Jarum jam menunjuk angka lima ketika sudut-sudut ruangan hampir terisi penuh. Dalam suasana hening, setiap pengunjung tampak menemukan ruangnya sendiri: di dekat jendela, di sela-sela rak sastra, atau di area kerja bersama. Jumat (17/7/2026) sore itu, Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang menjelma menjadi tempat singgah bagi mereka yang belum ingin mengakhiri harinya. Perpustakaan ini terletak di Gedung Nyi Ageng Serang, Jalan HR Rasuna Said, Karet Kuningan, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Di antara barisan meja panjang, jari-jari pengunjung lincah menari di atas papan tik. Di sudut lain, sepasang muda-mudi berbincang lirih di kursi melingkar, tak jauh dari siswa berseragam putih abu-abu yang sibuk menyusuri rak buku. Meski datang dengan tujuan berbeda, mereka berbagi ruang yang sama: mencari jeda di tengah riuhnya kota.
Pengunjung mendengarkan musik dari piringan hitam.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Koleksi buku yang dapat dinikmati pembaca.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Kesibukan pengunjung di perpustakaan.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Di salah satu sudut, Nirina (30) beberapa kali mengusap pelipis. Sorot matanya nyaris tak lepas dari layar laptop dan setumpuk dokumen. Di sampingnya, sebuah buku tergeletak, menunggu untuk dibaca. Sebagai pengunjung baru, ia bahkan belum sempat menjelajahi beragam fasilitas yang ada karena pekerjaan masih menjadi prioritasnya.
Selama ini, kesempatan bekerja dari rumah kerap dimanfaatkannya untuk berpindah ke kafe. Namun, kali ini perpustakaan menjadi pilihan. Selain suasananya lebih kondusif, biaya yang dikeluarkan pun jauh lebih hemat. ”Selain fasilitasnya lengkap, akses transportasi ke sini juga mudah. Dari Stasiun LRT Rasuna Said, saya cuma perlu berjalan kaki sekitar lima menit,” ujar perantau asal Surabaya, Jawa Timur, itu.
Pengalaman serupa juga dirasakan Sekar (25). Bagi perempuan yang berkantor sekitar 600 meter dari gedung perpustakaan itu, kehadiran kembali Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang dengan wajah baru menjadi kabar yang telah lama dinanti. Kini, ia kerap berkunjung setelah jam kerja, baik untuk membaca buku maupun menunutaskan pekerjaan.
Sebagai pembaca yang rutin meluangkan waktu untuk menuntaskan buku, Sekar berharap perpustakaan modern tidak hanya hadir di pusat kota. ”Kembalinya perpustakaan ini bisa menjadi langkah awal untuk meningkatkan budaya membaca. Ruang baca seperti ini juga perlu hadir di kawasan pinggiran sehingga masyarakat bisa mengaksesnya setiap hari, bukan hanya saat akhir pekan,” tuturnya.
Setelah enam tahun tidak beroperasi, Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang resmi dibuka kembali pada 7 Juli 2026. Perpustakaan ini pernah tutup akibat sejumlah kendala operasional. Kini, wajahnya tampil lebih segar dengan konsep yang menyesuaikan kebutuhan warga kota.
Menempati lantai tujuh dan delapan dengan luas sekitar 4.000 meter persegi, perpustakaan ini dirancang sebagai hub literasi baru bagi warga Jakarta. Tidak hanya menjadi tempat membaca, ruang ini juga mendukung aktivitas belajar, bekerja, berdiskusi, hingga berkomunitas.
Pengunjung bersantai sambil membaca buku.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Buku berbahasa Inggris yang dibaca pengunjung.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Interior modern yang mempercantik perpustakaan.
(KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA)
Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang memiliki koleksi puluhan ribu judul buku dari beragam bidang, mulai dari sastra, sejarah, ilmu pengetahuan, hingga bacaan anak. Selain itu, tersedia ruang multimedia, ruang lokakarya, bilik privat, area kerja bersama, serta layanan penelusuran informasi yang dapat dimanfaatkan pengunjung.
Kehadiran beragam fasilitas tersebut mencerminkan perubahan wajah perpustakaan di era modern. Jika dulu identik dengan ruangan sunyi dan aturan yang serba kaku, kini perpustakaan berkembang menjadi ruang publik yang inklusif dan fleksibel. Pengunjung datang tidak semata untuk meminjam buku, tetapi juga mencari inspirasi, menyelesaikan pekerjaan, atau sekadar menikmati waktu luang.
Nama Nyi Ageng Serang yang tersemat pada perpustakaan ini menyimpan makna tersendiri. Tokoh perempuan yang hidup pada abad ke-18 itu dikenal sebagai pejuang yang terlibat dalam Perang Jawa bersama Pangeran Diponegoro. Kini, namanya diabadikan pada sebuah ruang yang melanjutkan perjuangan melalui penyebaran pengetahuan.
Perpustakaan ini buka setiap hari pukul 09.00-22.00 WIB. Jam operasional yang panjang membuatnya tetap menyala ketika banyak ruang baca memilih tutup. Di balik jendela, Jakarta tak pernah benar-benar terlelap, sementara halaman demi halaman terus menemukan pembacanya.






Komentar (0)