jpnn.com, JAKARTA - Ketua Harian Gerindra Sufmi Dasco Ahmad menyebutkan angka elektabilitas seseorang tokoh berubah-ubah dan bisa naik atau turun seusai waktu berdasarkan temuan lembaga survei.
Hal demikian dikatakan dia menyikapi survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menyatakan elektabilitas Presiden RI Prabowo Subianto menurun dan Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi atau KDM menanjak.
BACA JUGA: Elektabilitas Prabowo Merosot, Pengamat Ungkit Reshuffle Menteri
"Ya, kan, kalau yang nama survei fluktuatif. Kadang naik, kadang turun," ujar Dasco ditemui di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (30/7).
Toh, kata Wakil Ketua DPR RI itu, hasil penelitian lembaga survei terkadang bisa berbeda satu sama lain, sehingga tidak memusingkan temuan SMRC.
BACA JUGA: Elektabilitas Prabowo Anjlok saat Kepuasan Publik Atas Kinerja Pemerintah Merosot
"Itu survei yang satu dengan yang lain, kan, kadang sama, kadang berbeda. itu yang bisa saya sampaikan," ujarnya.
SMRC menyebut angka keterpilihan Presiden RI Prabowo Subianto mengalami tren penurunan berdasarkan survei berjudul Elektabilitas Calon-Calon Presiden.
BACA JUGA: Survei SMRC, Elektabilitas Prabowo Drop Parah dalam 9 Bulan Terakhir
"Dalam sembilan bulan terakhir, elektabilitas Prabowo dalam simulasi semi terbuka menurun," demikian petikan rilis yang telah terkonfirmasi oleh Peneliti SMRC Saidiman Ahmad, Rabu (29/7).
Diketahui, SMRC menghitung elektabilitas sosok yang berpotensi menjadi capres dalam simulasi semi terbuka untuk periode November 2025 hingga Juli 2026.
Elektabilitas Prabowo tercatat sebesar 34,9 persen atau yang tertinggi dibandingkan tokoh lain dalam temuan November 2025.
Angka keterpilihan eks Menhan RI itu turun tipis dalam temuan SMRC pada Februari-Maret 2026, yakni 33,3 persen.
Tren penurunan kemudian berlanjut. Elektabilitas Prabowo anjlok dalam temuan SMRC pada Juli 2026 dengan mengantongi 14,5 persen.
Sebaliknya, elektabilitas Gubernur Jabar Dedi Mulyadi atau KDM menunjukkan tren kenaikan tajam dalam sembilan bulan terakhir dan menduduki posisi pertama.
"Pada periode yang sama, elektabilitas Dedi Mulyadi naik," lanjut petikan rilis resmi SMRC.
Temuan lembaga itu menyatakan elektabilitas KDM pada November 2025 hanya 19,7 persen, tetapi meningkat menjadi 23,3 persen pada Februari-Maret 2026.
Elektabilitas eks Bupati Purwakarta itu makin meningkat pesat dalam temuan SMRC pada Juli 2026 menjadi 35 persen.
Sementara itu, kandidat lain seperti eks Gubernur Jakarta Anies Baswedan mengalami naik dan turun elektabilitas.
SMRC mencatat elektabilitas Anies hanya 6,1 persen pada November 2025, lalu naik 10,8 persen pada Februari-Maret 2026. Namun, angka itu menurun menjadi 8,2 persen pada Juli 2026.
Selanjutnya, elektabilitas Wapres RI Gibran Rakabuming mengalami tren kenaikan meski tak besar.
SMRC mencatat elektabilitas Gibran sebesar 5, persen pada November 2025, naik menjadi 6,8 persen pada Februari-Maret, dan terakhir di angka 7,7 persen pada Juli 2026.
Adapun, SMRC melaksanakan survei berjudul Elektabilitas Calon-Calon Presiden pada periode 5-19 Juli 2026.
Lembaga tersebut melibatkan 749 responden yang ditunjuk secara acak dalam survei kali ini. Mereka yang terpilih ialah seluruh warga Indonesia dengan hak coblos.
Survei dilaksanakan melalui telepon ke 83,8 persen responden, sedangkan yang tidak punya ponsel diwawancarai secara tatap muka atau 16,2 persen.
SMRC menetapkan margin of error atau toleransi kesalahan untuk survei berjudul Elektabilitas Calon-Calon Presiden sekitar 3,7 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Efriza Nilai Jokowi Effect Tak Lagi Cukup Dongkrak Elektabilitas PSI
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Aristo Setiawan





Komentar (0)