Jakarta, CNBC Indonesia - Seberapa kuat ekonomi Indonesia tumbuh pada kuartal II-2026 akan segera terlihat ketika Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data terbaru pada Rabu pekan mendatang (5/8/2026).
Di balik angka tersebut, konsumsi rumah tangga akan menjadi salah satu penentu seberapa besar ekonomi Indonesia bisa melaju. Belanja masyarakat menguasai lebih dari separuh struktur Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan selama ini menjadi penopang terbesar pertumbuhan ekonomi.
Pada kuartal I-2026, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar 54,36% terhadap PDB. Komponen ini tumbuh 5,52% secara tahunan dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 2,94 poin persentase dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61%.
BPS mencatat konsumsi saat itu ditopang momentum Idulfitri, libur nasional, pemberian tunjangan hari raya (THR), diskon transportasi, serta berbagai stimulus pemerintah.
Namun, dorongan tersebut belum tentu berlanjut dengan kekuatan yang sama pada kuartal berikutnya.
Laporan BCA Economic & Industry Research bertajuk Not Much Defence Against the Inflation Horde yang terbit pada 27 Juli 2026 memperlihatkan dua indikator konsumsi justru bergerak ke arah yang berbeda.
Nilai belanja masyarakat masih mengalami kenaikan, tetapi volume barang yang dibeli justru mengalami penyusutan.
Belanja Naik, Barang yang Dibeli MenyusutLaporan tersebut membandingkan Consumer Transaction Index BCA dengan Indeks Penjualan Riil Bank Indonesia.
Consumer Transaction Index menggambarkan pergerakan konsumsi secara nominal atau berdasarkan nilai transaksi. Sementara Indeks Penjualan Riil digunakan untuk melihat pergerakan konsumsi secara riil atau berdasarkan volumenya.
Berdasarkan rata-rata bergerak tiga bulan, Consumer Transaction Index masih tumbuh 6,5% secara tahunan. Sebaliknya, Indeks Penjualan Riil justru terkontraksi 4,2%.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kenaikan nilai belanja masyarakat belakangan ini tidak sepenuhnya berasal dari bertambahnya jumlah barang dan jasa yang dikonsumsi.
Masyarakat masih mengeluarkan uang lebih besar, tetapi sebagian kenaikan itu terjadi karena nilai rata-rata setiap transaksi semakin mahal. Rumah tangga harus membayar lebih banyak untuk mempertahankan jumlah konsumsi yang sama.
Kondisi tersebut memang dapat menopang pertumbuhan ekonomi secara nominal. Nilai transaksi yang lebih tinggi juga berpotensi membantu penerimaan pajak dan mendorong permintaan pembiayaan di perbankan.
Namun, pertumbuhan PDB riil lebih bergantung pada jumlah barang dan jasa yang benar-benar dikonsumsi. Apabila nilai transaksi terus naik tetapi volumenya menyusut, justru daya tahan konsumsi masyarakat akan menjadi semakin terbatas.
Kondisi ini masih dapat bertahan selama rumah tangga mampu menyerap kenaikan harga tanpa mengurangi belanjanya secara besar-besaran. Masalahnya, kemampuan tersebut mulai terkikis.
Dunia Usaha Terjepit Kenaikan Biaya ProduksiTekanan tersebut terlihat dari kesenjangan antara harga input dan harga output industri manufaktur.
Pada Juni 2026, indeks harga input manufaktur Indonesia melonjak hingga 73,8. Sementara indeks harga output berada di level 64,3. Pada saat bersamaan, indeks pesanan ekspor baru turun ke level 40,1.
Kenaikan harga bahan baku yang jauh lebih cepat dibandingkan harga jual membuat margin keuntungan perusahaan semakin tertekan.
Selama setahun terakhir, perusahaan masih memiliki persediaan dalam jumlah besar. Stok tersebut membantu dunia usaha menahan kenaikan biaya dalam jangka pendek, sehingga harga jual kepada konsumen tidak langsung melonjak.
Namun, persediaan itu perlahan mulai menipis. Ketika perusahaan kembali membeli bahan baku dengan harga lebih mahal, terdapat dua pilihan yang sama-sama berat bagi rumah tangga.
