“Aduknya pelan-pelan,” ujar Inge kepada Didit Damayanti.
Didit pun mengaduk dengan khusyuk, memastikan semua bahan tercampur rata. Para ibu ini sedang membuat sabun cuci baju ramah lingkungan dari ecoenzyme.
Terakhir, sabun cair yang sudah jadi dituangkan dalam botol-botol dan diberi stiker. Para peserta workshop pun bisa membawa pulang hasil karya mereka, sabun cuci baju dan sabun cuci piring ramah lingkungan tersebut.
Pelatihan ini menjadi bagian dari aksi Sustainable Journalism Fellowship 2026 yang diadakan Indonesia Institute of Journalism, CIMB Niaga, dan Global Reporting Initiative (GRI). Sekitar 40 petani di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor berkumpul di saung Gapoktan Benteng Makmur, Selasa (26/7/2026), untuk memahami cara mengolah sampah dapur menjadi sabun cuci ramah lingkungan.
Pelatihan diisi beberapa pengurus Komunitas Ecoenzyme Nusantara Bogor Raya seperti Ketua Komunitas Nurita Eryani, Novita Mahanani, Jeane Tan, Johana Ida, dan Siti Maryam.
Nurita menjelaskan, dia awalnya menggunakan ecoenzyme untuk membersihkan rumah baik mengepel lantai dan kaca jendela. “Ternyata kinclong, saya jadi senang banget. Kan nggak usah belanja bahan pembersih lagi, cukup pakai ecoenzyme,” ujarnya.
Setelah belajar cara membuat sabun cuci baju dan sabun cuci piring berbahan ecoenzyme, Nurita tak hanya memanfaatkan di kediamannya saja. Dia menjual produk ramah lingkungan ini di Koperasi Dawam Jaya Istiqomah yang dikelola bersama pengurus lain.
“Koperasi biasa menjual sabun cuci baju per lima liter. Dari setiap lima liter ini, ada margin sekitar Rp 19.000,” tuturnya.
Sabun cuci baju dalam kemasan lima liter dijual Rp 70.000. Bila menghendaki kemasan lebih kecil, koperasi juga menyediakan dengan harga Rp 15.000 per liter untuk sabun cuci baju dan Rp 18.000 untuk sabun cuci piring.
Karenanya, menurut Nurita, selain membuat rumah tangganya bisa berhemat uang belanja deterjen, sabun cuci ramah lingkungan berbahan ecoenzyme ini bisa mendatangkan cuan.
“Pertamanya tentu harus mau membuat ecoenzyme dulu,” kata Nurita.
Ecoenzyme adalah hasil fermentasi kulit buah dan sayur yang kerap dihasilkan di setiap rumah tangga. Fermentasi dari molase/gula, bahan organik, dan air dengan rasio 1:3:10 dalam wadah kedap udara selama tiga bulan akan menghasilkan cairan yang disebut ecoenzyme.
Rasio dan cara pengolahan sampah dapur menjadi ecoenzyme dirumuskan oleh peneliti asal Thailand, Dr Rosukon Poompanvong. Metode ini kemudian menyebar ke beberapa negara seperti Malaysia dan Indonesia. Ecoenzyme yang memiliki banyak manfaat pun dikembangkan menjadi beragam produk turunan, dua di antaranya sabun cuci baju dan sabun cuci piring.
Jeane menjelaskan, sabun cuci berbahan ecoenzyme lebih ramah lingkungan sebab bahan-bahannya alami dan mudah terurai. Bahan utamanya hanya ecoenzyme, air, dan methyl ester sulfonate (MES) – surfaktan yang terbuat dari produk turunan crude palm oil (CPO).
“Kalau untuk penggunaan di rumah saya, cukup MES dan ecoenzyme. Itu saja cucian saya sudah bersih dan segar saat sudah dijemur dan kering. Tidak ada bau apek dan membilasnya tak perlu berulang-ulang. Saya jadi hemat air,” tuturnya.
