10 Bisnis yang Paling Banyak Diincar Investor Global di Era Modern

cnbcindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan peran dagang, perlambatan ekonomi, hingga gejolak pasar global belum membuat perusahaan menahan ekspansi.

Sepanjang 2025, nilai pengumuman investasi asing langsung (greenfield foreign direct investment/FDI) mencapai hampir US$1,1 triliun, menunjukkan perusahaan tetap berani menanamkan modal baru meski ketidakpastian masih tinggi.

Berbeda dengan akuisisi perusahaan, greenfield FDI merupakan investasi yang benar-benar membangun kapasitas baru, mulai dari pabrik, pusat data, jaringan telekomunikasi, hingga fasilitas produksi. Karena itu, pergerakan investasi ini sering digunakan sebagai indikator kepercayaan dunia usaha terhadap prospek ekonomi jangka panjang.

Data fDi Markets menunjukkan arah investasi global juga mulai berubah. Sektor komunikasi mengambil alih posisi teratas dengan nilai investasi mencapai US$346 miliar, menggeser energi terbarukan yang selama enam tahun berturut-turut menjadi tujuan investasi terbesar dunia. Sementara itu, industri semikonduktor mencatat rekor baru di tengah perlombaan membangun rantai pasok chip.

Peta Investasi Mulai Bergeser

Komunikasi menjadi sektor dengan investasi terbesar sepanjang 2025. Total nilai proyek yang diumumkan mencapai US$346 miliar, melonjak 88% dibandingkan tahun sebelumnya melalui 812 proyek, termasuk 57 megaproyek dengan nilai investasi di atas US$1 miliar.

Baca: Investasi Hilirisasi di RI Tembus Rp300 T di Semester I-2026

 

Di posisi kedua terdapat energi terbarukan dengan investasi US$200 miliar. Jika digabungkan, kedua sektor tersebut menyerap hampir setengah dari seluruh nilai greenfield FDI yang diumumkan sepanjang tahun.

Temuan tersebut menunjukkan investasi global semakin terkonsentrasi pada sektor yang mendukung transformasi digital dan transisi energi. Namun, keseimbangan di antara keduanya mulai berubah.

Energi Terbarukan Kehilangan Posisi Teratas

Perubahan terbesar tahun ini datang dari sektor energi terbarukan. Setelah memimpin investasi global selama enam tahun berturut-turut sejak 2019, sektor ini turun ke posisi kedua dengan nilai investasi US$200 miliar.

Nilai tersebut turun sekitar seperempat dibandingkan US$264 miliar pada 2024. Perlambatan terjadi seiring perubahan prioritas kebijakan di sejumlah negara industri besar, termasuk Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Meski turun peringkat, energi terbarukan tetap menjadi salah satu tujuan utama investasi dunia. Bersama sektor komunikasi, keduanya masih menjadi magnet terbesar bagi modal baru lintas negara.

Perlombaan Chip Belum Berakhir

Industri semikonduktor menjadi sektor dengan pertumbuhan yang paling menonjol. Nilai investasi mencapai US$138 miliar, tertinggi sepanjang pencatatan, sekaligus meningkat lebih dari 10% dibandingkan tahun sebelumnya.

Gelombang investasi tersebut didorong pembangunan fasilitas manufaktur baru di berbagai negara sebagai bagian dari upaya diversifikasi rantai pasok global. Produsen chip seperti Intel dan TSMC menjadi beberapa perusahaan yang mengumumkan belanja modal dalam skala besar.

Baca: Operasi Besar China Selamatkan Sungai Yangtze, Nelayan Jadi Tumbal

 

Namun, arus investasi tersebut belum tersebar merata. Sebanyak 97,5% nilai greenfield FDI di sektor semikonduktor masih terkonsentrasi di Amerika Utara dan Asia Pasifik, menunjukkan persaingan membangun industri chip global masih didominasi dua kawasan tersebut.

Sektor Lama Masih Bertahan

Di luar komunikasi, energi terbarukan, dan semikonduktor, sektor properti menjadi satu-satunya sektor lain yang mampu menembus investasi di atas US$100 miliar. Nilainya mencapai US$112 miliar, tertinggi sejak 2018, setelah mencatat pertumbuhan selama lima tahun berturut-turut. Dibandingkan 2024, investasi properti meningkat sekitar 15,7%.

Sebaliknya, investasi di sektor batu bara, minyak, dan gas turun 31,3% menjadi US$61 miliar, menandai penurunan selama dua tahun berturut-turut.

Sementara itu, sektor transportasi dan pergudangan membukukan investasi US$58 miliar. Proyek-proyek yang diumumkan diperkirakan mampu menciptakan hampir 145.000 lapangan kerja.

Investasi global belum menunjukkan tanda-tanda berhenti meski dunia masih dibayangi ketidakpastian. Yang berubah justru arah aliran modalnya. Infrastruktur komunikasi, industri chip, dan sektor yang menopang transformasi digital semakin menjadi tujuan utama investasi baru, sementara sektor yang beberapa tahun lalu mendominasi mulai menghadapi perlambatan. Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa ketika perusahaan memutuskan membangun kapasitas baru, mereka tidak hanya mempertimbangkan kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga membaca kebutuhan industri dalam beberapa tahun ke depan.



(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
6 Pelajar Makassar Lolos FLS3N 2026, Pemkot Siapkan Beasiswa
• 7 jam lalu
0
thumb
Bank BSN Kuasai 23,4 Persen Pangsa Pasar Rumah Rakyat
• 12 jam lalu
0
thumb
Komplotan Gembos Ban Gasak Rp 1,2 M Milik Pengusaha, Satu Pelaku Dibekuk
• 22 menit lalu
0
thumb
Menteri PU Sebut Peningkatan Jalan Gondanglegi–Balekambang Perkuat Akses Wisata Malang Selatan
• 2 jam lalu
0
thumb
Gibran Soal Kabinet Bayangan: Setiap Warga Negara Punya Hak Sampaikan Kritik ke Pemerintah
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.