Setiap negara memiliki cara tersendiri dalam merayakan hari kemerdekaan. Ada yang menggelar perlombaan rakyat, menerbangkan layang-layang, mengibarkan bendera nasional secara serentak, hingga menyajikan hidangan khas yang sarat makna.
Tradisi-tradisi tersebut lahir dari perjalanan panjang masing-masing bangsa dan terus diwariskan sebagai bagian dari identitas nasional. Berikut sederet tradisi unik perayaan hari kemerdekaan di berbagai negara yang masih lestari hingga kini.
1. Indonesia: Panjat PinangPerayaan Hari Kemerdekaan Indonesia identik dengan berbagai perlombaan rakyat, salah satunya panjat pinang. Merujuk laman Kemdikbud dan catatan redaksi detikcom, tradisi ini sudah ada sejak masa kolonial Belanda, ketika panjat pinang menjadi hiburan bagi kaum kolonial yang menyaksikan masyarakat pribumi berebut hadiah di puncak batang pinang yang dilumuri pelumas.
Setelah Indonesia merdeka, panjat pinang mengalami perubahan makna. Tradisi tersebut menjadi bagian dari perlombaan HUT RI yang melambangkan semangat kerja sama, pantang menyerah, gotong royong, dan perjuangan meraih tujuan bersama. Kini panjat pinang menjadi salah satu ikon perayaan 17 Agustus di berbagai daerah.
Hari Kemerdekaan India yang diperingati setiap 15 Agustus identik dengan tradisi menerbangkan layang-layang di berbagai kota, terutama Delhi, Ahmedabad, dan wilayah India utara. Merujuk Times of India dan Sahapedia, tradisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi simbol kebebasan setelah lepas dari penjajahan Inggris.
Layang-layang berwarna-warni memenuhi langit sebagai lambang semangat kemerdekaan dan persatuan. BBC Future menjelaskan tradisi tersebut masih dipertahankan meski menghadapi tantangan modernisasi. Sementara Indian Express mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan aspek keselamatan saat menerbangkan layang-layang.
3. Meksiko: El Grito de DoloresMeksiko memiliki tradisi El Grito de Dolores atau Pekik Dolores yang menjadi bagian utama perayaan Hari Kemerdekaan setiap 16 September. Merujuk Britannica, tradisi ini mengenang seruan Pastor Miguel Hidalgo y Costilla pada 1810 yang menjadi awal Perang Kemerdekaan Meksiko.
Menurut Library of Congress dan History, setiap malam menjelang Hari Kemerdekaan, Presiden Meksiko maupun kepala daerah membunyikan lonceng sambil mengulang pekik kemerdekaan dari balkon gedung pemerintahan. Ribuan masyarakat kemudian menjawab dengan sorak "¡Viva México!" sebagai simbol nasionalisme.
4. Finlandia: Dua Lilin di JendelaFinlandia memiliki tradisi menyalakan dua lilin di setiap jendela rumah saat Hari Kemerdekaan pada 6 Desember. Merujuk Senaatti dan National Today, tradisi ini telah berlangsung sejak awal abad ke-20.
Dua lilin tersebut melambangkan harapan, kebebasan, serta penghormatan kepada para pejuang kemerdekaan Finlandia. Ketika malam tiba, cahaya lilin yang menyala serempak di berbagai rumah menciptakan suasana yang khidmat dan penuh makna.
Perayaan Hari Bastille atau Hari Nasional Prancis pada 14 Juli diramaikan dengan Bals des Pompiers, yakni pesta dansa yang digelar di markas pemadam kebakaran. Merujuk France, tradisi ini telah menjadi bagian dari perayaan nasional di berbagai kota.
Masyarakat dapat datang untuk menikmati pertunjukan musik, berdansa bersama, hingga berinteraksi dengan para petugas pemadam kebakaran. Selain pesta dansa, Hari Bastille juga diisi parade militer di Champs-Élysées dan pertunjukan kembang api pada malam hari sebagaimana dijelaskan Britannica.
6. Korea Selatan: Pengibaran TaegukgiKorea Selatan memperingati Hari Kemerdekaan atau Gwangbokjeol setiap 15 Agustus. Merujuk National Folk Museum of Korea, salah satu tradisi yang paling mudah dijumpai adalah pengibaran Taegukgi, bendera nasional Korea Selatan, di rumah-rumah, gedung pemerintahan, hingga fasilitas umum.
Selain upacara resmi, masyarakat juga mengikuti berbagai kegiatan budaya dan pertunjukan seni untuk mengenang berakhirnya pendudukan Jepang pada 1945. Pengibaran Taegukgi menjadi simbol rasa syukur atas kemerdekaan dan identitas bangsa Korea.
7. Haiti: Menyantap Sup JoumouHaiti memiliki tradisi menyantap Sup Joumou setiap Hari Kemerdekaan pada 1 Januari. Menurut UNESCO, sup berbahan dasar labu ini dahulu hanya boleh dinikmati oleh kalangan penjajah Prancis, sedangkan masyarakat yang diperbudak dilarang mengonsumsinya.
Setelah Haiti meraih kemerdekaan pada 1804, Sup Joumou menjadi simbol kebebasan dan kesetaraan. Hingga kini, keluarga-keluarga Haiti memasak dan menyantap hidangan tersebut bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pendiri bangsa. Tradisi ini bahkan telah masuk dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
Setiap negara memiliki cara berbeda dalam memperingati hari kemerdekaan. Meski tradisinya beragam, seluruh perayaan tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni mengenang perjuangan para pahlawan, memperkuat persatuan, serta menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara.
(wia/zap)






Komentar (0)