Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Timur menerima audiensi dari perwakilan sopir angkutan kota (angkot) yang tergabung dalam berbagai serikat dari Kabupaten Malang terkait rencana operasional Trans Jatim Koridor 2 di Malang Raya, Rabu (29/7/2026).
Cito Eko Yuly Saputro Kepala Seksi (Kasi) Sarana Angkutan Jalan Dishub Jawa Timur mengatakan, tujuan audiensi sopir angkot Kabupaten Malang hari ini meminta supaya pemerintah menunda dan mengkaji ulang rencana operasional koridor II di Kabupaten Malang.
Koridor II Trans Jatim rencananya akan mulai beroperasi pada Oktober 2026 di Kabupaten Malang yang melewati rute Terminal Hamid Rusdi hingga Terminal Talangagung.
Para sopir menilai operasional koridor II tersebut secara tidak langsung akan berdampak pada aspek sosial terutama angkutan umum yang selama ini melayani rute tersebut.
“Memang ada aspek yang perlu dikaji yaitu aspek sosialnya karena ini yang berhimpitan dengan Trans Jatim Koridor 2,” kata Cito, Rabu (29/7/2026).
Cito Eko Yuly Saputro Kepala Seksi (Kasi) Sarana Angkutan Jalan Dishub Jawa Timur saat ditemui di kantornya, Rabu (29/7/2026). Foto: Wildan suarasurabaya.netCito menjelaskan, para sopir berharap supaya Dishub Jatim jangan sampai menggusur angkutan umum yang sudah ada, melainkan merangkul para pelaku transportasi.
Fie menjamin semua aspirasi dari serikat sopir akan diakomodasi. Nantinya pada pekan depan, Dishub Jatim akan menggelar pertemuan lanjutan dengan berbagai unsur. Baik pihak pendukung maupun yang menolak operasional Trans Jatim Koridor 2.
Selain itu, Dishub Jatim akan mengundang berbagai paguyuban angkutan, komunitas transportasi di Malang, hingga akademisi supaya kebijakan yang diambil dapat ditinjau secara luas dan tidak merugikan pihak manapun.
“Kami menerima masukan tersebut akan ada rapat lanjutan tapi rapat lanjutannya. Ini kan ada banyak aliansi, akademisi yang mendukung. Terus nanti YLKI, DPRD Komisi D dan DPRD Komisi C Kota nanti juga kita undang. Nanti pertemuannya cukup besar dan luas,” jelasnya.
Dalam forum tadi, Cito juga menawarkan sejumlah opsi untuk menggandeng para sopir angkot dalam kerjasama sebagai driver angkutan existing Trans Jatim.
Selain membuka peluang menjadi pengemudi bus Trans Jatim, Dishub juga menawarkan pekerjaan lain seperti tenaga pencuci bus bagi masyarakat yang terdampak.
“Kami sudah tawarkan seperti itu. Yang di mana dulunya itu kejar setoran cuma Rp50.000 sehari, Rp100.000 sehari kalau ikut Trans Jatim itu gajinya tetap bisa Rp4 juta lebih itu per bulan. Ada penumpang, enggak ada penumpang gajinya tetap,” tuturnya.
Namun, menurut Cito, sebagian perwakilan sopir masih belum menerima opsi tersebut. Sehinggaz Dishub akan mencari formulasi terbaik supaya operasional Trans Jatim tetap bisa berjalan.
Selain itu, titik yang paling banyak dipersoalkan oleh para sopir berada di ruas Terminal Arjosari menuju Terminal Hamid Rusdi karena beririsan dengan trayek angkot yang sudah ada.
Dishub Juga telah menawarkan sejumlah alternatif, mulai dari pembatasan halte hingga opsi mengalihkan rute melalui jalan tol dari Arjosari menuju Pakis, Madyopuro, lalu Hamid Rusdi.
Usulan tersebut juga ditolak oleh sebagian peserta audiensi. Sementara ituz rencana operasional Trans Jatim Koridor 2 di Kabupaten Malang yang semula ditargetkan mulai Oktober 2026 berpotensi mundur.
Sebagai informasi, Trans Jatim Koridor 2 akan melayani Malang Raya dengan total 15 unit bus, terdiri atas delapan unit di wilayah Kota Malang, termasuk satu unit cadangan, serta tujuh unit di Kabupaten Malang.
“Rencananya sebenarnya Oktober tetapi karena banyak kendala mungkin saja nanti perlu diskusi kalau nanti lewat Oktober mungkin nanti bisa di bulan selanjutnya. Tapi pada intinya harus clear dulu untuk dampak sosialnya dulu,” tandasnya.(wld/rid)





Komentar (0)