Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan sore ini di tengah meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran. Meski demikian, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) serta proses penunjukan gubernur definitif Bank Indonesia (BI).
Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup menguat 26 poin ke level Rp 17.962 per dolar AS, setelah sebelumnya sempat melemah hingga 95 poin. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 18.009 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyatakan penguatan rupiah didorong oleh mulai meredanya eskalasi konflik di Timur Tengah.
Ia menjelaskan, The New York Times melaporkan Presiden AS Donald Trump menghentikan rencana peningkatan operasi militer terhadap Iran setelah bertemu dengan para penasihat utama dan pejabat senior pemerintah. Keputusan tersebut diambil antara lain karena menipisnya persediaan sistem pertahanan udara Pentagon.
Sebelumnya, AS dan Iran terlibat aksi saling serang selama 13 hari berturut-turut. Konflik dipicu serangan Iran terhadap kapal-kapal komersial di sekitar Selat Hormuz yang menggagalkan kesepakatan damai sementara kedua negara pada Juni lalu. Ketegangan semakin meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyerang kapal tanker Arab Saudi di Selat Bab el-Mandeb, sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Di sisi lain, pelaku pasar juga menunggu hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuan berada di kisaran 62%.
Meski demikian, Ibrahim menilai prospek kebijakan moneter masih akan sangat dipengaruhi perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Dalam dua pekan terakhir, harga minyak dunia sempat melonjak sekitar 20% akibat konflik yang melibatkan AS dan Iran terkait Selat Hormuz.
Selain keputusan suku bunga, investor juga menantikan pidato Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh. Menurut Ibrahim, pasar akan mencermati arah kebijakan Warsh setelah sebelumnya menyampaikan pandangan yang cenderung hawkish serta membentuk lima gugus tugas untuk mengevaluasi berbagai aspek operasional The Fed, termasuk strategi komunikasi dan kerangka pengendalian inflasi.
Dari dalam negeri, pasar sempat merespons negatif pengunduran diri Perry Warjiyo sebagai Gubernur BI karena meningkatkan ketidakpastian di tengah tekanan terhadap rupiah, arus keluar modal asing, serta potensi kenaikan suku bunga global.
Namun demikian, Ibrahim menilai penunjukan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai Pelaksana Tugas (Plt.) Gubernur BI memberikan optimisme bahwa bank sentral tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan stabilitas sistem keuangan.
Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada proses penunjukan gubernur definitif Bank Indonesia. Menurut Ibrahim, figur yang memiliki kredibilitas tinggi dan proses transisi kepemimpinan yang berjalan lancar akan menjadi faktor penting dalam menjaga independensi bank sentral serta kepercayaan pasar terhadap kebijakan moneter Indonesia.
Untuk perdagangan besok, Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung ditutup melemah dalam kisaran Rp 17.960 hingga Rp 18.020 per dolar AS.





Komentar (0)