Menjelang HUT RI ke-81, Sejarah Pengasingan Soekarno di Bawah Pohon Sukun di Ende Menarik untuk Disimak Generasi Muda

grid.id
8 jam lalu
Cover Berita

Grid.ID - Menjelang peringatan HUT RI ke-81, kisah pengasingan Presiden pertama RI, Soekarno, di Ende, Nusa Tenggara Timur, menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah bangsa. Selama hampir empat tahun menjalani pengasingan, Soekarno memanfaatkan waktunya untuk membaca, berdiskusi, dan merenungkan masa depan Indonesia.

Masa pengasingan tersebut diyakini menjadi periode yang membentuk pemikiran Soekarno hingga melahirkan gagasan awal tentang Pancasila sebagai dasar negara.

Diasingkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda

Soekarno tiba di Ende pada 14 Januari 1934 bersama istrinya, Inggit Garnasih, ibu mertuanya, Ibu Amsi, serta anak angkatnya, Ratna Djuami. Pemerintah kolonial Belanda mengasingkannya ke daerah tersebut untuk memutus hubungan Soekarno dengan para pendukung perjuangan kemerdekaan.

Selama tinggal di Ende, Soekarno menjalani kehidupan sederhana.

Ia mengisi hari-harinya dengan membaca buku, berkebun, melukis, menulis naskah drama, serta berdiskusi dengan tokoh agama Islam dan pastor Katolik.

Pengalaman itu memperkaya pandangannya tentang toleransi, kebangsaan, dan keberagaman.

Pohon Sukun yang Menjadi Saksi Lahirnya Gagasan Pancasila

Salah satu tempat yang paling lekat dengan kisah pengasingan Soekarno adalah sebuah pohon sukun yang menghadap ke Pantai Ende. Lokasinya sekitar 700 meter dari tempat tinggalnya.

Di bawah pohon tersebut, Soekarno kerap menghabiskan waktu untuk merenung sambil memandang laut lepas. Dari proses kontemplasi itulah lahir gagasan mengenai nilai-nilai yang kemudian berkembang menjadi rumusan Pancasila.

Dalam berbagai catatan, Soekarno menggambarkan suasana laut dan alam Ende sebagai sumber inspirasi yang membantunya memahami makna persatuan, perjuangan, dan ketuhanan.

 

Kini Dikenal sebagai Pohon Pancasila

Setelah Indonesia merdeka, Soekarno kembali mengunjungi Ende pada 1950 dan mengenang pohon sukun yang menjadi saksi perjalanan pemikirannya. Sejak dekade 1980-an, lokasi tersebut dikenal sebagai Pohon Pancasila.

Meski pohon sukun asli telah mati pada 1970-an, pemerintah daerah menanam pohon pengganti di lokasi yang sama. Hingga kini, kawasan tersebut menjadi salah satu situs sejarah yang sering dikunjungi masyarakat dan wisatawan untuk mengenang lahirnya gagasan dasar negara Indonesia sekaligus merayakan HUT RI ke-81.(*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
DPR: UU PIHU Tak untuk Kriminalisasi Jemaah Umrah Mandiri
• 7 jam lalu
0
thumb
Distribusi MBG di Kabupaten Kediri Disetop Sementara usai 211 Siswa Kras Diduga Keracunan
• 5 jam lalu
0
thumb
Rocky Gerung: Londo Ireng Tuh Cuma Ada dalam Imajinasi Prabowo
• 14 jam lalu
0
thumb
Penyaluran Bansos Bakal Diuji Coba Disalurkan di 900 Kopdes Merah Putih
• 6 jam lalu
0
thumb
Teka-teki Kematian Penjaga Rumah Eks Jampidsus Belum Terkuak, DPR Singgung Dugaan Keracunan
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.