JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid menegaskan bahaya gabungan antara kekuatan narasi dan pesatnya perkembangan teknologi algoritma di era digital yang berisiko memicu radikalisasi.
"Algoritma dengan kekuatan narasi ketika digabungkan untuk sesuatu yang buruk, dia dampaknya juga akan termultiplikasi," kata Meutya, di acara Peluncuran Buku "Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi Hingga Manipulasi Kesadaran" di Menara Kompas, Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Ia menilai, ancaman tersebut diperkirakan bakal makin kompleks seiring pesatnya adopsi kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi komputasi kuantum.
Baca juga: Peluncuran Buku Atas Nama Surga, Bedah Algoritma Radikalisasi dan Manipulasi Kesadaran
Menurut dia, kelompok-kelompok penyebar narasi buruk mampu bergerak cepat memanfaatkan lompatan teknologi, sementara adaptasi lintas institusi di pemerintahan masih menghadapi tantangan.
"Jadi, ini akan jauh lebih cepat lagi. Mereka seperti bersinergi, mengawinkan dirinya satu dengan lainnya: narasi, teknologi, kemajuan AI, dan lain-lain. Kitanya tidak senatural itu ketika bergabung. Lintas institusi tidak bisa sealami itu," ungkap dia.
Ia menambahkan, dampak langsung dari bertemunya kekuatan narasi dan algoritma ini adalah terciptanya fenomena post-truth atau "ilusi algoritma".
Pada kondisi tersebut, fakta objektif menjadi kabur dan kalah oleh emosi serta keyakinan yang dibentuk di dunia maya.
"Jadi, fakta kemudian menjadi buram. Hitam tidak lagi hitam, putih tidak lagi putih, abu-abu menjadi sebuah hal yang biasa, dan yaitu, kebenaran kemudian menjadi abu-abu," ucap dia.
Baca juga: Luncurkan Buku Atas Nama Surga, Alexander Sabar Tekankan Pentingnya Kesadaran Digital
Meutya mengatakan, buku terbaru karya Dirjen Pengawasan Ruang Digital Komdigi Alexander Sabar memaparkan sejumlah temuan periode 2020–2024 yang dinilai hanyalah gambaran awal.
Menurut dia, ancaman dari manipulasi narasi digital yang didukung perkembangan teknologi mutakhir diperkirakan jauh lebih destruktif pada tahun-tahun berikutnya jika tidak diantisipasi sejak dini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Komentar (0)