JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto mengusulkan agar masyarakat kembali menggunakan atap rumah berbahan ijuk dan rumbai sebagai pengganti seng.
Menurut dia, material alami yang sejak lama digunakan masyarakat Indonesia itu lebih baik dibandingkan seng yang mudah berkarat.
Saat meresmikan renovasi bangunan cagar budaya Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah, Kamis (30/7/2026), Prabowo mengatakan bahwa bangsa Indonesia sejatinya telah lama menggunakan ijuk maupun rumbai sebelum atap seng banyak dipakai.
"Aslinya bangsa Indonesia tidak pakai seng. Kalau perlu kita kembali pakai ijuk, kembali pakai rumbai. Kalau tidak, kita harus cari. Rakyat kita dari dulu bisa bikin genteng kok. Genteng bukan teknologi baru, rakyat kita dari dulu pakai genteng," ujar Prabowo.
Prabowo menilai penggunaan seng tidak hanya membuat rumah menjadi lebih panas, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap kesehatan karena mudah berkarat.
"Seng ini cepat berkarat, karat ini tidak baik untuk kesehatan. Begitu banyak nanti penyakit paru-paru tanpa kita sadari," ucap Prabowo.
Usulan tersebut langsung menyedot perhatian publik.
Baca juga: Kepala BGN Tegaskan Tak Ada Program Pemerintah Terhenti Karena MBG
Di satu sisi, gagasan itu dipandang sebagai upaya mendorong penggunaan material yang lebih ramah lingkungan dan sehat.
Namun, di sisi lain, kalangan akademisi mengingatkan perlunya kajian sebelum kebijakan semacam itu diterapkan secara luas.
Terlebih, usulan penggunaan ijuk sebagai pengganti seng bukan kali pertama disampaikan Prabowo.
Kepala negara sudah berulang kali mengkritik penggunaan atap seng, bahkan sampai menggagas program "gentengisasi", hingga menyiapkan implementasinya melalui pemanfaatan genteng berbahan daur ulang sampah plastik, hingga pelaksanaan secara nasional melalui bedah rumah.
Pada awal Januari 2026, saat meninjau pembangunan hunian sementara korban banjir dan longsor di Aceh Tamiang, Aceh, Prabowo sempat mengoreksi penggunaan atap seng karena dinilai membuat bangunan menjadi panas.
Komentar (0)