jpnn.com, JAKARTA - Rekonsiliasi kilat antara Ketua PWI Pusat Akhmad Munir dan Hotman Paris di atas meja makan dinilai merendahkan martabat wartawan jilid dua.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Paguyuban Jurnalis Mitra Polri (JMP) Ikhwan Amdi Azis di Jakarta, Kamis (30/7).
BACA JUGA: Sepakat Berdamai, PWI Pusat Resmi Cabut Laporan Polisi Terhadap Hotman Paris
Ketua JMP menilai luka yang ditimbulkann kompromi instan ini jauh lebih perih ketimbang makian awal "Lu Punya Otak Enggak Sih".
Ikhwan Andi Aziz mengatakan para bos yang berdamai itu tertawa renyah di depan hidangan, sementara ribuan jurnalis di lapangan menanggung malu.
BACA JUGA: Mundur dari Pengacara Eks Jampidsus Febrie, Hotman Paris Bicara Soal Kesehatan
"Wartawan berdarah-darah menjaga marwah, elite murah banget berkompromi pakai dalih 'Demi Persatuan Indonesia'. Apa hubungannya penghinaan ini dengan persatuan bangsa?" sindir Ikhwan.
Secara hukum, JMP mencium bau amis. Kasus baru berjalan seminggu dan saksi baru diperiksa, namun laporan langsung dicabut.
BACA JUGA: Hotman Paris Jawab Isu di Medsos soal Menunggak Pajak
"Ini jadi preseden buruk: besok-besok, silakan lecehkan wartawan, asal ujungnya selesai lewat diplomasi piring makan," tandas Ikhwan.
Skandal "damai meja makan" ini bikin sesepuh pers gerah dan turun gunung. Wartawan senior Dimas Supryanto langsung menelanjangi narasi "Persatuan Nasional" yang dipakai elite untuk cuci tangan.
"Demi persatuan nasional? Memangnya memproses hukum Hotman Paris bisa bikin negara kudeta? Mantan Jampidsus yang simpan 74 kg emas saja bisa ditahan, kok pengacara ini sakti betul?" ujar Dimas.
Sementara itu, Ketua Umum PWI Pusat Akhmad Munir berdalih pencabutan murni karena Hotman sudah minta maaf.
Sebuah keputusan yang diklaim demi "persaudaraan dan persatuan bangsa" narasi klasik saat harga diri profesi telanjur dijual murah. (cuy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... PWI Pusat Laporkan Hotman Paris ke Polda atas Dugaan Penghinaan Wartawan
Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan





Komentar (0)