Tinggalkan laut demi ikan air tawar

antaranews.com
2 jam lalu
Cover Berita
Batam (ANTARA) - "Sekarang sudah tidak ada kepikiran ke laut lagi," kata Abbas, warga Pulau Karas, Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu.

Di pulau kecil itu, yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup sebagai nelayan, ucapan Abbas terdengar tak biasa.

Abbas memang pernah melaut. Namun, pekerjaan itu sudah ditinggalkannya sejak sekitar dua tahun lalu.

"Untuk melaut harus menempuh jarak jauh, dengan biaya besar dan risiko besar," katanya.

Hasil tangkapan yang tidak pasti mendorongnya untuk beralih profesi. Bukan ikan laut lagi yang dia incar, tetapi ikan air tawar yang dia besarkan di kolam-kolam terpal.

Pulau Karas berada di Kecamatan Galang, Kota Batam, dan bisa ditempuh selama 30 menit dengan kapal tradisional dari dermaga Tanjung Banun di ujung utara Pulau Rempang.

Perlu waktu lagi untuk menempuh perjalanan darat melewati jalan tak beraspal dan kawasan hutan, untuk mencapai lokasi budi daya ikan air tawar milik Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Anak Karas Kecil yang diketuai Abbas.

Baca juga: KKP dukung budi daya ikan bioflok untuk pemberdayaan desa

Di balik rerimbunan pohon, 30 kolam terpal berjajar di atas lahan setengah hektare yang cukup jauh dari permukiman warga. Di sanalah kelompok itu membesarkan lele dan nila, setelah Abbas belajar budi daya ikan air tawar di Tanjung Balai Karimun dan Bintan.

Dalam satu kali panen, Pokdakan Anak Karas Kecil rata-rata mendapatkan sekitar 200 kilogram lele dari 22 kolam terpal tradisional. Namun jika kondisi kolam mendukung dan tidak ada penyakit, mereka bisa menghasilkan 300 hingga 500 kilogram. Produksi mereka kemudian dijual kepada pengepul di Sembulang.

Dengan harga jual lele saat itu yang mencapai Rp24.000 per kilogram, Abbas dan kawan-kawannya bisa mengantongi uang hingga Rp12 juta sekali panen. Setelah disisihkan sebagian untuk pakan dan biaya operasional, sisa penghasilan dipakai untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

"Insya Allah sudah mencukupi," kata Abbas, yang mengaku keturunan Melayu.

Keberhasilan usaha kecil mereka menarik perhatian pemerintah setempat. Pada akhir 2025, kelompok tersebut memperoleh bantuan delapan kolam bioflok untuk budi daya nila dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kolam-kolam terpal konvensional untuk budi daya lele terlihat saat tim Dinas Perikanan Kota Batam mengunjungi Pulau Karas, Kepulauan Riau (5/5/2026). (ANTARA/Amandine Nadja) Namun, pengalamannya dengan lele ternyata tidak membuat Abbas langsung percaya diri membudidayakan nila dengan sistem bioflok, yang memanfaatkan mikroorganisme sebagai pendaur ulang limbah dari kotoran ikan dan pakan.

Berbeda dengan pembesaran lele tradisional yang telah lama ditekuni, sistem tersebut menuntut dia dan kelompoknya untuk selalu menjaga kualitas air dan keseimbangan mikroorganisme di dalam kolam.

Baca juga: KKP bangun budidaya ikan bioflok untuk Kopdes Merah Putih di Situbondo

Banyak hal yang harus dipahami, kata Abbas, karena ini kali pertama kelompoknya membudidayakan nila dengan cara dan perlakuan yang baru.

"Pada awal-awal banyak yang mati karena bibitnya terlalu kecil, kira-kira 3 sampai 4 centimeter," ujarnya.

Bibit ikan yang terlalu kecil berisiko mengalami keracunan karena kondisi fisiknya belum siap menoleransi air dalam kolam bioflok.

