Sambut "Pedestrian Deck", Jelang 500 Tahun Jakarta

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Pemerintah Provinsi Jakarta telah mencanangkan pembangunan pedestrian deck di Kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, Minggu (21/6/2026). Saat ini pembangunan pedestrian deck masuk di tahap tender kontraktor. Jembatan aset milik PT MRT Jakarta ini direncanakan bisa melayani warga di akhir tahun 2028.

Jembatan pejalan kaki ini akan menghubungkan empat kuadran di Kawasan Dukuh Atas yang masih terfragmentasi karena terpotong Sungai Ciliwung dan Jalan Sudirman. Empat kuadran itu diantaranya Halte Stasiun MRT Dukuh Atas, Stasiun KCI Sudirman, Wisma BNI 46, dan Menara Landmark. Saat ini lokasi stasiun dan halte transportasi umum di sekitarnya masih menyebar dan belum terhubung secara optimal.

Pedestrian deck yang dibiayai sepenuhnya oleh PT MRT Jakarta ini akan menjadi penghubung vital yang menyatukan seluruh kawasan berorientasi transit (TOD) Dukuh Atas. Hasil analisis MRT Jakarta menggunakan shortest path analysis, menunjukkan terdapat potensi pergerakan pengguna MRT, BRT, LRT, dan KRL yang akan cenderung menggunakan akses pedestrian deck ini untuk berpindah kuadran. Durasi berjalan kaki pindah antar kuadran juga akan lebih singkat.

Pedestrian yang nyaman terbukti menghidupkan suatu kawasan

Hal ini mengakomodasi jumlah penumpang transportasi publik di kawasan TOD Dukuh Atas yang sangat banyak. Menurut data Goodstats per April 2026, jumlah penumpang MRT terbanyak berasal dari Stasiun Dukuh Atas BNI mencapai 744.229 orang.

Di periode waktu yang sama, jumlah tap out atau pemindaian kartu, terbanyak berasal dari Statiun LRT Dukuh Atas, sebanyak 374.050 orang. Belum lagi pergerakan penumpang KRL di Stasiun Sudirman yang menduduki peringkat ketiga mencapai 13 juta orang di periode Januari-Juni 2026.

Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta Agus Trihan menilai pedestrian yang nyaman terbukti menghidupkan suatu kawasan. “Sebelumnya ada Terowongan Kendal dan Jalan Blora yang ramah untuk pejalan kaki. Ada juga Jembatan Penyeberangan Multiguna (JPM) yang membuat area Kendal jadi aktif banget. Selanjutnya kita mau menghidupkan juga area di selatannya,” jelas Agus dalam pemaparan proyek pedestrian deck Dukuh Atas, sebagai bagian dalam pelatihan “MRT Jakarta Fellowship Program 2026”, Kamis (30/7/2026).

Jembatan berbentuk lingkaran ini akan memiliki diameter 100 meter dengan ketinggian 8 meter dari Jalan Sudirman. Agus menyebutkan terdapat tiga pintu masuk berupa eskalator yang terletak di kuadran Stasiun KCI Sudirman, kuadran Wisma BNI 46, dan kuadran Menara Landmark. Selain itu ada juga tiga pintu masuk berupa elevator atau lift di kuadran Halte Stasiun MRT Dukuh Atas, Wisma BNI 46, dan Menara Landmark.

Di dalam deck yang dibalut kaca dengan struktur baja, pejalan kaki akan disuguhkan pemandangan Jakarta secara 360 derajat. Di sisi utara disuguhkan pemandangan Monumen Bundaran HI dan di selatan ada pemandangan Patung Jenderal Sudirman.

Lebar pedestrian desk, yakni 7 meter dan tinggi desk bervariasi antara 4 hingga 6 meter, sehingga pejalan kaki tidak perlu takut berdesakan. Begitu juga kekuatan struktur yang dapat menahan beban hingga 500 kilogram setiap satu meter persegi.

Baca JugaPedestrian Deck Dukuh Atas Dibangun, Integrasikan Enam Moda Transportasi
Interkoneksi bangunan

Terdapat total sembilan TOD yang akan dikembangkan MRT Jakarta di koridor fase 1 dan 2. Lima diantaranya sudah memiliki dasar regulasi yang lengkap, diantaranya TOD Lebak Bulus, TOD Fatmawati, TOD Lebak Bulus, TOD Istora Senayan, dan TOD Dukuh Atas. Sementara sisanya masih dalam proses pengesahan dan proses penyusunan.

Pengembangan TOD merupakan satu dari lima mandat PT MRT Jakarta yang tertuang di dalam Peraturan Daerah Provinsi DKI Jakarta Nomor 11 Tahun 2024. Mandat lain yaitu penyelenggaraan prasarana dan sarana perkeretaapian umum perkotaan. Dua mandat lainnya integrator transportasi serta layanan konsultasi untuk operasional, jaringan, dan bisnis perkeretaapian.

TOD Planning Department Head Sagita Devi MRT Jakarta menilai pentingnya TOD untuk mendorong adanya interkoneksi dengan bangunan di sekitar MRT. Menurut Sagita, pembangunan sarana dan prasarana di sekitar stasiun diharapkan dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi baru. Hal itu terlihat contohnya di sekitar Stasiun MRT Blok M-ASEAN dan Stasiun MRT Lebak Bulus.

