JAKARTA, DISWAY.ID - Pengamat politik dari Kajian Politik Nasional (KPN) yang juga akademisi FISIP, Adib Miftahul, menilai rangkaian program prioritas era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto secara konseptual sangat luar biasa dan berorientasi pada kemajuan jangka panjang bangsa.
Kendati demikian, tantangan terbesar saat ini berada pada aspek eksekusi di lapangan serta sinkronisasi data yang belum sepenuhnya presisi.
Adib menguraikan, sejumlah program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), Sekolah Rakyat, hingga pembentukan holding BUMN Danantara merupakan langkah strategis yang sangat tepat sasaran dalam visi besar pembangunan nasional.
"Kalau bicara program Prabowo-Gibran, dari dulu saya katakan semuanya bagus. Skala prioritas Pak Prabowo ini bagus, cuma eksekusinya banyak yang perlu dikoreksi dan dievaluasi dengan cepat," ujar Adib saat diwawancarai, Kamis (30/7).
Ia mencontohkan program MBG yang sejatinya merupakan investasi jangka panjang yang sangat luar biasa untuk kesehatan dan kualitas sumber daya manusia masa depan.
BACA JUGA:Kepala BGN Sudaryono Resmikan Pusat Pelayanan Terpadu dan Media Center, Komitmen Kawal Program MBG
Namun, validasi data dari aparatur di tingkat bawah kerap membuat penyalurannya kurang tepat sasaran jika masih menyasar anak-anak dari kalangan mampu di perkotaan.
Begitu pula dengan program Koperasi Desa Merah Putih, Adib menyarankan agar pola bisnis tidak dipukul rata seragam menjadi warung ritel di setiap wilayah.
Penyesuaian berdasarkan karakteristik teritorial,- seperti sentra pertanian, perkebunan, atau kampung nelayan,- jauh lebih efektif untuk menggerakkan ekonomi akar rumput secara nyata.
"Programnya semuanya bagus. Hilirisasi industri yang dipangkas birokrasinya oleh BKPM, perampingan BUMN lewat Danantara, hingga revitalisasi sekolah, itu sangat luar biasa. Tinggal bagaimana pemerintah memperkuat konsolidasi dan komunikasi linier dari tingkat pusat hingga ke daerah," tambahnya.
Dinamika Survei sebagai Alarm PositifMenanggapi dinamika tingkat kepuasan publik (approval rating) yang fluktuatif, termasuk hasil survei terbaru SMRC, Adib memandangnya sebagai instrumen kontrol sosial yang sehat dalam alam demokrasi.
BACA JUGA:Tak Hanya Atasi Stunting, Menkes Sebut Program MBG Bisa Selesaikan Masalah Kesehatan
"Biasa-biasa saja," ujar dosen FISIP ini.
Menurutnya, naik turunnya angka survei merupakan potret riil dari persoalan harian yang dirasakan masyarakat, seperti daya beli, penegakan hukum, hingga celah implementasi kebijakan di lapangan.
Ia optimis, dengan langkah-langkah penegakan hukum yang tegas serta stimulus ekonomi yang tepat sasaran, tingkat kepercayaan publik akan kembali terdongkrak dengan cepat.
- 1
- 2
- »






Komentar (0)