Perayaan Sodoran untuk Masa Depan Tengger

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Masyarakat adat Tengger di Dataran Tinggi Bromo-Tengger-Semeru, Jawa Timur, merayakan Yadnya Karo atau Sodoran sejak Rabu (29/7/2026). Perayaan sakral ini bertujuan memohon keselamatan abadi umat manusia dan alam semesta dari Tuhan Yang Maha Esa atau Sang Hyang Widhi Wasa.

Warga Tengger bermukim di sejumlah desa di sekeliling Dataran Tinggi Bromo-Tengger-Semeru di bagian tengah Jatim. Mereka terbagi menjadi dua wilayah (tlatah) yakni seberang (brang) barat (kulon) dan timur (wetan). Brang Kulon mencakup sebagian dataran tinggi Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Malang. Brang Wetan mencakup sebagian dataran tinggi Kabupaten Probolinggo dan Kabupaten Lumajang.

Warga Tengger juga menyebut diri sebagai Wong Bromo (Brahma). Mereka mengamini Sang Hyang Brahma sebagai pencipta kehidupan termasuk Rara Anteng dan Jaka Seger sebagai leluhur warga Tengger (anTENG seGER).

Mereka memiliki salam sekaligus doa khas untuk sesama yakni Hong Ulun Basuki Langgeng atau Ya Tuhan, semoga kami/kita diberikan keselamatan selama-lamanya. Ketika salam itu disampaikan, balaslah dengan ucapan Langgeng Basuki atau selama-lamanya selamat. Seluruh hari raya dan upacara bertujuan keselamatan abadi umat manusia dan alam semesta.

Sodoran mengawali atau membuka Yadnya Karo di Balai Desa Tosari, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Di sini menjadi pusat kegiatan Upacara Purwakaning Karo (Sodoran) Tengger Brang Kulon kurun 28-29 Juli 2026. Menurut Penanggalan Tengger, dua hari itu disebut 14 Anggara Umanis-15 Buda Pahing Sasih Karo Wuku Kuruwelut 1948 Sakawarsa.

Baca JugaDoa-doa Kesejahteraan dari Sodoran Yadnya Karo Tengger
Baca JugaHari Raya Karo Warga Tengger

Sodoran selain rangkaian acara pembukaan Yadnya Karo juga merupakan nama tarian sakral yakni Sodor yang berarti serah. Sodoran berarti penyerahan diri warga Tengger dalam hari raya di bulan Karo yang notabene kedua dari 12 bulan dalam kalender suku tersebut.

Pada Rabu sekitar pukul 04.00 WIB, upacara dimulai dengan prosesi Mblaraki yang berarti mengawali. Pemimpin Paruman Dukun Pandita Tengger Brang Kulon Eko Warnoto bergelar Rsi Eko Cokronoto Bromo Telabah mengidungkan doa atau mantra. Setelah itu, dilantunkan cangkriman kertijoyo semacam teka-teki lisan alias tanya jawab oleh seorang dukun dan pembantu.

Selanjutnya, seorang dukun yang disebut pelandang memandu empat penari atau manten sodor dari kalangan tetua warga misalnya kepala desa, kepala dusun, tokoh masyarakat. Dengan busana tradisional hitam-hitam dan udeng atau ikat kepala Tengger, mereka akan melakukan gerak tari dengan pola lantai menyilang dan berulang dalam hitungan 3 dan diulang 3 kali. Angka 3 melambangkan fase perjalanan manusia yakni lahir, hidup, mati.

Setelah itu, tetua melakukan sekali lagi tarian tetapi dengan tongkat Sodor yang disebut kecrek. Nama kecrek dari bunyi crek crek saat digoyang atau ditepuk. Tongkat dari bambu wuluh/bambu wulung/bambu hitam (Gigantochloa atroviolacea), dililit janur, diisi bebijian tanaman lokal, dan kedua ujung ditutup sepet atau sebat dari sabut kelapa.

Properti ini sarat makna. Wuluh simbol dari 8 (wolu atau hasta), 2 (loro atau dwi), dan 10 (sepuluh atau dasa). Menurut Eko yang akrab disapa Romo Keto, orang Tengger memegang dasawara atau sepuluh norma yakni sabar, nrima (menerima), bening, eling (ingat), titi (cermat), ngerti (memahami), geming, ila-ila (larangan), dan nglakoni (bertindak).

