TABLOIDBINTANG.COM - Ngemil sudah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang. Mulai dari menikmati teh dengan biskuit, camilan gurih di sela bekerja, hingga menikmati makanan penutup di malam hari, kebiasaan ini sering kali dilakukan tanpa disadari.
Namun, ahli nutrisi fungsional, pelatih biohacking, dan peneliti nutrigenomik Tanya Malik Chawla mengingatkan bahwa tubuh manusia sebenarnya tidak dirancang untuk terus-menerus mengonsumsi makanan sepanjang hari.
"Manusia bukan hewan pemakan rumput seperti sapi atau kambing. Secara biologis, kita lebih mirip singa yang mengonsumsi makanan bergizi dalam porsi cukup, kemudian memberi waktu bagi hati, pankreas, dan usus untuk mencerna serta memperbaiki tubuh," ujar Chawla.
Menurut Chawla, keinginan untuk terus ngemil bukan hanya disebabkan oleh kurangnya kemauan menahan lapar, melainkan karena tubuh mengalami kondisi "kelebihan kalori tetapi kekurangan nutrisi".
Ia menjelaskan bahwa banyak camilan yang dikonsumsi masyarakat mengandung karbohidrat olahan, seperti biskuit, gorengan, atau makanan ringan lainnya. Saat dikonsumsi, makanan tersebut akan diubah menjadi glukosa.
Padahal, tubuh sebenarnya membutuhkan protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral penting seperti zat besi serta vitamin D.
Akibatnya, sel-sel tubuh tidak memperoleh nutrisi yang benar-benar dibutuhkan sehingga otak terus mengirim sinyal lapar. Kondisi ini membuat seseorang terdorong untuk terus makan atau ngemil sepanjang hari.
Meningkatkan Risiko Resistensi Insulin
Kebiasaan ngemil terus-menerus juga membuat pankreas harus memproduksi insulin tanpa henti untuk mengatur kadar gula darah.
Dalam jangka panjang, sel tubuh dapat menjadi kurang responsif terhadap insulin atau mengalami resistensi insulin.
Saat hal itu terjadi, kelebihan glukosa akan diubah oleh hati menjadi trigliserida. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit hati berlemak nonalkohol, kolesterol tinggi, hingga penumpukan lemak di area perut, bahkan pada orang yang memiliki berat badan ideal.
Ngemil Juga Memengaruhi Hormon Otak
Menurut Chawla, makanan manis dan tinggi karbohidrat olahan memicu pelepasan hormon dopamin yang memberikan rasa senang secara instan.
Lama-kelamaan, otak akan terbiasa dengan lonjakan dopamin tersebut sehingga membutuhkan camilan dalam jumlah lebih banyak atau lebih sering untuk mendapatkan rasa puas yang sama.
Inilah yang membuat kebiasaan ngemil dapat berkembang menjadi pola makan yang sulit dikendalikan.
Chawla juga mengingatkan agar tidak mengonsumsi camilan menjelang waktu tidur.
Pasalnya, kadar insulin yang meningkat setelah makan dapat menghambat pelepasan Human Growth Hormone (HGH), hormon yang berperan penting dalam proses pemulihan otot, perbaikan jaringan tubuh, dan metabolisme selama tidur.
Jika seseorang sering makan sebelum tidur, proses perbaikan alami tubuh pada malam hari dapat terganggu.
Cara Mengurangi Kebiasaan Ngemil
Untuk membantu tubuh bekerja lebih optimal, Chawla menyarankan beberapa perubahan pola makan, antara lain:
- Terapkan pola makan seimbang dengan komposisi sekitar 30 persen protein, 30 persen lemak sehat, dan 40 persen karbohidrat kompleks.
- Pilih camilan yang berasal dari bahan alami, seperti yogurt Yunani, telur rebus, kacang-kacangan yang telah direndam, edamame, atau wortel dengan hummus buatan sendiri.
- Beri jeda setidaknya tiga jam antara makan malam dan waktu tidur agar kadar insulin dapat kembali menurun.
- Saat sarapan, utamakan makanan tinggi protein dan lemak sehat dibandingkan karbohidrat sederhana agar rasa kenyang bertahan lebih lama.
Selain membahas kebiasaan ngemil, Chawla juga menyoroti sejumlah isu lain yang berkaitan dengan pola makan, seperti penyebab makan berlebihan selama masa perimenopause, pengaruh makanan terhadap ekspresi gen, serta potensi risiko jika menjalani puasa intermiten secara berlebihan.





Komentar (0)