HIMKI: Ekspor Furnitur ke AS Berpotensi Turun 10% Akibat Tarif Impor Tambahan

katadata.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) memperkirakan volume ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia ke Amerika Serikat (AS) pada semester II 2026 berpotensi turun 5% hingga 10% akibat pemberlakuan tarif tambahan sebesar 10%.

Ketua Umum HIMKI Abdul Sobur mengatakan ekspor furnitur dan kerajinan pada semester II 2026 dalam skenario dasar cenderung stagnan hingga terkoreksi moderat dibandingkan kondisi tanpa tarif tambahan.

"Estimasi awal kami, volumenya berpotensi turun sekitar 5–10% dibandingkan kondisi tanpa tarif tambahan," kata Abdul kepada Katadata, Rabu (29/7).

Penurunan ekspor juga dinilai bisa semakin dalam apabila pembeli alias buyer dari AS menahan pembelian, permintaan konsumen AS melemah, atau muncul tarif tambahan lain dari investigasi terkait excess capacity. 

Dalam skenario itu, HIMKI memperkirakan penurunan ekspor furnitur dan kerajinan Indonesia ke AS dapat mencapai 10% hingga 15%. Sebaliknya, penurunan bisa ditekan apabila Indonesia mampu memanfaatkan keunggulan tarif dibandingkan negara pesaing, menjaga harga, serta menangkap relokasi pesanan.

Dampaknya bukan hanya pembatalan pesanan, melainkan juga permintaan renegosiasi harga, penundaan konfirmasi order, pengurangan volume pesanan, higga buyer memecah pesanan ke sejumlah negara untuk mengurangi risiko.

"Tarif tambahan 10% merupakan tekanan baru bagi industri mebel dan kerajinan Indonesia," ujarnya.

Pasar AS menjadi pasar yang sangat penting bagi industri furnitur nasional. Berdasarkan data BPS 2024 yang disampaikan HIMKI, nilai ekspor mebel Indonesia ke AS mencapai US$1,008 miliar atau 53,76% dari total ekspor mebel nasional. 

Sementara itu, ekspor produk kerajinan ke AS mencapai US$316,68 juta atau 44,13% dari total ekspor kerajinan nasional. Kenaikan tarif berpengaruh signifikan sebab akan meningkatkan biaya barang hingga tiba di pasar AS atau landed cost. Kondisi ini berpotensi mempersempit margin eksportir, importir, distributor, hingga retailer.

Dia menyebut produk furnitur relatif sensitif terhadap harga. Tekanan paling besar akan dirasakan produsen yang mengandalkan produk massal, memiliki margin tipis, serta bergantung pada satu atau dua buyer AS.

Meski demikian, Abdul menilai produk furnitur Indonesia masih memiliki daya saing. Keunggulan tersebut antara lain berasal dari produk berbahan kayu, rotan, serat alam, kerajinan handmade, serta desain yang memiliki identitas dan nilai tambah.

"Indonesia masih kompetitif, tetapi tidak boleh merasa aman," kata Abdul.

Menurutnya, daya saing tidak hanya ditentukan oleh tarif, tetapi juga harga pabrik, produktivitas, biaya logistik, lead time, konsistensi kualitas, desain, kapasitas produksi, serta kepastian pengiriman.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bukalapak Berhasil Balik Arah, EBITDA Positif dan Pendapatan Tembus Rp4 Triliun
• 16 jam lalu
0
thumb
Puasa Ayyamul Bidh Juli 2026: Jadwal, Niat, Keutamaan
• 21 jam lalu
0
thumb
Penampakan Kota Tenggelam Dihajar Hujan Dahsyat, Makan Ratusan Nyawa
• 7 jam lalu
0
thumb
WhatsApp Web Kini Bisa untuk Panggilan Audio dan Video Call, Intip Detail Fiturnya
• 15 jam lalu
0
thumb
Pramono Pastikan LRT Jakarta Velodrome-Manggarai Beroperasi Agustus, Tanggal Menyusul
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.