JAKARTA, KOMPAS– Pemerataan akses dan kualitas layanan kesehatan masih menjadi persoalan di Indonesia. Karena itu, pemanfaatan digitalisasi dan teknologi kesehatan akan diperkuat untuk mengatasi persoalan tersebut.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Rizka Andalucia mengatakan, pemerintah saat ini tengah memperkuat ekosistem kesehatan digital nasional. Selain itu inovasi teknologi akan dikembangkan, mulai dari kecerdasan buatan, robotika kesehatan, dan teknologi genomik.
“Teknologi ini tidak akan menggantikan profesi tenaga kesehatan, tetapi akan mendukung mereka untuk memberikan pelayanan yang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih efektif,” ujarnya, saat memberikan sambutan dalam acara “Novo Holdings Indonesia Partnering Day 2026”, di Jakarta, pada Rabu (29/7/2026).
Saat ini Kementerian Kesehatan berfokus untuk membangun rumah sakit di 66 kabupaten/kota yang belum memiliki rumah sakit tipe C, terutama di wilayah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan.
Setiap rumah sakit juga akan dilengkapi dengan inovasi teknologi terkini dengan fokus perawatan pada kanker, jantung, stroke, dan penyakit uronefrologi. Empat penyakit tersebut merupakan penyakit dengan beban kesehatan tertinggi di Indonesia.
Teknologi ini tidak akan menggantikan profesi tenaga kesehatan, tetapi akan mendukung mereka untuk memberikan pelayanan yang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih efektif.
Menurut Rizka, penguatan tata kelola kesehatan digital amat penting dalam pengembangan layanan kesehatan di Indonesia. Setidaknya terdapat 200 juta pengguna internet di Indonesia. Karena itu platform digital perlu lebih dimanfaatkan untuk mempermudah akses kesehatan bagi masyarakat.
Melalui penguatan teknologi dan inovasi kesehatan, kapasitas layanan kesehatan di Indonesia diharapkan bisa lebih baik. Dengan demikian, pasien di Indonesia tidak perlu berobat ke luar negeri dengan alasan mencari pengobatan dan perawatan kesehatan yang lebih maju.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno menambahkan, kondisi geografis Indonesia dengan lebih dari 17.000 kepulauan menjadi tantangan dalam menjangkau akses kesehatan masyarakat. Dalam membangun rumah sakit, hal itu tidak cukup hanya dengan mendirikan bangunan, melainkan juga menyediakan sumber daya manusia yang memadai.
Pratikno pun mendorong kerja sama lebih luas dari berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung perluasan akses layanan kesehatan di Indonesia. Perluasan akses dapat meliputi berbagai aspek, mulai dari pengembangan kapasitas SDM kesehatan, diagnostik, skrining, serta akses layanan kesehatan lainnya.
Managing Partner and Head of Asia Novo Holding, Amit Kakar menyampaikan, Indonesia masih punya potensi besar dalam pengembangan inovasi dan teknologi kesehatan. Hal tersebut terutama untuk mengisi keterbatasan akses yang masih ditemukan di Indonesia.
Beban penyakit kronis di Indonesia cukup besar, terutama untuk penyakit diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular. Sementara akses pada layanan kesehatan masih kurang.
Rasio tempat tidur rumah sakit di Indonesia saat ini sekitar 1,4 per 1.000 penduduk. Jumlah itu di bawah rasio Malaysia sekitar 1,9 tempat tidur per 1.000 penduduk dan Thailand 2,1 tempat tidur per 1.000 penduduk. Selain itu sebanyak 13 provinsi bahkan memiliki rasio tempat tidur di bawah angka nasional.
Menurut Amit, jumlah penduduk Indonesia yang amat besar yang mencapai sekitar 280 juta orang memberikan tantangan dalam penyediaan layanan kesehatan. Jumlah penduduk yang besar membuat kebutuhan akan layanan kesehatan juga besar. Sementara, ketersediaan layanan masih terkendala.
Di sisi lain, tantangan tersebut justru memberikan celah bagi pemanfaatan teknologi informasi. Teknologi dapat memungkinkan masyarakat bisa mengakses dokter dari jarak jauh.
Hal itu semakin didukung dengan tingkat adopsi masyarakat Indonesia yang cukup baik pada layanan kesehatan berbasis digital. “Hal ini menunjukkan satu hal yang penting bagi kita bahwa Indonesia masih memiliki ruang sangat besar untuk tumbuh,” kata Amit.
Ada tiga hal utama yang akan menjadi fokus pengembangan layanan kesehatan dari Novo Holding di Indonesia meliputi, teknologi kesehatan, diagnostik untuk skrining dini, pengembangan infrastruktur rumah sakit, dan pelatihan tenaga kesehatan. “Kami ingin membawa inovasi sehingga Indonesia dapat memiliki industri teknologi medis dan manufaktur alat kesehatan sendiri,” kata Amit.






Komentar (0)