Konsep Familiar Stranger: Sering Melihat Bukan Berarti Mengenal

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Dalam kesehariannya, anak-anak sering bertemu dengan orang-orang di tempat yang sama. Ketika melakukan perjalanan ke sekolah dan pulang sekolah, anak berulang kali melihat misalnya penjual jajanan atau mainan di trotoar depan sekolah, pengemudi opang (ojek pangkalan) yang mangkal di dekat-dekat gerbang sekolah, pengemudi-pengemudi pribadi teman di sekolah, dan orang-orang yang lalu lalang di jalanan depan sekolah.

Kemungkinannya, anak tidak pernah berbicara dengan orang-orang asing tersebut, tidak mengetahui namanya dan siapa keluarganya. Namun karena anak sering melihat wajahnya sehingga anak seolah-olah sudah mengenal orang tersebut. Dalam perspektif psikologi sosial, orang seperti itu disebut familiar stranger atau orang asing yang terasa familiar atau dikenali.

Pengertian Familiar Stranger

Konsep familiar stranger pertama kali diperkenalkan oleh Stanley Milgram, seorang ahli sosiologi, pada tahun 1972. Milgram mendefinisikan familiar strangers sebagai "orang-orang yang sering kita amati tapi tidak saling berinteraksi".

Konsep ini kemudian diteliti dalam konteks perilaku manusia di ruang publik. Secara lebih rinci, familiar stranger adalah seseorang yang secara berulang kita lihat dalam rutinitas sehari-hari sehingga kita mengenali wajahnya namun sebenarnya kita tidak memiliki hubungan sosial dengannya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa familiar stranger memiliki tiga ciri yaitu sering terlihat, dikenali, namun tidak terdapat interaksi sosial.

Urgensi Familiar Stranger

Membedakan antara "saya mengenali orang itu" karena pernah melihatnya berkali-kali dan "saya mengenal orang itu", bagi orang dewasa dapat dikatakan relatif mudah namun bagaimana dengan anak-anak? Anak-anak, terutama usia SD dan di bawahnya, belum tentu melihatnya sesederhana seperti yang dilihat orang dewasa.

Seorang anak bisa saja berkata, "aku kenal bapak itu, sering berada di depan sekolah" padahal yang sebenarnya dimaksud anak adalah mengenali wajahnya dan bukan mengenal identitas bapak itu. Yang perlu ditandai oleh para ibu adalah merasa familiar bukan berarti sama dengan merasa aman.

Mengapa wajah yang sering terlihat bisa menimbulkan rasa aman?

Penjelasannya adalah karena mere exposure effect. Hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan berulang terhadap suatu hal dapat meningkatkan familiarity, recognition, dan dalam kondisi tertentu bisa menimbulkan rasa suka atau positif terhadap suatu stimulus.

Hal ini merupakan suatu fenomena psikologis, dan ada dalam budaya Indonesia misalnya dengan ungkapan "tak kenal maka tak sayang" yang bisa diterjemahkan dengan sering berinteraksi sosial dengan seseorang maka akan lebih mengenalnya.

Contohnya adalah saat seorang politisi berkampanye agar dipilih oleh warganya maka ia akan memaparkan dirinya kepada mereka sesering yang yang ia mampu lakukan agar warga kenal dengannya. Dari contoh ini jelas bahwa familiaritas bukan menunjukkan bukti tentang identitas asli atau karakter seseorang.

Anak bisa jadi menggunakan penilaian terhadap penampilan seseorang ketika ia perlu memutuskan apakah orang tersebut dapat dipercaya. Ewing dkk. (2015) menunjukkan hasil penelitiannya bahwa anak usia 5 maupun 10 tahun memperlihatkan kecenderungan mempercayai orang dengan wajah yang dipersepsikan sebagai "terlihat dapat dipercaya".

Penjelasan secara umumnya adalah anak melihat orang tersebut sebagai orang yang bersahabat karena sering dilihat, padahal wajah bukan ukuran untuk menentukan apakah niat seseorang baik atau buruk. Dengan demikian para ibu perlu mempertimbangkan untuk tidak mengajarkan anak bahwa seseorang itu baik atau buruk berdasarkan penampilannya, misalnya orang berbahaya digambarkan sebagai orang yang tampak menakutkan atau berpakaian aneh. Sebaliknya anak juga perlu diajari bahwa orang dengan wajah ramah dan berpenampilan biasa bukan berarti adalah orang baik.

Familiar stranger bukan berarti pasti berbahaya

Para ibu perlu berhati-hati kepada anaknya dalam menyampaikan pesan mengenai familiar stranger karena bisa saja menimbulkan rasa takut pada anak kepada semua orang asing. Familiar stranger bukan berarti penculik, orang-orang yang sering kita lihat belum tentu memiliki niat buruk. Dan belum terdapat bukti kuat yang mengatakan bahwa fenomena familiar stranger secara langsung menyebabkan penculikan anak.