“Yang sudah beroperasi, contohnya Blok M Plaza dengan stasiun Lebak Bulus. Interkoneksi itu bisa meningkatkan value dari sebuah bangunan. Bisa dilihat Blok M Plaza sekarang, setelah terkoneksi langsung dengan stasiun, ridership atau market value-nya meningkat. Begitu juga dengan Point Square dengan Stasiun Lebak Bulus,” jelas Sagita, Kamis (30/7/2026).

Sama halnya TOD Dukuh Atas pasca beroperasinya Gedung Transport Hub pertengahan 2024. Bangunan ini memiliki 12 lantai yang terdiri dari halte bus, restoran, pusat kebugaran, kampus, kantor, hotel, bar, dan ruang pertemuan.

Salah satu efeknya, peningkatan Pajak Bumi Bangunan (PBB). PBB gedung Transport Hub tahun 2022 ketika tahap konstruksi masih Rp 254 juta per tahun dan tahun 2024 ketika gedung sudah beroperasi, naik menjadi 640 juta. Angka itu belum termasuk pajak lain seperti pajak hotel dan pajak iklan.

Setelah hampir 7 tahun beroperasi, fokus strategis pengembangan TOD MRT mulai terbentuk. Setidaknya ada lima fokus strategis TOD. Diantaranya konektivitas pejalan kaki, infrastruktur park & ride, pengembangan bangunan mixed-used, optimalisasi aset, dan komersialisasi transit. Komersialisasi di dalam area transit ini tidak hanya ritel atau iklan, namun juga bisa berupa place making atau penataan ruang publik dengan melibatkan warga dan event activation.

Mesti demikian tidak semua infrastruktur yang dibangun MRT Jakarta tersambung langsung dengan stasiun MRT, contohnya JPM Dukuh Atas di kawasan Jalan Kendal. “Proyek-proyek TOD MRT Jakarta radiusnya 800 m dari stasiun. Sehingga banyak infrastruktur yang bisa menunjang kenyamanan atau konektivitas masyarakat tidak hanya ke stasiun MRT, tapi juga ke moda transportasi lainnya,” jelas Sagita.

Tantangan pembangunan pedestrian deck adalah lahan sempit dan izin lintas instansi

Baca JugaKawasan Berorientasi Transit yang Meningkatkan Kualitas Blok M
Lahan sempit dan perizinan

Pembangunan pedestrian deck di TOD Dukuh Atas membutuhkan waktu cukup lama karena sejumlah tantangan. Agus menyebutkan ada dua jenis pekerjaan rumah yang harus dihadapi. Pertama, tantangan teknis karena pembangunan kolom-kolom pondasi di area yang sangat padat dan sempit seperti di area Kendal.

“Ada kolom pondasi yang harus berada di antara terowongan MRT. Lalu bentang antar kolom mencapai 66 m di atas sungai dan di atas jembatan Jalan Sudirman. Begitu juga di sisi selatan sungai ada rumah pompa untuk jalan. Ketika pembangunan, pompa air itu harus tetap tetap bisa beroperasional. Karena jika mati, air di underpass Galunggung cepat naik saat banjir. Tidak ada tempat yang gampang untuk dikerjakan,” jelas Agus.

Kedua yaitu tantangan administratif atau perizinan. Agus menambahkan tidak semua lahan proyek ini merupakan lahan milik Pemprov Jakarta. Pedestrian Deck ini akan melintasi trek kereta milik PT KAI, sungai milik Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, serta sejumlah lahan Pemprov Jakarta mulai dari Dinas Bina Marga, Dinas Sumber Daya Air, dan Dinas Pertanaman.

“Jadi memang cukup banyak stakeholders-nya. Dan di area yang cukup padat dan sensitif. Itu tantangan yang kita hadapi,” ungkap Agus.

Sagita menambahkan, di balik semua tantangan yang ada, pedestrian Deck ini akan menjadi salah satu ikon baru di Jakarta. Tidak hanya sebagai sarana konektivitas, namun juga bisa menjadi sebuah pembelajaran arsitektur dan sipil dalam pembangunan infrastruktur yang melewati sungai dan jembatan layang.

Di kesempatan yang lain, Gubernur Jakarta Pramono Anung juga berharap pembangunan pedestrian deck ini dapat membuat transportasi di Jakarta semakin baik. “Sebagai informasi, Jakarta sekarang menjadi kota nomor dua transportasi publik terbaik di ASEAN setelah Singapura, nomor 8 di Asia, nomor 17 di dunia. Pedestrian deck menjadi warisan masa depan, menyongsong usia 500 tahun Jakarta,” papar Pramono ketika pencanangan pembangunan Pedestrian Deck, Minggu (21/6/2026).


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Trotoar Jalan Raya Sawangan Depok Amblas, Pejalan Kaki Terpaksa Turun ke Jalan
• 23 jam lalu
0
thumb
Legenda AC Milan dan Italia Franco Baresi Tutup Usia, Dunia Sepak Bola Berduka
• 22 jam lalu
0
thumb
Gerindra Optimistis Kepuasan Publik atas Pemerintahan Prabowo Naik Lagi
• 3 jam lalu
0
thumb
Besok, Taufik Hidayat hingga Lin Dan Reuni di Shuttle Open 2026
• 14 jam lalu
0
thumb
Gubernur Riau Abdul Wahid Divonis 2 Tahun Penjara, KPK: Pembuktian Hukum Diakui Hakim
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.