Jakarta, VIVA – Wakil Menteri Transmigrasi (Wamentrans) Viva Yoga Mauladi mengakui berbagai persoalan di kawasan transmigrasi belum sepenuhnya terselesaikan meski program tersebut telah berjalan selama puluhan tahun.
Salah satu tantangan yang masih dihadapi hingga kini adalah pembangunan infrastruktur.
Menurut Viva Yoga, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kini tengah menyiapkan langkah revitalisasi kawasan transmigrasi melalui kolaborasi lintas kementerian agar pembangunan berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.
"Caranya dengan melakukan kolaborasi atau sinergi dengan kementerian terkait sesuai dengan kebutuhan yang ada di kawasan," katanya, dikutip Kamis, 30 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pendekatan kolaboratif dinilai menjadi solusi untuk mempercepat penyelesaian berbagai persoalan di kawasan transmigrasi. Misalnya, perbaikan sekolah dilakukan bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, penyediaan sarana pertanian menggandeng Kementerian Pertanian, hingga pembangunan jalan melalui sinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum.
"Kalau ada jalan yang rusak, bisa bersinergi dengan Kementerian Pekerjaan Umum. Dengan sinergi maka berbagai kendala di kawasan transmigrasi bisa dituntaskan," kata Viva Yoga.
Selain pembangunan fisik, Viva Yoga menilai pengembangan kawasan transmigrasi juga membutuhkan inovasi dan tata kelola yang lebih baik agar potensi ekonomi daerah dapat dimaksimalkan.
"Aspirasi mahasiswa yang kritis itu Kita terima dengan terbuka dan segera dituntaskan," tuturnya.
Dirinya menambahkan, pemerintah juga mendorong lahirnya inovasi dan kreativitas dalam pengelolaan kawasan transmigrasi.
"Pentingnya menumbuhkan inovasi dan kreasi di sana," ujarnya.
Menurut Viva Yoga, banyak kawasan transmigrasi memiliki potensi sumber daya alam yang besar, seperti durian, kopi, kakao, cokelat hingga kelapa sawit. Namun, potensi tersebut belum memberikan manfaat optimal karena tata kelola yang belum terintegrasi, mulai dari proses budidaya, produksi, pascapanen hingga pemasaran.
Untuk mendukung transformasi tersebut, Kementerian Transmigrasi menggandeng 10 perguruan tinggi ternama dalam pelaksanaan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Program itu merupakan kelanjutan dari TEP 2025 dan melibatkan 1.476 peserta yang terdiri atas guru besar, profesor, lulusan doktor, magister, hingga sarjana.
"Misi TEP 2026 adalah menindaklanjuti hasil dari riset TEP 2025. Misi TEP 2026 melakukan pekerjaan-pekerjaan teknis, praksis, terhadap temuan dari rekomendasi riset tahun lalu," kata dia.






Komentar (0)