Apa Itu Fenomena Bediding? Ini Penjelasan BMKG soal Malam Lebih Dingin meski Siang Terik

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

BEKASI, KOMPAS.com – Belakangan ini, warga Kota Bekasi merasakan perbedaan suhu yang cukup mencolok.

Udara terasa lebih panas pada siang hari, tetapi berubah lebih dingin saat malam hingga dini hari.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, kondisi tersebut merupakan fenomena yang dikenal sebagai bediding, yakni penurunan suhu udara yang umumnya terjadi pada malam hingga pagi hari selama musim kemarau.

Prakirawan Cuaca BMKG Yuni Maharani mengatakan, fenomena bediding merupakan kondisi yang lazim terjadi ketika suhu udara minimum pada malam hingga pagi hari menjadi lebih rendah dibandingkan bulan-bulan lainnya.

"Hal ini karena pelepasan panas dari permukaan bumi pada malam hari berlangsung lebih optimal tanpa adanya awan yang menyelimuti. Kondisi inilah yang sering disebut sebagai bediding," ungkap Yuni dalam keterangan resminya, Rabu (29/7/2026).

Baca juga: Tak Hanya Bekasi, Fenomena Bediding Juga Terjadi di Sejumlah Wilayah Indonesia

Menurut Yuni, fenomena tersebut masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan karena sebagian wilayah di Pulau Jawa telah memasuki musim kemarau yang secara klimatologis diprediksi mencapai puncaknya pada periode Juli hingga September 2026.

"Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dominasi angin timuran dan menguatnya Monsun Australia yang membawa massa udara lebih kering ke wilayah Indonesia selama musim kemarau," jelas Yuni.

Akibatnya, pertumbuhan awan berkurang sehingga hujan menjadi lebih jarang terjadi.

Di sisi lain, penyinaran matahari ke permukaan bumi berlangsung lebih optimal pada pagi hingga siang hari.

"Kondisi ini membuat pemanasan permukaan berlangsung lebih kuat dan suhu siang hari terasa lebih panas, terutama di wilayah dataran rendah, pesisir, dan perkotaan," kata Yuni.

Sebaliknya, ketika malam tiba, minimnya tutupan awan membuat panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer.

Kondisi tersebut menyebabkan suhu udara turun lebih rendah dibandingkan biasanya sehingga udara terasa lebih dingin.

"Kondisi tersebut umumnya terjadi di wilayah selatan khatulistiwa, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), terutama pada kawasan dataran tinggi," ujar Yuni.

Baca juga: Bekasi Panas Menyengat Saat Siang dan Dingin Saat Malam, BMKG: Fenomena Bediding

Meski demikian, dampaknya juga dapat dirasakan di wilayah perkotaan, termasuk Bekasi.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Seiring kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk menyesuaikan aktivitas dengan perubahan suhu antara siang dan malam hari selama musim kemarau.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Tak Terima Ditegur Netizen saat Live, Dua Wanita Diduga ASN ini Beri Jawaban Menohok Berujung Viral di Medsos
• 3 jam lalu
0
thumb
Mongolia Buka Lowongan Kerja bagi Warga Jakarta, Gaji Perhotelan Capai 900 Dollar AS
• 20 jam lalu
0
thumb
BMKG Deteksi Sejumlah Wilayah Diselimuti Awan Cumulonimbus Sepekan ke Depan
• 9 jam lalu
0
thumb
Cara Andien Pilih Sekolah untuk Kawa dan Tabi: Utamakan Kenyamanan dan Libatkan Keputusan Anak!
• 2 jam lalu
0
thumb
Kaesang Tantang Dapil Puan, Hasto PDIP Serahkan ke Guntur Romli
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.