Teater Hal(Aman)? Kisah Suara Anak Jakarta yang Tak Terdengar

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta terus bertumbuh. Bangunan baru terus bermunculan, kawasan kian berkembang, dan ruang-ruang publik berubah mengikuti laju pembangunan. Namun, di balik perubahan tersebut, ada satu kaum rentan yang kerap luput dari perencanaan yakni anak-anak.

Laju pembangunan terkadang tidak mempertimbangkan kebutuhan anak-anak. Ruang bermain menyusut, ruang aman pun berkurang.  Anak menjadi kelompok yang paling terdampak sekaligus paling jarang didengar.

"Pengalaman inilah yang melecut  27 anak dan remaja dari Kampung Tanah Merah, Jakarta Utara, memilih menyampaikan suara mereka melalui Teater Musikal Hal(AMAN) Kita?," ujar Sutradara Teater Musikal Hal(AMAN) Kita?, Dikky Takiyudin, Kamis (30/7/2026).

Bagi anak di Tanah Merah, ruang bermain adalah barang langka. Lapangan yang dulu menjadi tempat bercengkrama kini berubah menjadi kolam hijau. Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Rasela pun jauh dari jangkauan. Berjarak sekitar 1 kilometer dari lingkungan Tanah Merah.

Kini mereka ingin bersuara. Salah satunya melalui teater. Bagi anak-anak di Tanah Merah, teater bukan sekadar pertunjukan, melainkan ruang untuk menyampaikan pengalaman hidup, mempertanyakan arah pembangunan kota, dan mengajak publik melihat kembali bagaimana tata kelola ruang kota dapat menentukan terpenuhi atau tidaknya hak anak untuk bermain, berpartisipasi, tumbuh, dan merasa aman.

Baca JugaJakarta Akan Dikembangkan sebagai Kota Layak Anak

Dikky menjelaskan, pertunjukan ini lahir dari proses kreatif selama hampir sepuluh bulan menggunakan metode devised theatre, di mana para remaja menjadi penulis, pencipta, sekaligus pemeran utama cerita mereka sendiri.

Mereka mengolah pengalaman sehari-hari menjadi sebuah pertunjukan yang berbicara tentang hilangnya ruang bermain, menyempitnya ruang aman, hingga bagaimana keputusan mengenai ruang kota sering kali dibuat tanpa melibatkan suara anak sebagai penggunanya.

Bagi anak-anak Tanah Merah, ruang bermain bukan hanya tempat menghabiskan waktu. Di sanalah mereka belajar membangun relasi, mengenal lingkungan, mengembangkan kreativitas, dan membentuk rasa aman.

"Ketika ruang tersebut menghilang, yang hilang bukan sekadar lapangan atau taman, melainkan juga sebagian ruang bagi anak untuk tumbuh dan berkembang secara utuh," ucap Dikky.

Melalui Hal(AMAN) Kita?, para pemain teater mengajak masyarakat melihat bahwa pembangunan kota semestinya tidak hanya diukur dari bertambahnya infrastruktur, tetapi juga dari sejauh mana kota mampu memenuhi hak-hak anak dan mendengarkan suara mereka. "Teater ini penting bagi remaja untuk mengetahui bahwa setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda," ujar Dikky.

Bagi remaja yang lahir dalam kondisi kurang beruntung, berbagai risiko di sekitarnya kerap kali merampas hak mereka hidup dengan layak. "Melalui pertunjukan ini kami berharap publik dapat mengenal pengalaman, rasa, dan harapan remaja Tanah Merah," ujar Dikky.

Hal(AMAN) Kita? merupakan hasil kolaborasi Pamflet Generasi dan Sanggar Anak Harapan yang memiliki visi bersama untuk memperkuat partisipasi anak dan orang muda dalam pembangunan yang lebih inklusif. Sebagai organisasi yang digerakkan oleh orang muda, Pamflet Generasi berfokus mendorong penyuaraan isu-isu yang dihadapi generasi muda melalui pendekatan kreatif, kolaboratif, dan berbasis komunitas.

Sementara itu, Sanggar Anak Harapan selama lebih dari dua dekade mendampingi anak dan perempuan dari kelompok rentan melalui pemenuhan hak anak, perlindungan, pendidikan, kesehatan mental, serta pemberdayaan masyarakat.

Melalui kolaborasi ini, keduanya membuka ruang agar anak tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan yang menentukan masa depan lingkungan tempat mereka hidup.

Baca JugaBenarkah Jakarta Sudah Aman bagi Anak?

Semangat tersebut juga tercermin melalui keterlibatan Dolorosa Sinaga, salah satu pematung terkemuka Indonesia yang dikenal konsisten menghadirkan karya-karya bertema kemanusiaan, perempuan, keadilan sosial, dan hak anak. Dukungan Dolorosa diwujudkan melalui pelelangan lima karya pilihannya sebagai bagian dari rangkaian acara.

Kehadirannya menjadi simbol bahwa perjuangan menghadirkan kota yang lebih ramah bagi anak membutuhkan solidaritas lintas generasi, di mana seni tidak hanya menjadi medium ekspresi, tetapi juga alat untuk membangun kepedulian dan mendorong perubahan sosial.

Selain pertunjukan teater, publik juga dapat mengunjungi Pameran Fotografi Pamer Tamer yang menampilkan karya para remaja Tanah Merah tentang cara mereka memandang lingkungan tempat tinggalnya. Seluruh hasil donasi dari tiket pertunjukan dan pelelangan karya akan digunakan untuk mendukung pembangunan rumah aman dan rumah belajar bagi anak dan perempuan di Tanah Merah, Jakarta Utara.