Namun, untuk mendekatkan rasa mencuci seperti menggunakan deterjen yang biasa dibeli di toko, ditambahkan beberapa bahan seperti pewangi, garam, dan penambah busa. Wangi sabunnya pun bisa disesuaikan dengan kesukaan pengguna.
Pengolahan sampah dapur menjadi ecoenzyme menjadi salah satu cara untuk mengurangi sampah yang dikirim ke tempat pembuangan akhir. Cara lainnya adalah membuat kompos.
Sampah dapur seperti kulit buah dan sisa potongan sayur ini penting untuk diolah dari hulu atau rumah masing-masing. Sebab, sampah organik ini berkisar 60-70 persen dari sampah yang dibuang.
Bila dibuang dan dikirim ke tempat pembuangan akhir (TPA), sampah organik akan menimbulkan masalah. Sebab, kebanyakan TPA di kota/kabupaten di Indonesia hanya menumpuk sampah alias menggunakan metode open dumping. Akibatnya, gunungan sampah raksasa terbentuk. Selain bau dan kuman, sampah organik biasanya menghasilkan gas metana yang mudah terbakar dan menimbulkan efek gas rumah kaca.
Adanya gas metana ini membuat TPA rentan mengalami kebakaran. Salah satu TPA yang terbakar baru-baru ini adalah TPA Jatiwaringin Kabupaten Tangerang.
Perlu lebih dari seminggu untuk memadamkan kebakaran akibat gas metana yang terbentuk di gunungan sampah di TPA Jatiwaringin. Tahun 2023, malah lebih dari dua puluh TPA mengalami kebakaran serupa.
Karenanya, pengolahan sampah organik dari hulu perlu dilakukan. Setiap rumah tangga bisa memulai.
Salah seorang peserta pelatihan, Tati (54) yang juga warga Kampung Lebak Gunung, Desa Benteng mengatakan baru kali ini mengetahui cara membuat ecoenzyme sekaligus cara mengolahnya kembali menjadi sabun.
“Ternyata gampang buatnya. Nanti kapan-kapan mau pakai (ecoenzyme) buat nyemprot tanaman,” tutur perempuan yang sehari-hari bekerja di kebun singkong itu.
Nugrahini Rahayu (54) dari Kelompok Tani Barokah sudah mulai membuat ecoenzyme kendati masih menanti panen ecoenzyme. Dia sudah mulai membuat sabun mandi sendiri dengan bahan alami.
“Membuat sabun sendiri itu hemat banget, mungkin ada Rp 50.000 yang dihemat dari biaya belanja sabun dan sabun cuci piring,” tuturnya.
Setelah mengikuti workshop membuat sabun cuci baju, Nugrahini akan melanjutkan di rumahnya. Selain itu, lanjutnya, dia biasanya berbagi ilmu dengan sekitar dua puluh ibu di kelompok tani Barokah.
Salah seorang penyuluh Titik Mulyati pun antusias mengikuti workshop pembuatan sabun cuci ramah lingkungan berbahan ecoenzyme. Titik yang baru pindah tugas ke Kecamatan Cibungulang, Kabupaten Bogor pun bersiap untuk membuat pelatihan serupa di tempat barunya.
“Senang, hari ini ada tambahan ilmu baru, mudah-mudahan bisa dishare dan diaplikasikan,” ujarnya.
Salah satu hal terpenting dalam pembuatan sabun cuci berbahan ecoenzyme ini, menurut Novita Mahanani, adalah mendorong masyarakat mau mengolah sampah organik di rumahnya. Apalagi dengan menunjukkan ada nilai yang bisa diraih dari produk turunannya, diharap warga semakin semangat mengolah sampah organik serta mendapat manfaat. Jadi, selain mengatasi masalah sampah, ada cuan, apalagi in this economy!






Komentar (0)