Country Director Smile Train Kenang Kisah Pilu Bayi Sumbing yang Dibuang di Kebun Sawit

cumicumi.com
1 jam lalu
Cover Berita
































Sebagai Country Director Smile Train Indonesia, beragam kisah pilu dan menyentuh yang ditemui oleh Deasy Larasati ketika mendampingi proses pemulihan pasien bibir sumbing memang tak terhitung jumlahnya. Bahkan, tak sedikit cerita pasiennya, yang benar-benar membekas di hati Deasy.

Ketika hadir sebagai bintang tamu di acara podcast Special Interview yang tayang di kanal Youtube Cumicumi, Deasy Larasati pun berbagi salah satu kisah pilu, yang hingga kini terus terngiang-ngiang di kepala. Kisah tersebut bermula dari penolakan ekstrem yang dialami seorang bayi hanya karena terlahir dengan kondisi sumbing, namun berujung pada kasih sayang yang tak terduga. 

Deasy menjelaskan, bahwa penolakan terhadap anak dengan kondisi sumbing tak jarang datang dari orang terdekat, bahkan dari keluarga kandung sendiri. Salah satu kasus paling ekstrem yang pernah ia saksikan adalah seorang bayi yang sengaja diletakkan begitu saja di bawah pohon kelapa sawit, dibiarkan sendirian tanpa perlindungan hingga tubuhnya dikerumuni semut.

"Saya pernah melihat proses dari itu bagaimana seorang bayi merah diletakkan di bawah pohon kelapa sawit, kebun sawit sudah di sudah dikerumuni semut gitu ya," ungkap Deasy dalam video yang tayang di kanal Youtub Cumicumi

Untungnya, nasib baik masih berpihak pada bayi tersebut. Seseorang berhati mulia menemukannya dan segera membawanya ke pertolongan. Sebuah proses panjang, yang  akhirnya membawa sang bayi untuk sampai ke tangan rumah sakit mitra Smile Train Indonesia.

Baca Juga: Dihina Gurunya Sendiri, Penyintas Bibir Sumbing Ini Justru Makin Kuat

"Kemudian ada orang baik membawa itu. Dia tahu ada program Smile Train di salah satu rumah sakit mitranya Smile Train," jelasnya.

Sejak saat itu, bayi tersebut dirawat oleh para suster di rumah sakit tersebut, dengan bergantian, mereka menjaga dan membesarkannya. Hingga pada akhirnya, dokter yang menangani operasi sumbingnya justru mengambil keputusan yang mengubah hidup bayi itu selamanya.

"Kemudian hari demi hari bayi ini diasuh secara bergantian oleh suster-suster di rumah sakit itu hingga dia besar. Dan kemudian akhirnya dokter yang dokter kami yang mengoperasi anak ini memutuskan mengadopsinya," tuturnya

Kini, anak yang dulu ditinggalkan di kebun sawit tersebut telah tumbuh menjadi remaja. Desi menyebut kondisinya saat ini jauh berbeda dari awal kehidupannya yang penuh penolakan.

 

"Anaknya sekarang cakep banget usianya sudah mungkin sekarang sudah memasuki SMP ya," ujarnya.

Melalui kisah ini, Desi ingin menegaskan bahwa kondisi sumbing bukanlah aib maupun kutukan bagi sebuah keluarga, melainkan celah fisik yang bisa diperbaiki lewat operasi.

"Tidak ada yang salah dengan anak Ibu... Sumbing yang namanya tapi bisa diperbaiki dengan jalan dioperasi," pungkasnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Marc Klok: Indonesia Harusnya Bisa Cetak Gol Lebih Banyak ke Gawang Kamboja
• 12 jam lalu
0
thumb
Danantara Bentuk Housing Jual Aset BUMN yang Belum Laku
• 22 jam lalu
0
thumb
Wamen Lingkungan Hidup Ajak Dunia Usaha Perkuat Penanaman Pohon dan Mangrove demi Jaga Kualitas Udara
• 22 jam lalu
0
thumb
Update Harga BBM Pertamina Juli 2026: Pertamax Turun, Ini Daftar Lengkapnya
• 4 jam lalu
0
thumb
MenPAN-RB Jelaskan 8 Langkah Strategis Transformasi Melayani Negeri
• 18 jam lalu
0
Berhasil disimpan.