Krisis Energi, Rupiah Melemah, dan Hunian Menjauh dari Jangkauan Anak Muda

kompas.com
1 jam lalu
Cover Berita

BAGI banyak generasi muda Indonesia hari ini, membeli rumah bukan lagi sekadar target finansial, melainkan kemewahan psikologis.

Rumah yang dulu dianggap simbol kedewasaan dan stabilitas hidup, kini perlahan berubah menjadi sesuatu terasa jauh, mahal, dan nyaris mustahil dijangkau.

Di tengah harga kebutuhan pokok terus naik, tekanan ekonomi global, serta gaji pekerja muda yang bergerak lambat, mimpi memiliki hunian layak berubah menjadi kecemasan kolektif.

Situasi ini semakin diperburuk oleh pelemahan rupiah mulai menghantam sektor properti nasional.

Sejumlah pengembang mengakui, penjualan properti komersial dan sewa mengalami penurunan akibat melemahnya daya beli masyarakat.

Ketika nilai tukar rupiah tertekan, biaya impor bahan bangunan naik, suku bunga berpotensi meningkat, dan harga rumah ikut terdorong naik.

Pada saat sama, pendapatan pekerja muda tidak naik dengan kecepatan sama.

Di sinilah paradoks generasi muda muncul secara telanjang, yaitu mereka hidup di era teknologi paling maju, tetapi menghadapi akses kepemilikan rumah yang justru semakin terjepit.

Kenaikan harga minyak dunia bukan sekadar isu geopolitik jauh dari kehidupan sehari-hari. Ketika harga minyak naik akibat perang, konflik Timur Tengah, atau perang tarif antarnegara besar, efeknya merambat cepat ke biaya logistik, transportasi, pangan, hingga tarif listrik.

Semua itu akhirnya menekan biaya hidup masyarakat urban.

Bagi Gen Z dan milenial, tekanan tersebut terasa berlapis. Mereka menghadapi tiga beban sekaligus: biaya hidup terus meningkat, harga properti melesat, dan pasar kerja tidak memberikan kenaikan pendapatan signifikan.

Secara ekonomi, kelompok muda saat ini menghadapi apa yang disebut “compressed middle class trap”, yaitu kondisi ketika pendapatan nominal naik sangat lambat, tetapi pengeluaran dasar melonjak cepat. Akibatnya, ruang untuk menabung semakin sempit. 

Baca juga: Retorika Prabowo Menurunkan Popularitas Sendiri

Banyak pekerja muda di kota besar menghabiskan lebih dari 60 persen penghasilannya hanya untuk biaya hidup dasar dan sewa tempat tinggal.

Artinya, kemampuan mengumpulkan uang muka rumah menjadi sangat terbatas.

Masalahnya bukan semata-mata soal gaya hidup konsumtif seperti yang sering dituduhkan kepada generasi muda.

Bahkan jika mereka hidup hemat sekalipun, struktur ekonominya memang belum berpihak.

Gaji Tidak Mengejar Harga Rumah

Mari melihat realitas secara lebih konkret. Penelitian mengenai keterjangkauan rumah bagi Gen Z di wilayah Jakarta menunjukkan, kenaikan harga properti di Indonesia pernah mencapai sekitar 17 persen per tahun.

Sedangkan kenaikan rata-rata upah hanya sekitar 10 persen. Jurang ini menciptakan ketimpangan struktural terus melebar dari tahun ke tahun.

Di Jabodetabek, rumah sederhana di kawasan penyangga kini banyak berada pada kisaran Rp 500 juta hingga Rp 800 juta.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Sementara itu, rata-rata gaji pekerja muda berada di kisaran Rp 3 juta–Rp 8 juta per bulan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jadwal KRL Solo-Yogyakarta 30 Juli-1 Agustus 2026, dari Palur-Tugu
• 4 jam lalu
0
thumb
Hyundai Rilis Harga Baru Stargazer Cartenz di GIIAS 2026, Mulai Rp241 Juta
• 17 jam lalu
0
thumb
Nama Bayi MBG di Wonosobo Kini Diganti Jadi Muhammad Bintang Gemilang Subianto
• 3 jam lalu
0
thumb
Penanganan Radikalisme Digital Perlu Kolaborasi Lintas Sektor
• 13 jam lalu
0
thumb
Kasus Febrie Adriansyah Berlanjut, Bukti TPPU dan Dugaan Aliran Dana Dipertanyakan | KOMPAS SIANG
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.