Yang perlu diwaspadai oleh para ibu adalah false familiarity pada anak. Anak yang mengatakan, "orang itu aku kenal sehingga aku percaya", perlu diingatkan oleh ibu bahwa orang yang sering dilihat anaknya bukan berarti orang itu adalah orang baik atau orang yang dapat dipercaya.

Sebaliknya, para ibu juga perlu menghindari nasihat stranger danger pada anak, yaitu "orang asing itu berbahaya" atau "jangan percaya orang asing". Karena tidak semua orang asing berniat jahat, bahkan orang yang dikenal juga bisa berbuat jahat. Anak juga dapat mengalami penculikan atau eksploitasi oleh orang yang dikenal dan terlihat baik.

Yang lebih tepat dipesankan kepada anak adalah keselamatan diri, lebih baik fokus pada perilaku dan situasi yang tidak aman, bukan "orang asing vs orang yang dikenal".

Apa yang sebaiknya diajarkan pada anak?

Pertama, bantu anak membedakan situasi berikut:

"Aku pernah melihat dia"

"Aku tahu siapa dia"

"Ayah dan ibu mengenal dia dan percaya dia"

Bila anak mengenali wajah seorang bapak yang setiap hari berada di depan sekolahnya merupakan contoh dari kalimat pertama. Jika bapak itu memanggil nama anak, bukan berarti ia dapat dipercaya karena bisa saja bapak itu mendengar ketika anak-anak lain memanggil nama anak.

Kedua, orang tua dengan tegas membuat aturan sederhana yaitu "anak tidak pergi ke mana pun dengan siapa pun tanpa izin orang tua atau guru yang bertanggung jawab".

Ketiga, beri pemahaman kepada anak bahwa jangan mau bila ada orang dewasa atau orang yang lebih tua darinya meminta bantuan. Karena sewajarnya orang dewasa akan meminta pertolongan kepada orang dewasa lain bukan kepada anak-anak yang tidak dikenalnya.

Keempat, latihkan anak respons sederhana untuk menyelamatkan diri, yaitu tolak-jauhi-ceritakan. Bila ada orang dewasa yang yang tidak dikenal maka anak dilatih untuk mengatakan tidak, lalu menjauh dengan pergi ke tempat yang aman seperti masuk ke dalam sekolah, lalu menceritakan kepada ayah dan ibu atau guru, atau orang dewasa yang dipercaya.

Ada baiknya anak diberi pelatihan dalam situasi yang menyerupai keadaan nyata, karena anak perlu konkret-operasional dengan mengalami secara langsung dengan in situ training di sekolah. Menurut ahli psikologi perkembangan Jean Piaget, anak usia 7-11 tahun berada pada masa konkret-operasional, yaitu anak mampu berpikir logis, logika dipakai untuk objek nyata atau yang kelihatan, dan anak mampu membuat kategori dengan mengelompokkan benda ataupun situasi.

Kesimpulan

Fenomena familiar stranger perlu diwaspadai oleh anak karena rentan digunakan untuk kepentingan buruk seperti penculikan, walau bukan berarti familiar stranger identik dengan penculikan atau kejahatan. Yang penting diajarkan pada anak adalah konsep keselamatan diri, bukan sekadar orang asing vs orang yang dikenal.

Untuk itu orang tua perlu melatih anak dengan keterampilan menyelamatkan diri menghadapi situasi familiar stranger yang mencoba berinteraksi dengan anak. Pemberian pemahaman tentang keselamatan diri saja belum cukup, anak perlu diberikan latihan dalam keadaan yang menyerupai situasi nyata seperti di sekolah. Hal ini mengacu pada tahap perkembangan anak SD yang berada pada tahap konkret operasional.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Trotoar Jalan Raya Sawangan Depok Amblas, Pejalan Kaki Terpaksa Turun ke Jalan
• 5 jam lalu
0
thumb
Potret Bahagia Shenina Cinnamon dan Angga Yunanda yang Baru Dikaruniai Anak Pertama
• 9 jam lalu
0
thumb
Taruna Akpol Ditemukan Tewas di Kompleks Akpol Semarang: Kondisi Terluka
• 3 jam lalu
0
thumb
Dedi Mulyadi Angkat Bicara soal Tuduhan Pilih Kasih, Ini Penjelasan Soal Bantuan Rp25 Juta
• 6 jam lalu
0
thumb
Kejagung Tetapkan Tersangka Baru di Kasus TPPU Febrie Adriansyah
• 22 jam lalu
0
Berhasil disimpan.