagi operator megakonstelasi karena mereka mengoperasikan satelit dalam jumlah sangat banyak. Sebaliknya, bagi operator satelit lainnya, kehilangan satu satelit akan sangat terasa karena membangun satu satelit saja memerlukan proses yang panjang dan penuh tantangan," ujarnya.

Ery melanjutkan, seluruh desain misi dan operasi satelit selama ini bertumpu pada empat asumsi dasar. Pertama, posisi dan kecepatan satelit (orbital state) dapat diketahui secara andal. Kedua, tersedia cukup waktu untuk mengambil keputusan manuver. Ketiga, keputusan manuver dapat diambil secara independen tanpa mempertimbangkan objek lain. Kemudian keempat, intervensi dari darat selalu tersedia kapanpun dibutuhkan.

"Keempat asumsi tersebut mulai goyah seiring meningkatnya kepadatan LEO. Waktu yang tersedia bagi operator untuk memutuskan manuver kian menyempit karena volume peringatan potensi tabrakan (conjunction data message) akan jauh lebih sering muncul," ujarnya.

Untuk menunjukkan bahwa risiko ini bukan sekadar skenario di atas kertas, Ery memaparkan dua studi kasus nyata. Kasus pertama adalah insiden antara satelit Aeolus milik European Space Agency (ESA) dan satelit Starlink. Insiden tersebut terjadi ketika sistem notifikasi otomatis gagal menjangkau insinyur yang bertugas menilai risiko tabrakan. Koordinasi antaroperator pun tidak kunjung mendapat respon hingga mendekati waktu potensi tabrakan (time of closest approach). Kondisi ini memaksa ESA melakukan manuver sepihak dan menghabiskan bahan bakar yang seharusnya bisa dialokasikan untuk misi observasi.

"Menurutnya, akar permasalahan bukan sekadar bug pada perangkat lunak. Sistem yang masih bergantung pada komunikasi antarmanusia tanpa mekanisme yang independen sangat rentan terhadap kegagalan. Kegagalan yang sesungguhnya, lanjutnya, terletak pada asumsi bahwa komunikasi antarmanusia akan selalu berlangsung tepat waktu dan dapat diandalkan," ia menegaskan.

Kasus kedua terjadi pada Februari 2022 dan melibatkan 38 satelit Starlink. Satelit-satelit tersebut gagal mencapai orbit operasional akibat badai geomagnetik yang memanaskan dan memuaikan lapisan atas atmosfer. Model hambatan atmosfer (atmospheric drag) yang digunakan sistem otonom satelit tersebut ternyata tidak memperhitungkan ketidakpastian sebesar itu. Akibatnya, daya dorong satelit tidak cukup kuat untuk mengatasi hambatan atmosfer yang tiba-tiba meningkat.

Baca: BMKG Kasih Update El Nino, Kapan Musim Kemarau di RI Berakhir?

Belajar dari kedua kasus tersebut, Ery menekankan bahwa masa depan operasi satelit LEO menuntut pergeseran paradigma menyeluruh, bukan hanya perbaikan pada sisi operasi misi semata. Arsitektur misi ke depan, mulai dari ground segment, space segment, hingga information architecture, perlu dirancang sebagai bagian dari ekosistem LEO yang kompleks dan dinamis.

Ia juga menyoroti pentingnya kemampuan otonom pada satelit untuk melakukan penilaian risiko tabrakan secara mandiri. Kemampuan tersebut juga diperlukan agar satelit dapat merencanakan manuver penghindaran tanpa harus menunggu intervensi manusia. Pendekatan ini lebih andal dibandingkan terus bergantung pada keputusan manusia yang membutuhkan waktu dan jalur komunikasi yang berpotensi terputus. Menurutnya, kemampuan otonom pada satelit ke depan bukan lagi menjadi pilihan, melainkan sebuah keharusan agar satelit dapat bertahan dalam lingkungan antariksa yang semakin padat.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Intip Cara AI Bantu Bisnis Genjot Penjualan di e-Commerce

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
5 Tips Agar Kulit Kamu Tetap Lembap di Ruangan Ber-AC
• 12 jam lalu
0
thumb
Penampakan Barang Bukti Kasus Pilot Malaysia Bawa 25 Kg Narkoba di Bandara Soetta | BERITA UTAMA
• 19 jam lalu
0
thumb
Polda Klarifikasi Peran Kasat Resnarkoba Tangsel AKP Pardiman, usai 2 Anggota jadi Tersangka
• 6 jam lalu
0
thumb
Prabowo: Kebijakan Good Neighbor Jadi Fondasi Diplomasi Indonesia
• 23 jam lalu
0
thumb
Siap-Siap Karier Melesat! 6 Zodiak Ini Panen Peluang Emas di 2 Agustus 2026: Aries Coba Tantangan Baru
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.