Pilihan pertama adalah menaikkan harga jual dan meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen. Langkah ini akan membuat masyarakat harus mengeluarkan uang lebih besar atau mengurangi jumlah barang yang dibeli.
Pilihan kedua adalah menahan produksi karena permintaan belum cukup kuat dan margin keuntungan semakin sempit.
Pengurangan produksi dapat diikuti oleh penurunan kebutuhan tenaga kerja. Kondisi tersebut berisiko menekan pendapatan masyarakat dan semakin melemahkan daya beli.
Tekanan ini datang ketika ruang fiskal pemerintah juga lebih terbatas. Harga minyak yang masih tinggi berpotensi meningkatkan kebutuhan belanja subsidi dan kompensasi, sehingga kemampuan pemerintah memberikan stimulus tambahan untuk menjaga daya beli menjadi lebih kecil.
Pada akhirnya, dunia usaha memiliki ruang yang semakin sempit untuk menahan kenaikan biaya. Sebagian tekanan tersebut berpotensi diteruskan kepada masyarakat melalui kenaikan harga atau berkurangnya kesempatan kerja.
Rumah Tangga Mulai Menggunakan TabunganKetika pendapatan tidak naik secepat harga, rumah tangga biasanya menggunakan tabungan untuk mempertahankan konsumsi.
Pertumbuhan simpanan rupiah memang mulai meningkat, terutama pada kelompok deposan bawah. Sementara itu, kelompok masyarakat yang lebih kaya mulai mengalihkan sebagian dananya ke deposito valuta asing.
Pola tersebut menunjukkan meningkatnya kecenderungan menabung untuk berjaga-jaga menghadapi kenaikan harga. Namun, tabungan yang terkumpul belum cukup tebal untuk menjadi bantalan dalam jangka panjang.
Hasil perhitungan dalam laporan BCA menunjukkan tabungan berlebih kumulatif rumah tangga Indonesia sempat mencapai Rp1.675 triliun pada Maret 2024. Angkanya kemudian terus turun hingga mencapai minus Rp4.439 triliun pada Mei 2026.
Angka minus Rp4.439 triliun bukan menunjukkan saldo tabungan masyarakat berkurang sebesar nilai tersebut. Perhitungannya didasarkan pada selisih antara pertumbuhan deposito aktual dan tren historis.
Posisi negatif menunjukkan pertumbuhan simpanan rumah tangga telah jauh tertinggal dibandingkan pola normal. Sebagian masyarakat diperkirakan terus menggunakan tabungan dan kemungkinan aset lainnya untuk mempertahankan belanja.
Semakin lama tekanan harga berlangsung, semakin kecil pula ruang rumah tangga menggunakan tabungan sebagai penyangga konsumsinya.
Berutang Juga Semakin SulitPilihan lain bagi masyarakat untuk mempertahankan belanja adalah menggunakan utang. Namun, cara ini juga mulai sulit karena bunga pinjaman dan risiko kredit rumah tangga sama-sama meningkat.
Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) rumah tangga naik dari sekitar 2% pada September 2024 menjadi 2,6% pada Mei 2026.
Pada periode yang sama, rata-rata suku bunga dasar kredit konsumsi meningkat dari 10,1% menjadi 10,5%.
Kenaikan NPL membuat bank harus lebih berhati-hati menyalurkan pinjaman kepada rumah tangga. Sementara suku bunga yang lebih tinggi membuat cicilan semakin mahal bagi masyarakat.
Bank juga harus memenuhi kebutuhan pendanaan dunia usaha yang meningkat akibat kenaikan biaya bahan baku. Selain itu, perbankan masih diminta mendukung pembiayaan berbagai program prioritas pemerintah.
Kondisi tersebut menjaga rasio kredit terhadap dana pihak ketiga atau loan to deposit ratio (LDR) tetap tinggi. Kapasitas bank untuk menambah kredit konsumsi pun menjadi semakin terbatas.
Rumah tangga akhirnya menghadapi tekanan dari berbagai arah. Harga naik, tabungan menipis, sementara akses terhadap utang semakin mahal dan ketat.
CNCB INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(evw/evw) Add as a preferredsource on Google





Komentar (0)