Alumni Pendidikan Jesuit Diminta Ikut Berkontribusi Atasi Masalah Lingkungan dan Kemiskinan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

SLEMAN, KOMPAS - Para alumni lembaga pendidikan Jesuit dari 30 negara berkumpul di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mengikuti Kongres ke-11 World Union of Jesuit Alumni. Para alumni itu pun diminta ikut berkontribusi mengatasi berbagai masalah yang tengah melanda dunia, seperti degradasi lingkungan dan kemiskinan.

Pembukaan Kongres ke-11 World Union of Jesuit Alumni (WUJA) digelar pada Kamis (30/7/2026) di Kampus Universitas Sanata Dharma, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kongres yang juga menandai perjalanan 70 tahun WUJA itu mengangkat tema “United in Spirit, Leading With Purpose”. 

Acara itu dihadiri sejumlah tokoh, seperti Superior Jenderal Serikat Jesus, Pater Jenderal Arturo Sosa; Presiden WUJA Francisco Guarner; Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X; dan Ketua Umum Perkumpulan Alumni Kolese Jesuit Hendra Hudiono. Jesuit merupakan sebutan untuk anggota Serikat Jesus, salah satu ordo dalam Gereja Katolik.

Francisco Guarner mengatakan, WUJA bukan sekadar organisasi untuk menjaga kenangan dan ikatan persahabatan di antara para anggotanya. Para anggota organisasi tersebut harus ikut aktif dalam mengatasi berbagai persoalan yang ada di sekitarnya.

"WUJA harus mengaktifkan jaringan global yang mampu menjawab tantangan zaman kita," kata Guarner saat menyampaikan sambutan dalam pembukaan Kongres ke-11 WUJA. 

Guarner memaparkan, saat ini dunia mengalami berbagai masalah, seperti perpecahan geopolitik, kerusakan lingkungan dan krisis iklim, serta kemiskinan dan ketimpangan.

"Kita mendengar jeritan kaum miskin melalui ketimpangan yang semakin dalam, eksklusi, dan pengungsian paksa. Kita melihat orang-orang, baik muda maupun tua, mengalami kesepian, isolasi, dan kehilangan makna hidup," ujar Guarner.

Baca JugaDari Jakarta, Uskup-uskup Asia Serukan Gereja Jadi Jembatan Dialog dan Perdamaian

Oleh karena itu, para anggota WUJA harus berkolaborasi dengan Serikat Jesus untuk ikut mengatasi masalah-masalah tersebut. Para anggota WUJA pun diharapkan menggunakan sumber daya dan pengaruhnya untuk mendorong terciptanya rekonsiliasi dan keadilan.

"Suara kolektif kita hanya akan bermakna ketika kita menggunakannya dalam solidaritas dengan mereka yang suaranya terlalu sering tidak terdengar. Komunitas global kita hanya akan benar-benar bersatu ketika kita mengatasi sikap acuh tak acuh dan eksklusi," ungkap Guarner.

Aksi nyata

Hendra Hudiono mengatakan, salah satu yang dibahas dalam kongres itu adalah perumusan program atau aksi nyata untuk mendukung kerja-kerja Serikat Jesus. "Kita akan merumuskan aksi-aksi kita untuk mendukung karya-karya serikat untuk domestik dan dunia juga," tuturnya.

Menurut Hendra, salah satu masalah yang dibahas dalam Kongres ke-11 WUJA adalah persoalan lingkungan. Para anggota organisasi itu pun didorong untuk berkontribusi mendorong kelestarian lingkungan.

"Kita peduli tentang lingkungan karena alam sudah mulai terdegradasi. Salah satunya kita peduli tentang sampah plastik," kata Hendra.

Baca JugaFABC Dorong Gereja Katolik Asia Membangun Jembatan Dialog, Terinspirasi Indonesia

Sultan Hamengku Buwono X menyatakan, Yogyakarta telah lama menjadi rumah bagi lembaga pendidikan Jesuit. Hal ini karena di wilayah itu terdapat sejumlah lembaga pendidikan Jesuit, seperti Kolese De Britto dan Universitas Sanata Dharma.

“Jalan panjang (pendidikan Jesuit) itu telah menanam benih ilmu, membesarkan watak, dan melepas generasi demi generasi ke berbagai palagan kehidupan,” ujar Sultan.

Sultan juga menyebut, tema Kongres ke-11 WUJA, yang dalam bahasa Indonesia berarti “Bersatu dalam Semangat, Memimpin dengan Tujuan”, memiliki kesesuaian dengan falsafah yang diajarkan Sultan Agung dalam Serat Sastra Gendhing, yakni sastra menghadirkan makna dan gendhing menghadirkan irama.

“Bersatu dalam semangat adalah gendhing: sebuah kesediaan untuk mendengar nada yang berlainan tanpa buru-buru menaklukkannya. Memimpin dengan tujuan adalah sastra: kejernihan arah, keteguhan nilai, dan keberanian menempatkan diri pada jalan pengabdian,” ungkap Sultan.

WUJA harus mengaktifkan jaringan global yang mampu menjawab tantangan zaman kita

Sultan pun berharap, Kongres ke-11 WUJA bisa menjadi ruang batin bersama untuk merefleksikan perjalanan 70 tahun organisasi itu. Dampak dari pertemuan itu pun diharapkan tidak hanya selesai dalam penyelenggaraan acara. 

“Dengan semangat itu, saya berharap, perjumpaan di Yogyakarta ini tidak selesai ketika forum ditutup. Biarlah dari kota ini lahir keberanian baru, untuk membawa persaudaraan ke tengah dunia, yang sedang diuji oleh kecurigaan, jarak sosial, luka ekologis, dan perpecahan nilai,” tutur Sultan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bioenergy Lestari Diakui Dunia, Pertamina Raih Penghargaan Outstanding SDG Innovator 2026
• 6 jam lalu
0
thumb
Buku "Atas Nama Surga" ulas propaganda terorisme di ranah digital
• 14 jam lalu
0
thumb
Diduga Serangan Jantung, Perempuan di Tulungagung Tewas Usai Keluar dari Wahana Rumah Hantu
• 9 jam lalu
0
thumb
Indonesia Turunkan 2 Tim di Srikandi Merdeka Cup 2026: Mayoritas Hasil Pemantauan di HYDROPLUS Soccer League
• 19 jam lalu
0
thumb
Asing Net Buy Rp46,91 Miliar di Sesi I, Ini Daftar Sahamnya
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.