Jakarta, tvOnenews.com - Ancaman musim kemarau yang semakin meluas akibat menguatnya fenomena El Nino mulai memicu berbagai bencana hidrometeorologi, mulai dari kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Di tengah meningkatnya potensi kedaruratan tersebut, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memastikan tetap menjalankan fungsi penanganan darurat sesuai mekanisme penanggulangan bencana nasional.
Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengatakan dalam siklus penanganan bencana, Basarnas berada di bawah koordinasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Fokus lembaganya tetap pada tugas pencarian dan pertolongan terhadap korban dalam situasi darurat.
“Basarnas terkait dengan tugas penanganan kedaruratan manusia. Artinya dalam siklus penanganan kebencanaan ini kita di bawah koordinator oleh Kepala BNPB. Mungkin itu ya,” kata Mohammad Syafii di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/2026).
Meski ancaman bencana diperkirakan meningkat seiring meluasnya musim kemarau, Syafii mengatakan hingga saat ini belum ada penambahan fasilitas maupun peralatan khusus di lingkungan Basarnas untuk menghadapi kondisi tersebut.
Saat ditanya mengenai kemungkinan penambahan fasilitas, ia menjawab singkat.
“Oh belum,” tuturnya.
Begitu pula ketika ditanya mengenai rencana penambahan peralatan pendukung operasi penyelamatan
“Belum, belum. Mungkin nanti kalau ada perkembangan kita sampaikan,” tegas dia.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai meningkatnya dampak musim kemarau akibat penguatan El Nino.
Dalam laporan pemantauan Dasarian II Juli 2026, BMKG mencatat musim kemarau telah meluas ke 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 72,8 persen wilayah Indonesia.
BMKG juga melaporkan curah hujan kategori rendah kini mendominasi 92,93 persen wilayah Indonesia. Sementara itu, hampir 90 persen wilayah mengalami sifat hujan di bawah normal, menandakan kondisi kering semakin meluas dan berpotensi memperbesar risiko bencana hidrometeorologi.
Dampak musim kemarau mulai terlihat di berbagai daerah. BMKG mencatat telah terjadi kekeringan di sejumlah wilayah Jawa Tengah pada 24–27 Juli 2026. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan dilaporkan terjadi di Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, hingga Sulawesi Selatan.(agr/raa)





Komentar (0)