Angka 2 ialah kodrat manusia yakni lelaki dan perempuan. Angka 8 juga dimaknai hastabrata atau delapan laku adab yakni wareg (cukup pangan), waras (sehat), wisma (kediaman), wastra (busana), wasis (beretika), waskita (beriman bertakwa), wicaksana (bijaksana), dan waruga (tangkas). Selain itu, delapan penjuru mata angin dan delapan unsur pokok yakni bumi, bulan, bintang (kartika), matahari (surya), air (tirta), api (agni), angin atau udara (bayu), dan angkasa (antariksa/dirgantara).

Bambu turut melambangkan alat kelamin lelaki. Sabut bermakna nuansa penderitaan, kesusahan, kesulitan. Janur perlambang kemuliaan, kesucian, yang ketika dililitkan juga bermakna bahwa penyatuan hidup berasal dari cinta lelaki dan perempuan secara murni atau suci. Bebijian ialah unsur utama kehidupan dari tumbuhan pangan yakni jagung, umbi, kacang, padi, buah, dan sayur.

”Saya tahu karena pernah diajari soal makna tari sodor. Bagi anak Tengger, tari sodor juga merupakan pendidikan seksual agar siap berumah tangga,” kata Divana Dewi, remaja pembawa sesajian dalam kirab manten sodor.

Divana mengatakan, ketika sudah dewasa akan belajar dan praktik sodoran. Siswi SMA Negeri 1 Tosari ini juga memahami pemakaian aksesori dan busana manten sodor serta persyaratan mengenai sesajian sehingga upacara dapat dilaksanakan dengan baik.

”Kami diajari bahwa Wong Tengger itu harus berperilaku baik. Setiap aktivitas termasuk tarian ada maknanya. Saya bangga dan gembira bisa terlibat di Yadnya Karo,” ujar Divana.

Baca JugaTradisi Tumpeng Gede Dalam Hari Raya Karo Warga Tengger
Baca JugaPenjaga Tradisi Tengger di Lereng Bromo

Widyan Dharma Singgih (38), petani dan pegiat wisata Tengger, mengatakan, masyarakat adat ini mengalami tekanan eksistensi. Agar peradaban tidak punah, mereka tetap harus bersedia melestarikan rangkaian upacara dengan menjiwai dan melakoni sungguh-sungguh.

”Sodoran juga merupakan laku hidup seperti salam yang diamini, Hong Ulun Basuki Langgeng, Langgeng Basuki itu,” ujar Widyan, Koordinator Wisata Bromo Brang Kulon 2017-2023.

Meskipun aktif di kegiatan wisata dan berusaha di sana, lanjut Widyan, pegangan utama penghidupan keluarga dari pertanian. Di akhir Sodoran, bambu dipukul atau dipecah melambangkan upaya mengeluarkan biji lalu mengambilnya untuk ditanam, dirawat, dihidupi sehingga berbuah untuk kelangsungan hidup.

”Kami juga harus selalu mencoba mempertahankan keberadaan lahan dan merawatnya meskipun tekanan dari perusakan karena ambisi dan ekspansi bisnis wisata perhotelan terus ada,” kata Widyan.

Merayakan Sodoran berarti menyadari kembali makna kehidupan. Jika ada yang keliru, segera memperbaiki sehingga tetap berada di jalan keselamatan abadi, lahir batin.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Marinus Gea Dorong Pendampingan Psikologis untuk Anak Korban Aksi Kekerasan Massa di Bali
• 11 jam lalu
0
thumb
Uang Rp1,2 Miliar Raib Sekejap, Polisi Ringkus Spesialis Gembos Ban di Bogor, Sisa Uangnya Cuman Sebegini
• 14 jam lalu
0
thumb
KADIN: Investor lebih butuh kepastian daripada ketenangan
• 23 jam lalu
0
thumb
Tasming Hamid Pastikan Parepare Siap Dukung Pelatnas Takraw Menuju Asian Games 2026
• 4 jam lalu
0
thumb
Buron Interpol Kasus TPPO WNI ke Kamboja Ditangkap di Bandara Soetta
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.