Ketika dikunjungi tim dari Dinas Perikanan Batam pada Mei 2026, petugas memeriksa kualitas air, sistem aerasi, pemberian pakan, dan ukuran ikan dalam sebuah kolam.

Kepala dinas Yudi Admajianto menilai kondisi kolam bioflok itu belum sesuai harapan. Airnya terlihat cokelat dan beberapa ikan mati mengambang.

Kolam bioflok biasanya memiliki air berwarna hijau tua, yang menjadi petunjuk bahwa gumpalan organik (flok) di dalamnya berkembang dengan baik. Selain menjaga kualitas air, flok menjadi makanan alami dengan kandungan protein tinggi sehingga mampu menekan biaya pakan.

Hasil pemeriksaan air pada kolam bioflok itu menunjukkan bahwa produksi flok masih sangat rendah sehingga kualitas air berkurang, pertumbuhan ikan melambat, dan bahkan berisiko menyebabkan kematian ikan. Perbaikan kondisi diperkirakan memakan waktu sekitar dua bulan.

Petugas Dinas Perikanan Kota Batam mengukur kualitas air kolam bioflok untuk budi daya nila di Pulau Karas, Kepulauan Riau (5/5/2026). (ANTARA/Amandine Nadja) Meski demikian, Yudi mengatakan Pokdakan Anak Karas Kecil akan segera panen nila. Dia mengaku sedang mencari pengepul yang mau membeli hasil panen mereka langsung di Pulau Karas yang cukup jauh dari pusat kota.

Dengan cara itu, biaya pengiriman ikan bisa ditekan sehingga hasil penjualan lebih menguntungkan pembudidaya.

Baca juga: KKP berikan pelatihan bioflok bagi 100 Kopdes Merah Putih

Dari delapan kolam bioflok yang masing-masing berisi 700–800 ekor nila, hasil panen diperkirakan mencapai sekitar 60–70 kilogram per kolam. Dengan harga per kilogram saat itu yang mencapai Rp28.000 sampai Rp35.000, Abbas dan kelompoknya bisa menerima penghasilan Rp13 juta hingga Rp19 juta.

Menurut Yudi, permintaan terhadap ikan air tawar seperti lele, nila, dan patin di Batam cukup tinggi, sekitar 5 hingga 8 ton per hari. Di akhir pekan, ketika kunjungan wisatawan meningkat, angkanya bisa mencapai 10 ton per hari.

Tingginya permintaan tersebut membuka peluang bagi masyarakat setempat untuk memperoleh pendapatan tambahan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada hasil tangkapan laut.

Bagi Abbas, peluang itu sudah dimanfaatkannya. Laut yang dulu menjadi ladang penghidupannya sekarang berganti dengan kolam-kolam terpal yang dia rawat setiap hari, sembari menunggu panen nila pertamanya dari sistem bioflok.

Baca juga: Lapas Batam kembangkan budidaya ikan nila dengan sistem bioflok
Baca juga: KKP minta peternak pakai teknologi bioflok untuk jaga pertumbuhan ikan


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Resmikan Wajah Baru Stasiun Semarang Tawang, Prabowo Bicara Warisan Sejarah
• 19 jam lalu
0
thumb
Prabowo Resmikan Revitalisasi Stasiun Tawang Semarang, Bangunan Peninggalan Belanda Sejak 1914 
• 23 jam lalu
0
thumb
Janice Tjen Tersingkir Dramatis di DC Open 2026, Sempat Bikin Unggulan Kelima Kelimpungan
• 1 jam lalu
0
thumb
Presiden Prabowo Siapkan Lomba Kota Terbersih Berhadiah Insentif hingga Rp20 Miliar
• 6 jam lalu
0
thumb
Ada 27 CCTV di Waduk Jatiluhur tapi Tak Satu Pun Sorot TKP Satpam Tewas
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.