Perbankan Terimpit Rezim Suku Bunga Tinggi dan Daya Beli

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Industri perbankan tengah terimpit dua tantangan sekaligus, yakni suku bunga tinggi dan pelemahan daya beli. Ini terindikasi dari turunnya tingkat keuntungan perbankan, serta tekanan pada kredit konsumsi. Imbasnya, bank cenderung akan kian selektif dalam menyalurkan kredit.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, rasio Net Interest Margin (NIM) industri perbankan pada Mei 2026 sebesar 4,36 persen, turun 20 basis poin (bps) dibandingkan akhir 2025 yang mencapai 4,56 persen. Rasio ini mengukur selisih antara pendapatan dari bunga pinjaman dan biaya bunga simpanan bank.

Tren tersebut juga terekam dalam kinerja bank-bank berskala besar, seperti PT Bank Central Asia (BCA) Tbk dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Berdasarkan laporan keuangan semester I-2026, BCA mencatatkan NIM sebesar 5,3 persen atau turun 50 bps dibandingkan posisi akhir 2025.

Baca JugaRisiko Gagal Bayar Mengintai Industri Keuangan

Demikian pula dengan Bank Mandiri yang mencatatkan penurunan NIM sebesar 59 bps, dari posisi akhir 2025 sebesar 5,15 persen menjadi 4,56 persen per Juni 2026. Penurunan ini pun diikuti dengan pemangkasan target NIM pada 2026, dari semula 4,5-4,7 persen menjadi 4,3-4,5 persen.

Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan berpendapat, penurunan rasio NIM industri perbankan tersebut disebabkan oleh kenaikan biaya dana. Ini terjadi seiring dengan naiknya suku bunga acuan yang sepanjang 2026 sebesar 100 bps.

”Namun, bank belum menyesuaikannya dengan kenaikan bunga kredit, mengingat respons yang cepat untuk menaikkan bunga kredit dapat meningkatkan risiko kredit bank. Hal tersebut berdampak pada penurunan NIM,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (29/7/2026).

Menurut dia, penurunan rasio NIM tersebut cenderung berada dalam batas tolerasi perbankan. Dalam hal ini, turunnya NIM dianggap wajar sepanjang risiko kredit bermasalah masih terkendali, dengan target profit yang sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB).

Namun, di tengah rezim suku bunga tinggi seperti saat ini, penurunan NIM tersebut mengindikasikan pertumbuhan kinerja bank akan terhambat pada semester II-2026. Meski demikian, bank-bank berkapitalisasi relatif masih dapat mencatatkan pertumbuhan laba.  

Pada saat yang sama, ia melanjutkan, industri perbankan juga menghadapi tantangan akibat tekanan daya beli masyarakat. Hal ini terindikasi dari pertumbuhan kredit yang masih ditopang oleh jenis kredit investasi dan modal kerja.

Akan terjadi perlambatan penyaluran kredit atau bank akan lebih selektif dalam memberikan kredit.

Mengutip data OJK, penyaluran kredit industri perbankan pada Mei 2026 tumbuh 11,51 persen secara tahunan. Berdasarkan jenis penggunannya, kredit investasi tumbuh tertinggi sebesar 21,95 persen, diikuti oleh kredit modal kerja sebesar 8,09 persen, sedangkan kredit konsumsi tumbuh 5,89 persen.

”Penopangnya masih dari kredit korporasi dan pelemahan daya beli masih menekan ekspansi kredit ritel,” ujar Trioksa.

Maka dari itu, industri perbankan sebaiknya perlu mewaspadai risiko meningkatnya kredit bermasalah (non-performing loan/NPL), khusunya di segmen kredit ritel. Sepanjang 2026, NPL kredit konsumsi cenderung meningkat, dari sebesar 2,33 persen pada Januari 2025 menjadi 2,5 persen pada Mei 2026.

Ia menambahkan, dalam kondisi industri perbankan terimpit dua tantangan sekaligus, dampaknya akan dirasakan oleh masyarakat. “Akan terjadi pelambatan penyaluran kredit atau bank akan lebih selektif dalam memberikan kredit,” imbuhnya.

