REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Usai Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatan sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI), posisi pucuk pimpinan Bank Sentral diisi oleh Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti yang merangkap sebagai Pejabat Sementara (PJs) Gubernur BI. Sosok pengganti Perry menjadi tanda tanya publik.
Ekonom dari Universitas Andalas Syafruddin Karimi berpendapat pengganti Perry semestinya adalah sosok yang memiliki pengalaman mendalam di sektor moneter, memiliki pendidikan yang relevan, serta memahami kapasitas institusional Bank Sentral. Secara gambang, ia merujuk pada sosok Juda Agung, eks Anggota Dewan Gubernur periode 2022—2026) yang kini tengah menduduki posisi Wakil Menteri Keuangan RI.
Baca Juga
Rupiah Tertekan Usai Perry Warjiyo Mundur, Investor Masih Berhati-hati
Pjs Gubernur BI Pastikan Belum Ada Rekomendasi Pengganti Perry Warjiyo
BI Jamin Stabilitas Pasar, Pasca Pengunduran Diri Gubernur Perry Warjiyo
“Figur yang paling tepat dipertimbangkan sebagai pengganti Perry Warjiyo ialah Dr. Juda Agung karena ia memiliki kombinasi pengalaman, pendidikan, dan kapasitas institusional yang sangat relevan,” ungkap Syafruddin saat dihubungi Republika, Selasa (28/7/2026).
Menurut pandangannya, Juda Agung tumbuh dari dalam BI, sehingga memiliki pemahaman kebijakan moneter, stabilitas sistem keuangan, nilai tukar, serta instrumen makroprudensial. Juda juga memperluas perspektifnya melalui jabatan sebagai Wakil Menteri Keuangan sejak Februari 2026 lalu.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Latar akademiknya di bidang money, banking and finance dan ekonomi memperkuat fondasi teknokratisnya, sedangkan pengalaman internasional di IMF (International Money Fund) memberinya pemahaman yang luas mengenai arus modal, risiko global, dan respons kebijakan negara berkembang,” terangnya.
Syafruddin menilai, Juda Agung bisa memberikan kepastian arah kebijakan Bank Sentral, di tengah dinamika yang terjadi. Terutama mengenai pergerakan rupiah, yang terpantau telah menembus kembali level Rp 18.000 per dolar AS, dipicu diantaranya oleh pengumuman pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi BI 1.
“Dalam kondisi rupiah berada di atas Rp 18.000 per dolar AS, BI-Rate di 5,75 persen, dan pasar menuntut kepastian arah kebijakan, Juda Agung menawarkan keunggulan penting: ia memahami fiskal dan moneter secara mendalam, tetapi tetap memiliki akar profesional yang kuat dalam dunia kebanksentralan,” tegasnya.
Namun, Syafruddin menekankan, tantangan utamanya ialah membuktikan bahwa pengalaman Juda Agung di Kementerian Keuangan akan memperkuat koordinasi, tanpa mengurangi independensi BI. “Jika ia mampu menjaga batas tersebut, Juda Agung merupakan kandidat yang paling lengkap untuk memulihkan kredibilitas bank sentral dan menghadapi tekanan ekonomi global serta domestik,” terangnya.
Komentar (0)