Ketika Media Harus Beralih Menjadi Perusahaan Pengetahuan, Trafik Tak Lagi Menjadi Hal Utama

beritajatim.com
3 jam lalu
Cover Berita

Surabaya (beritajatim.com) – Industri media tengah menghadapi disrupsi paling dahsyat dalam sejarahnya. Dalam setahun terakhir, jumlah kunjungan ke media daring rata-rata merosot hingga 46 persen. Hanya sedikit media lokal yang masih mencatatkan kenaikan, dan itu pun tak lebih dari 10–15 persen, terutama yang memiliki konten spesifik atau mendalam. Sementara anggaran iklan konvensional dan dukungan pemerintah daerah terus menyusut drastis, padahal biaya operasional dan peliputan tetap berjalan.

“Ini bukan sekadar krisis yang lewat, tapi perubahan zaman. Kalau tak berubah, kita tinggal kenangan,” ujar Suwarjana, Pemimpin Redaksi Suara.com, dalam sesi Opening Conference Jatim Media Summit yang digelar di Hotel Whiz Luxe, Kamis (30/7/2026).

Suwarjana menegaskan bahwa era mengandalkan lalu lintas (traffic) untuk menjual ruang iklan sudah usang. Jurnalisme kini menjadi biaya operasional sehingga media harus mencari sumber pendapatan baru di luar pola jual berita dan iklan biasa. Di sinilah peran konsep beyond media atau melampaui fungsi media konvensional menjadi kunci bertahan.

Di tengah gempuran kecerdasan buatan, justru terdapat peluang baru. Jika dulu dikenal istilah SEO (Search Engine Optimization), kini muncul GEO (Generative Engine Optimization). Mesin kecerdasan buatan sangat mengandalkan konten jurnalistik karena dua hal utama, yakni tingkat kepercayaan yang tinggi dan keaslian data yang diambil langsung dari lapangan. Media lokal yang memiliki akses langsung ke peristiwa di daerah justru akan menjadi rujukan utama bagi AI, menggantikan konten sekadar salinan atau unggahan media sosial yang belum terverifikasi.

Namun, mesin biasanya hanya mengambil referensi dari lima hingga tujuh sumber tepercaya. Oleh karena itu, media-media lokal perlu berkolaborasi, bukan bersaing, untuk menawarkan paket layanan yang membuat konten mereka menjadi pilihan utama saat pengguna bertanya melalui fitur perintah (prompt).

Model bisnis periklanan pun tak lagi sekadar memasang spanduk digital. Dunia kini meminta layanan terpadu, mulai dari pembuatan konten, pengelolaan citra, hingga integrasi dengan teknologi kecerdasan buatan. Media juga bisa mengembangkan layanan pendukung lain seperti pembinaan komunitas, pelatihan, agensi kreatif, manajemen media sosial, hingga riset dan data.

Suwarjana memetakan perjalanan media dalam empat fase besar:

Ke depan, akan lahir Media 5.0, ketika keberadaan media menjadi tak tampak secara fisik (invisible media). Informasi akan tersaji di mana saja, mulai dari layar kendaraan, asisten suara di rumah, hingga perangkat pintar lainnya. Pada masa itu, yang dibutuhkan bukan sekadar wadah atau platform, melainkan isi: pengetahuan mendalam, konteks yang utuh, dan data yang akurat. “AI tidak akan membunuh media. Yang akan membunuh media adalah jika kita enggan berubah,” tegas Suwarjana.

Kekuatan media bukan lagi pada jumlah pembaca atau berita, melainkan pada kepercayaan yang dibangun selama ini. Dari menjual berita, kini media harus bertransformasi menjual kepercayaan, dan ke depannya akan menjual pengetahuan. “Itulah harta karun yang kita miliki untuk menjaga keberlangsungan jurnalisme tetap hidup,” tutupnya. [uci/kun]


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
PERSI Jatim Dukung Peningkatan Mutu Rumah Sakit, Minta Akreditasi Tak Semata Diukur dari Angka Kesembuhan
• 10 jam lalu
0
thumb
Khofifah Dorong Indonesia Jadi Leading Country Hutan Mangrove Dunia
• 9 jam lalu
0
thumb
Prabowo Buat Lomba Kota Terbersih, Siapkan Hadiah Rp 20 Miliar
• 1 jam lalu
0
thumb
Kesempatan Buat Warga RI! Albania Lagi Butuh Pekerja Terampil
• 5 jam lalu
0
thumb
Roy Suryo Minta Rp206 Juta karena Hilang Pemasukan dari Youtube dan Bayar Pengacara, Ini Reaksi Polda Metro
• 7 jam lalu
0
Berhasil disimpan.