DUBAI, KOMPAS.TV – Konflik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran meluncurkan rentetan rudal ke pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Yordania, sementara AS bersama Arab Saudi menggempur sejumlah lokasi milisi pro-Iran di Irak, Rabu (29/7/2026).
Sedikitnya 20 anggota milisi dilaporkan tewas dalam serangan tersebut, menandai berakhirnya beberapa hari ketenangan relatif di kawasan.
Dua pejabat milisi Irak mengatakan kepada Associated Press bahwa enam penasihat Iran turut tewas dalam serangan gabungan AS dan Arab Saudi.
Namun, belum dapat dipastikan apakah mereka termasuk dalam sedikitnya 20 korban tewas yang dilaporkan oleh kelompok milisi tersebut.
Baca Juga: [FULL] Analisis Pakar soal Arab Saudi Ikut AS Gempur Milisi Sekutu Iran, Timur Tengah Makin Memanas?
Kedua pejabat berbicara dengan syarat anonim karena tidak berwenang memberikan pernyataan kepada publik.
Eskalasi di sejumlah front ini meningkatkan kembali risiko pecahnya perang skala penuh di kawasan.
Perkembangan tersebut juga memperlihatkan betapa sulitnya mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan dan mengguncang perekonomian global.
Sebelum bentrokan terbaru, para mediator sempat menyatakan optimisme dapat membawa AS dan Iran kembali ke meja perundingan.
Namun, kesepakatan sementara yang dibangun dalam beberapa pekan terakhir runtuh setelah pertempuran kembali berkobar di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi pasokan energi dunia yang kembali terganggu akibat serangan Iran.
Seorang pejabat kawasan yang mengetahui proses diplomasi mengatakan para mediator masih berupaya meredakan ketegangan dan menghidupkan kembali proses gencatan senjata.
"Kami masih berupaya dengan kedua belah pihak," kata pejabat tersebut kepada AP dengan syarat anonim karena membahas proses diplomasi yang berlangsung tertutup.
Meningkatnya ketegangan turut memicu lonjakan harga minyak dunia.
Baca Juga: Netanyahu Dijadwalkan Bertemu Trump, Pertama Kali sejak Perang AS-Israel terhadap Iran
Minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, naik 3,1 persen menjadi 84,58 dolar AS per barel.
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menyatakan telah menembakkan rudal balistik ke Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, yang menjadi salah satu pusat operasi militer utama AS di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor berita pemerintah Iran, IRNA.
Militer Yordania menyatakan berhasil mencegat dan menghancurkan lima rudal Iran sebelum mencapai sasaran.
Hingga kini tidak ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan tersebut.
AS dan Arab Saudi Gempur Milisi Pro-Iran di IrakPenulis : Rizky L Pratama Editor : Gading-Persada
Sumber : Associated Press
- Iran
- AS
- Arab Saudi
- Irak
- milisi pro-Iran
- serangan Iran





Komentar (0)