jpnn.com, JAKARTA - Dalam rangka memperingati World Humanitarian Day 2026, Human Initiative (HI) menggelar Humanitarian Update bertajuk "Krisis Kemanusiaan Hari Ini: Apa yang Terjadi & Bagaimana Kita Merespons Bersama?".
Forum itu mempertemukan organisasi kemanusiaan, lembaga filantropi, pemerintah, akademisi, serta berbagai mitra untuk bertukar pandangan mengenai tantangan kemanusiaan dan pentingnya kolaborasi.
BACA JUGA: Kecam Penyekapan Perempuan di Bandung, Habib Aboe: Sangat Biadab & di Luar Batas Kemanusiaan
Vice President of Organizational Services & Development Human Initiative Andjar Radite mengingatkan bahwa setiap krisis selalu berdampak pada kehidupan manusia.
Untuk itu, respons kemanusiaan perlu menjaga martabat masyarakat dan melibatkan berbagai pihak sesuai kapasitasnya.
BACA JUGA: Baznas Kembali Salurkan Bantuan Kemanusiaan Rp 5 Miliar untuk Palestina
Andjar menilai kualitas respons tidak hanya bergantung pada kecepatan penyaluran bantuan.
Ketepatan sasaran, keamanan, inklusivitas, dan akuntabilitas juga menentukan efektivitas setiap aksi kemanusiaan.
BACA JUGA: APKI/IDHA Kutuk Keras Militer Israel yang Sempat Culik Sukarelawan Kemanusiaan
"Kita mungkin tidak mampu mencegah seluruh krisis, namun kita dapat memastikan bahwa masyarakat terdampak tidak menghadapinya sendiri,” ujar Andjar.
“Kita mungkin tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan dalam satu forum, namun kita dapat memulai langkah yang lebih terkoordinasi, lebih berani, dan lebih manusiawi," lanjutnya.
Pada sesi keynote speech, Head of OCHA Liaison Office to ASEAN Ronaldo G Reario menyoroti meningkatnya kebutuhan kemanusiaan, dampak perubahan iklim, keterbatasan pendanaan, serta tantangan menjangkau masyarakat terdampak. Menurutnya, kondisi tersebut menuntut kerja sama yang semakin erat.
"Tidak ada satu organisasi pun yang dapat menangani krisis kemanusiaan sendirian. Kolaborasi merupakan landasan utama bagi respons kemanusiaan yang efektif," kata dia.
Diskusi panel menghadirkan Direktur Eksekutif Humanitarian Forum Indonesia (HFI) Widowati, Plt. Direktur Eksekutif Perhimpunan Filantropi Indonesia (PFI) Rully Amirullah, serta Direktur Eksekutif Aliansi Pembangunan Kemanusiaan Indonesia (AP KI) sekaligus Manager Humanitarian Diplomacy & Advocacy Human Initiative Muhammad Kaimuddin.
Widowati menggarisbawahi pentingnya membangun kolaborasi sebelum krisis terjadi.
Jejaring antarlembaga disebut membantu memperjelas koordinasi dan memperkuat peran organisasi lokal dalam setiap tahapan respons.
Lalu, Rully Amrullah memandang filantropi tidak hanya menghimpun sumber daya, tetapi juga memperkuat kemitraan antara organisasi masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan komunitas.
“Kolaborasi tersebut dapat memperluas jangkauan program sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat,” tutur Rully. (dit/jpnn)
Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Ryana Aryadita Umasugi





Komentar (0)