HARIAN.FAJAR.CO.ID, BOGOR-– Berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak Indonesia berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan.
Salah satu Tim Ekspedisi Patriot Universitas Hasanuddin (Unhas) Tahun 2026 bersiap mengabdikan diri di Kawasan Transmigrasi Weri–Saharey, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.
Tim ini merupakan bagian dari 25 tim Universitas Hasanuddin yang dipercaya berpartisipasi dalam Program Ekspedisi Patriot Tahun 2026 yang diinisiasi Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia.
Saat ini, tim tengah mengikuti rangkaian Pembekalan Nasional dan Pelepasan Ekspedisi Patriot di Bogor dan Jakarta.
Kegiatan tersebut menjadi bekal bagi seluruh peserta sebelum diberangkatkan ke berbagai kawasan transmigrasi di Indonesia untuk menjalankan program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat sesuai bidang keilmuan masing-masing.
Ekspedisi Patriot merupakan program yang mempertemukan perguruan tinggi dengan masyarakat di kawasan transmigrasi untuk bersama-sama menghadirkan solusi atas berbagai tantangan pembangunan.
Melalui kolaborasi lintas disiplin, para peserta tidak hanya dituntut menerapkan ilmu pengetahuan, tetapi juga membangun kemitraan dengan masyarakat agar program yang dijalankan mampu memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Di Weri–Saharey, salah satu tim Universitas Hasanuddin mengusung program bertajuk “Pengembangan Pusat Belajar Komunitas (Community Learning Hub) untuk Keberlanjutan Pendidikan Anak di Kawasan Transmigrasi Weri–Saharey.”
Program ini diketuai oleh Dr. Nirwana Permatasari, S.Psi., S.H., M.Pd., M.Psi., Psikolog, dosen Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, bersama anggota tim Geysa Fandrilla, Indriani Amir, Abdul Jabbar, Mira Oktavia, dan Muh. Zaenal.
Program tersebut lahir dari kepedulian terhadap masih adanya kesenjangan akses pendidikan di kawasan transmigrasi.
Keterbatasan akses menuju jenjang pendidikan menengah, belum optimalnya pendampingan belajar, serta keterbatasan tenaga pendidik menjadi tantangan yang dapat menghambat keberlanjutan pendidikan anak setelah menyelesaikan pendidikan dasar.
Melalui pengembangan Community Learning Hub (CLH), tim akan membangun pusat belajar berbasis komunitas sebagai ruang belajar yang dikelola bersama masyarakat.
Program ini mencakup pendampingan belajar nonformal bagi anak-anak, penguatan kapasitas fasilitator belajar lokal, serta penyusunan modul pembelajaran kontekstual yang diharapkan dapat terus dimanfaatkan oleh masyarakat setelah masa penugasan berakhir.
Bagi tim, pengabdian ini merupakan wujud nyata cinta tanah air. Sebab, membangun Indonesia tidak hanya dilakukan melalui pembangunan fisik, tetapi juga dengan memastikan anak-anak di wilayah terdepan, terpencil, dan kawasan transmigrasi memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan mewujudkan cita-citanya.
Usai mengikuti pembekalan dan pelepasan nasional, tim akan bertolak menuju Kabupaten Fakfak untuk memulai pengabdian bersama masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi, kepedulian, dan keberlanjutan, mereka berharap Community Learning Hub dapat menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak sekaligus menjadi warisan pembelajaran yang terus hidup dan berkembang bersama masyarakat Weri–Saharey.
Langkah nyata ini menjadi bukti bahwa akselerasi pemerataan kualitas SDM tidak lagi berpusat di Pulau Jawa, melainkan bergerak masif dari pelosok Nusantara.
Kehadiran para akademisi muda ini bukan sekadar menjalankan tugas pengabdian, melainkan menanam fondasi Indonesia Emas 2045 dari batas timur negeri.
Keberhasilan model Community Learning Hub di Weri–Saharey diharapkan menjadi percontohan nasional bagi kawasan transmigrasi lainnya di seluruh Indonesia.
Ketika pendidikan inklusif dan berbasis komunitas berhasil dihidupkan di tanah Papua Barat, keberlanjutan masa depan anak-anak bangsa bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang sedang diwujudkan bersama. (wis)






Komentar (0)