Teater Musikal Hal(AMAN) Kita? akan dipentaskan pada 1–2 Agustus 2026 di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Jakarta Pusat. Penyelenggara mengundang semua pihak, masyarakat, komunitas, akademisi, dan para pengambil kebijakan untuk hadir, bukan semata menyaksikan sebuah pertunjukan, tetapi mendengarkan pengalaman anak-anak yang selama ini hidup berdampingan dengan berbagai persoalan ruang kota.

"Sebab pada akhirnya, pertanyaan yang diajukan Hal(AMAN) Kita? bukan hanya tentang ke mana ruang bermain anak menghilang," ujar Dikky.

Pertunjukan ini mengajak kita bertanya lebih jauh: apakah kota-kota kita telah dibangun dengan sungguh-sungguh mendengarkan suara anak?

Kehidupan anak di Manggarai Selatan, Jakarta Selatan juga tak kalah merana. Di Kawasan yang berpenghuni sekitar 1.600 kepala keluarga, puluhan anak harus menerima nasib tinggal di lingkungan yang tidak layak anak.

Ketua RW 02, Kelurahan Manggarai Selatan, Darma Setiawan, menuturkan, anak di kawasan ini hidup dalam lingkungan yang kurang baik. "Peredaran narkoba masih marak, mereka mengincar anak muda termasuk anak-anak," ujarnya.

Risiko itu muncul lantaran banyak dari anak-anak tidak dapat mengakses pendidikan secara layak. "Terpaksa puluhan anak di daerah ini harus putus sekolah," ujarnya.

Ada beberapa alasan seperti tidak ada biaya karena ekonomi yang kurang mapan. "Bahkan beberapa di antaranya memang tidak mau sekolah karena lingkungan keluarganya dan pergaulan yang kurang baik," ucapnya. Mereka hidup dalam keluarga yang tidak utuh (broken home) dan teman-teman sebaya yang juga tidak sekolah.

Karena itu, Darma berharap agar pemerintah tidak hanya sibuk membangun ruang kota tetapi memastikan mereka yang tinggal di dalamnya memang telah hidup sejahtera. "Karena saat keluarganya sejahtera anaknya pun akan terpelihara," ucap Darma.  

Sekretaris Jenderal Forum Warga Kota Indonesia (FAKTA Indonesia) Tubagus Haryo Karbyanto berpendapat walau berstatus sebagai provinsi layak anak, Jakarta masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Hal paling mendasar pun belum sepenuhnya diperoleh anak-anak Jakarta.

Baca JugaAnak-anak di Rusun Butuh Perlindungan dari Ancaman Kejahatan Seksual

Misalnya, kepastian untuk belajar dan bermain dengan aman di lingkungan tempat tinggalnya. Di trotoar, misalnya, anak-anak masih harus berebut ruang dengan berbagai kepentingan orang dewasa yang menggunakan trotoar sebagai tempat berdagang atau parkir liar.

Belum lagi keberadaan ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) yang belum menjangkau seluruh wilayah Jakarta. Kawasan dalam radius sedikitnya 500 meter dari setiap sekolah dan RPTRA juga perlu dipastikan aman bagi anak.

Zona kecepatan 30 kilometer per jam, misalnya, harus benar-benar diterapkan. Selain itu, diperlukan penyeberangan yang terlihat jelas, trotoar yang terlindungi dan aksesibel, jalur sepeda anak, halte yang aman, serta jalan sekolah yang steril dari kendaraan pada waktu masuk dan pulang sekolah.

Setiap anak juga perlu dipastikan dapat mencapai ruang bermain, perpustakaan, atau sarana olahraga gratis dalam waktu 15 menit berjalan kaki dari rumahnya. ”Kota untuk anak bukan hanya taman besar di pusat kota, melainkan ruang-ruang kecil yang hidup di dekat tempat mereka tinggal,” kata Tubagus.

Gubernur Jakarta Pramono Anung berkomitmen menambah ruang bermain bagi anak, salah satunya melalui pembangunan RPTRA. ”Tidak lagi dengan konsep yang besar-besar. Kalau ada fasilitas sosial dan fasilitas umum yang bisa dibuat untuk RPTRA, saya dorong untuk segera dibangun. Kami ingin Jakarta memiliki lebih banyak ruang bermain, lebih hijau, lebih nyaman, dan lebih aman bagi siapa pun,” ujarnya.

Kisah anak-anak Tanah Merah dan Manggarai Selatan menunjukkan bahwa masih ada jarak antara ambisi pembangunan dan kenyataan yang mereka hadapi sehari-hari. Jika Jakarta ingin benar-benar menjadi kota layak anak, maka suara mereka tidak boleh berhenti sebagai pertunjukan teater atau laporan di atas kertas, tetapi harus menjadi bagian dari setiap kebijakan yang membentuk masa depan kota.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bantahan Jared Leto Usai Dituduh Lakukan Pelecehan Terhadap 10 Perempuan
• 1 jam lalu
0
thumb
Denpom Selidiki Anggota TNI Diduga Dikeroyok di Medan
• 18 jam lalu
0
thumb
JEC Eye Hospitals and Clinics Raih Top Brand Award 2026 dan Siapkan Ekspansi Jaringan Baru
• 3 jam lalu
0
thumb
MK Gelar Sidang Putusan 20 Permohonan Uji Materi Hari Ini
• 7 jam lalu
0
thumb
Srikandi Merdeka Cup 2026: Turnamen Sepak Bola Putri Internasional Siap Digelar di Kudus
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.