Baca JugaMeski Tumbuh, Pembiayaan UMKM Kian Menjauh dari Target
Mencari kesempatan

Sementara itu, industri perbankan masih optimistis penyaluran kredit hingga akhir 2026 masih akan tetap tumbuh di tengah berbagai tantangan. BCA, misalnya, tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit pada 2026 dalam RBB sebesar 8-10 persen.

Presiden Direktur BCA Hendra Lembong mengatakan, kinerja BCA pada paruh pertama 2026 ditopang berbagai hal, seperti BCA Expoversary 2026 dan penyaluran kredit produktif ke berbagai sektor. Di sisi lain, penyaluran kredit akan tetap mempertimbangkan prinsip kehati-hatian dan kondisi likuiditas.

“Sebetulnya, apa pun situasinya (suku bunga tinggi), selalu ada kesempatan bagi kami untuk terus memberikan solusi kepada nasabah dan apa pun situasinya, kalau pertumbuhan jumlah nasabah terus baik, harusnya bisnis kami tetap tumbuh,” katanya dalam konferensi pers Paparan Kinerja Semester I-2026, secara daring, Selasa (28/7/2026).

Per Juni 2026, penyaluran kredit BCA mencapai Rp 1.036 triliun atau tumbuh 8 persen secara tahunan. Capaian ini ditopang oleh pendanaan solid, terutama dari pertumbuhan dana murah sebesar 10,2 persen, dengan porsinya mencapai 84,3 persen dari total dana pihak ketiga (DPK).

Secara keseluruhan, BCA membukukan laba bersih secara konsolidasi sepanjang semester I-2026 sebesar Rp 29,5 triliun. Capaian ini tumbuh sekitar 1,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu mencapai Rp 29 triliun.

Transmisi suku bunga tidak besar, secara quarter to quarter (suku bunga kredit) hanya naik sedikit 4 bps. Tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan kenaikan suku bunga sebesar 100 bps, karena kami mengutamakan potensi pertumbuhan yang lebih baik.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim menyampaikan, pertumbuhan kredit BCA masih sesuai dengan target yang ditetapkan dalam RBB. Meskipun suku bunga sudah naik 100 bps, perseroan tetap mengutamakan pertumbuhan yang berkualitas.

“Transmisi suku bunga tidak besar, secara quarter to quarter (suku bunga kredit) hanya naik sedikit 4 bps. Tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan kenaikan suku bunga sebesar 100 bps, karena kami mengutamakan potensi pertumbuhan yang lebih baik,” katanya.

Ke depan, penyaluran kredit BCA masih akan tetap tumbuh sesuai target. Optimisme ini seiring dengan prospek dari beberapa sektor, seperti infrastruktur, teknologi, transportasi, logistik, jasa keuangan, serta perkebunan dan pertanian.

Sebelumnya, Direktur Utama Bank Mandiri Riduan menyampaikan, perkembangan arah suku bunga acuan akan tetap dicermati lantaran akan berpengaruh terhadap dinamika pendanaan, penyaluran kredit, serta aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

“Beberapa hal yang kami cermati pada sisa enam bulan ke depan pada 2026 ini banyak terkait dengan dinamika suku bunga, karena likuiditas tentunya akan terkait dengan pergerakan suku bunga, kemudian stabilitas nilai tukar, serta ketidakpastian global dan domestik,” tuturnya dalam Public Expose Triwulan II-2026 Bank Mandiri, Kamis (23/7/2026), secara daring.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Dugaan Kepemilikan Harta Tak Wajar Kembali Dilaporkan ke KPK, Aset Tersebar di Tiga Provinsi
• 4 jam lalu
0
thumb
Tanpa Sanad Ilmu, Kecerdasan Buatan dapat Mengancam Tradisi Keagamaan
• 3 menit lalu
0
thumb
Grab Ubah Mekanisme Komisi GrabBike Hemat Mulai 1 Agustus
• 6 jam lalu
0
thumb
Prabowo Lantik 1.204 Lulusan IPDN: Rakyat Tak Butuh Birokrasi Berbelit-belit
• 4 jam lalu
0
thumb
Sifat Asli Zodiak Leo dalam Cinta, Karier, dan Pertemanan
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.